Festisale HUT Kota Jogja Libatkan 58 Hotel dan 22 Pasar, Hadirkan Beragam Promo

Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan pendapatan pelaku usaha meningkat 10-20 persen melalui gelaran Festisale dalam rangka HUT ke-270 Kota Yogyakarta. Program yang berlangsung sepanjang Oktober 2026 itu melibatkan sedikitnya 57 hotel, delapan pusat perbelanjaan, restoran, ritel, serta 22 pasar di Kota Yogyakarta.
Festisale menjadi salah satu rangkaian signature event HUT Kota Yogyakarta ke-270 dengan tema “Otentik Konkrit”. Program ini dirancang untuk mendorong kunjungan sekaligus transaksi masyarakat di tengah periode perdagangan yang cenderung melambat.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar, mengatakan kenaikan pendapatan pelaku usaha menjadi salah satu target dari pelaksanaan Festisale.
“Minimal ada kenaikan sekitar 10 sampai 20 persen dari pendapatannya mereka rutin,” kata Veronica saat ditemui di Balai Kota, Rabu (30/9).
Oktober Masuk Periode Low Season
Menurut Veronica, momentum Festisale diperlukan karena aktivitas perdagangan memasuki periode yang relatif sepi. Kondisi tersebut membuat Pemkot berupaya menjaga aktivitas ekonomi melalui berbagai kegiatan dan promosi selama Oktober.
Hal serupa disampaikan Ketua APPBI Yogyakarta, Anan. Ia mengatakan Oktober termasuk periode low season bagi pusat perbelanjaan, terutama jika dibandingkan dengan momentum belanja seperti Natal dan Tahun Baru, Lebaran, maupun periode penerimaan mahasiswa baru.
“Di bulan Oktober dan sebelum dan sesudahnya, itu kategorinya ada low season. Sehingga traffic dan spending itu ada sedikit ter-adjust ke bawah,” ujar Anan.
Karena itu, menurut Anan, pelaksanaan Festisale menjadi momentum bagi pusat perbelanjaan untuk menawarkan berbagai diskon sekaligus menggelar kegiatan untuk menarik pengunjung.
Libatkan Hotel hingga Pusat Perbelanjaan
Kepala Bagian Perekonomian dan Kerja Sama Kota Yogyakarta, Danang Yulisaksono, mengatakan Festisale merupakan bentuk kolaborasi Pemkot dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong promosi, transaksi, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Berbeda dari pola sebelumnya yang lebih terpusat pada perayaan 7 Oktober, rangkaian HUT Kota Yogyakarta tahun ini berlangsung selama satu bulan, mulai 1 hingga 31 Oktober 2026.
“Festisale ini adalah salah satu cara bagi kami, Kota Yogyakarta, untuk berkolaborasi dengan berbagai stakeholders, terutama pelaku usaha maupun pemangku kepentingan yang lain, dalam rangka mendorong promosi dan tentunya meningkatkan transaksi dan aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Danang.
Dari sektor perhotelan, sebanyak 57 hotel telah bergabung. Promo yang ditawarkan beragam, mulai dari diskon kamar hingga 55 persen, potongan harga makanan dan minuman, paket menginap, spa, hingga berbagai paket bundling.
Sementara itu, delapan pusat perbelanjaan turut berpartisipasi. Sejumlah agenda yang disiapkan antara lain great sale, festival kuliner, street coffee festival, hingga program penghargaan pelanggan.
Partisipasi juga datang dari restoran, pelaku usaha batik dan wastra, pusat oleh-oleh, ritel seperti Alfamart dan Indomaret, hingga pelaku usaha perjalanan dan transportasi.
Danang mengatakan Pemkot berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan HUT Kota Yogyakarta tahun ini.
“Harapannya melalui rangkaian-rangkaian seperti ini menegaskan image Yogyakarta sebagai city of festival, dan ekonomi kita tentu diharapkan dengan bergandengan tangan ini akan semakin terangkat dan semakin baik,” ujarnya.
Gemati Pasar, Belanja Rp20 Ribu Dapat Kupon
Selain Festisale, Pemkot Yogyakarta menyiapkan Gerakan Masyrakat Mencintai Pasar alias Gemati Pasar sebagai bagian dari rangkaian HUT Kota Yogyakarta. Program belanja berhadiah tersebut berlangsung selama 1-31 Oktober 2026 dan menyasar 22 pasar di Kota Yogyakarta.
Melalui program ini, masyarakat yang berbelanja minimal Rp20.000 di pedagang peserta akan memperoleh satu kupon undian digital.
Kupon diberikan melalui barcode yang tersedia di pedagang. Setelah melakukan transaksi, pembeli dapat memindai barcode dan mengisi data melalui formulir digital. Pengundian hadiah juga dilakukan secara digital.
Veronica mengatakan nilai minimal transaksi sengaja diturunkan dari Rp50.000 menjadi Rp20.000 untuk memperluas keterlibatan masyarakat.
“Harapan kami, kalau beli soto di Bu Sum misalnya, sudah dapat satu kupon. Biasanya kan mereka rombongan. Jadi harapan kita, rombongan yang jarang beli ini karena nilainya Rp20.000 mereka kemudian paling tidak bisa membelanjakan uangnya,” ujarnya.
Transaksi yang mendapatkan kupon tidak dibatasi pada pembelian batik atau oleh-oleh. Masyarakat tetap bisa mendapatkan kupon dari pembelian kebutuhan sehari-hari seperti sayur maupun daging, selama pedagang tersebut menjadi bagian dari program Gemati.
Transaksi Dicatat Secara Digital
Veronica mengatakan sistem digital dalam Gemati juga memungkinkan Pemkot mendapatkan data transaksi secara lebih terukur.
Selama ini, kata dia, omzet pedagang relatif sulit dipotret hanya berdasarkan keterangan pedagang. Dengan pencatatan digital dalam program Gemati, transaksi yang terjadi selama program dapat ditelusuri melalui sistem.
“Kalau kemudian sudah tercatat kan kita jadi tahu. Itu salah satu kita memotret untuk perkembangan ekonomi masyarakat seperti apa,” kata Veronica.
Menurutnya, sistem tersebut juga membantu proses pengundian agar lebih transparan. Jumlah kupon tidak dibatasi karena seluruhnya tercatat secara digital.
Hadiah yang disiapkan dalam Gemati antara lain telepon seluler, sepeda, tabungan, dan kupon belanja. Veronica mengatakan jumlah hadiah masih dapat bertambah seiring bertambahnya sponsor.
Pasar Jadi Bagian dari Upaya Dorong Belanja
Veronica mengatakan pelibatan pasar dalam rangkaian HUT Kota Yogyakarta juga berkaitan dengan kondisi perdagangan yang masih menghadapi tantangan daya beli masyarakat.
Ia menyebut pedagang pasar menghadapi persaingan dari pedagang ayam di pinggir jalan maupun pedagang keliling yang menggunakan kendaraan dan mendatangi konsumen langsung ke permukiman.
Pemkot, menurut Veronica, masih mengkaji regulasi yang dapat memberikan perlindungan kepada pedagang pasar. Sementara dalam jangka pendek, salah satu upaya yang dilakukan adalah menghadirkan kegiatan di pasar untuk menarik keramaian.
Sejumlah kegiatan juga diarahkan ke pasar, termasuk kegiatan kebudayaan dan olahraga. Pemkot berharap keramaian tersebut dapat berlanjut menjadi aktivitas belanja.
Veronica mengatakan kondisi pasar tidak seragam. Dari sekitar 12.500 pedagang di pasar-pasar Kota Yogyakarta, sebagian pasar ramai sementara sebagian lainnya masih menghadapi persoalan minimnya pembeli.
Karena itu, Pemkot juga melakukan evaluasi, kurasi, promosi, hingga memberikan kemudahan tertentu bagi pelaku usaha untuk masuk ke pasar.
Di Pasar Sentul dan Terban, misalnya, Pemkot telah memberikan pengurangan retribusi untuk mendorong pelaku usaha masuk dan mengembangkan aktivitas perdagangan.
“Upaya akan terus kami lakukan semaksimal yang bisa kami lakukan. Karena pasarnya jumlahnya 29 dan semuanya enggak semuanya ramai, ini mau PR,” ujar Veronica.
Melalui Festisale dan Gemati Pasar, Pemkot Yogyakarta berharap rangkaian HUT ke-270 tidak berhenti sebagai perayaan, tetapi ikut menjaga aktivitas perdagangan dan mendorong transaksi masyarakat sepanjang Oktober.
