Kumparan Logo
Konten Media Partner

DP3AP2 DIY Luncurkan PRIMA GO, Dorong Akses Teknologi bagi Pengusaha Perempuan

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peluncuran layanan Digital Market Hub PRIMA GO oleh DP3AP2 DIY di GIK UGM, Kamis (29/10). Foto: Pandangan Jogja/Tannayu Hangno
zoom-in-whitePerbesar
Peluncuran layanan Digital Market Hub PRIMA GO oleh DP3AP2 DIY di GIK UGM, Kamis (29/10). Foto: Pandangan Jogja/Tannayu Hangno

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY meluncurkan PRIMA GO, layanan Digital Market Hub bagi perempuan rentan anggota Kelompok Ekonomi Produktif (KEP) Desa PRIMA, di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Kamis (29/10).

Peluncuran turut dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X, dan Kepala DP3AP2 DIY Erlina Hidayati Sumardi.

Desa PRIMA (Perempuan Indonesia Maju Mandiri) merupakan program DP3AP2 DIY untuk memberdayakan perempuan di tingkat kalurahan lewat kegiatan ekonomi produktif. Sejak 2021, program ini mendapat dukungan Dana Keistimewaan (Danais) yang dikelola Paniradya Kaistimewan DIY.

Staf Bidang Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan DIY, Yohanes, mengatakan Paniradya memberikan bantuan keuangan khusus setiap tahun untuk pengembangan Desa PRIMA di kalurahan. Yohanes menyebut fungsi Danais bukan sekadar untuk mendanai, tetapi juga memicu kegiatan masyarakat.

“Kita lebih kepada pemberdayaan. Karena banyak desa-desa kita, perempuan itu bagian dari nomor dua. Padahal mereka tulang punggung. Tidak hanya kehidupan, tapi juga perekonomian keluarga kita,” kata Yohanes di sela-sela acara tersebut, Kamis (29/10).

Berdasarkan catatan DP3AP2 DIY, ada 21 persen perempuan yang menjadi kepala keluarga di Desa PRIMA. Namun, peluang mereka meningkatkan skala usaha masih terbatas oleh keterbatasan akses teknologi, informasi pasar, jejaring, pembiayaan, dan pendampingan.

Riwanti, pengusaha telur asin dari Kalurahan Kebonagung, Kapanewon Imogiri, Bantul, penerima pelatihan pemasaran digital dari DP3AP2 DIY. Foto: Pandangan Jogja/Tannayu Hangno

Menurut Kepala DP3AP2 DIY, Erlina Hidayati Sumardi, pemanfaatan pasar digital oleh perempuan pelaku usaha masih terbatas, yakni kurang dari 2 persen untuk masing-masing akun media sosial dan lokapasar. Penyebabnya berlapis, yakni beban ekonomi, tanggung jawab pengasuhan, keterbatasan modal, dan rendahnya literasi digital.

“PRIMA GO hadir sebagai respons atas kebutuhan perempuan pelaku usaha, khususnya perempuan rentan, untuk tidak hanya mampu berproduksi, tetapi juga mampu memanfaatkan pasar digital secara lebih optimal,” kata Erlina dalam sambutannya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menyebut 64,5 persen UMKM di Indonesia dikelola perempuan yang terkendala akses modal, informasi pasar, teknologi, jaringan bisnis, dan pendampingan. Ia juga menyinggung soal peran ganda perempuan, sebab beban pengasuhan masih dianggap tanggung jawab perempuan semata, padahal seharusnya dibagi antara ayah dan ibu.

“Kita harus memastikan bahwa perempuan bisa memulai usahanya bisa bertahan, berkembang dan tentu kita ingin pengusaha-pengusaha perempuan ini naik kelas,” kata Arifah.

Riwanti, pengusaha telur asin dari Kalurahan Kebonagung, Kapanewon Imogiri, Bantul, menjadi salah satu perempuan penerima manfaat PRIMA GO. Lewat pelatihan pemasaran digital, ia kini bisa menjual produknya hingga ke luar Bantul.

“Dulu kan saya kalau jualan cuma di lingkungan sekitar. Terus kan ada pelatihan digital marketing gitu juga toh, alhamdulillah sekarang sampai luar kota. Kan dulu cuma sekitar Bantul saja, sekarang saya pemasarannya sampai Jogja,” tuturnya.