Kumparan Logo
Konten Media Partner

Forum Praksis Seri ke-15 Bahas Relevansi KAA Bandung 1955 Bagi Dunia Global

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Forum Praksis seri ke-15 dihadiri oleh para pakar dan pemerhati geopolitik global. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Forum Praksis seri ke-15 dihadiri oleh para pakar dan pemerhati geopolitik global. Foto: Dok. Istimewa

Forum Praksis seri ke-15 yang digelar di Jakarta pada Jumat (28/11) menghadirkan diskusi mendalam mengenai relevansi Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 bagi dunia global saat ini, terutama bagi negara-negara di belahan bumi Selatan. Mengusung tema “Bandung+70: Membedah Ulang Warisan Geopolitik, Meneropong Dunia Selatan”, forum ini menekankan kembali bagaimana semangat Bandung dapat menjadi dasar kerja sama internasional yang lebih erat dan saling menguntungkan.

Direktur Global Future Institute (GFI) Hendrajit menegaskan sejak awal bahwa KAA bukanlah peristiwa yang hadir secara tiba-tiba. “Konferensi tersebut merupakan kulminasi dari proses panjang,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima redaksi kemarin.

Ia merujuk pada pertemuan Liga Anti-Kolonialisme dan Anti-Imperialisme di Belgia pada 1927 sebagai salah satu titik awal munculnya gagasan mempertemukan negara-negara terjajah.

“Pada kesempatan tersebut bertemulah tokoh-tokoh muda anti-kolonialisme seperti Bung Hatta dan Jawaharlal Nehru,” kata Hendrajit. Ia juga menggarisbawahi Pertemuan Colombo 1954 antara Sri Lanka dan India yang kemudian diperluas oleh Ali Sastroamidjojo untuk mencakup kawasan yang lebih luas.

Hendrajit saat memberi paparan. Foto: Dok. Istimewa

Berbicara tentang konteks KAA itu sendiri, Hendrajit menilai bahwa salah satu aspek penting dalam pidato pembukaan Bung Karno sering kali terabaikan.

“Dengan menyebut beberapa wilayah dan pelabuhan penting, Bung Karno menunjukkan adanya ‘garis-garis hidup imperialisme’ yang perlu dicermati,” ujarnya.

Menurutnya, selama “garis-garis hidup imperialisme” itu masih dikuasai negara-negara bekas kolonial, bangsa-bangsa Asia dan Afrika akan sulit benar-benar terbebas dari cengkeraman kekuatan tersebut.

Hendrajit juga menyoroti perubahan lanskap geopolitik dunia yang kini memperlihatkan pendekatan baru dalam ekspansi pengaruh. “Sekarang ini, dengan menekankan pentingnya dimensi geopolitik, Tiongkok berhasil memperluas pengaruhnya di dunia tanpa harus secara fisik menjajah negara-negara yang dituju,” katanya.

Ia menyebut jaringan dan dominasi ekonomi sebagai instrumen utama, termasuk lewat inisiatif OBOR (One Belt, One Road). “Inisiatif OBOR adalah salah satu contohnya,” tambahnya.

Romo Baskara T. Wardaya saat memberi paparan di Forum Praksis seri ke-15. Foto: Dok. Istimewa

Narasumber berikutnya, sejarawan Baskara T. Wardaya, mengajak peserta untuk melihat KAA melalui perspektif poskolonial.

Merujuk pada Edward Said, Frantz Fanon, dan Gayatri Spivak, ia menggambarkan KAA sebagai sebuah momentum kebangkitan kolektif negara-negara di Asia dan Afrika. “KAA Bandung merupakan sebuah peristiwa sekaligus sebuah gerakan,” tuturnya.

Menurut Baskara, semangat ini bukan hanya historis, tetapi juga mengandung energi politik dan budaya yang tetap relevan saat ini. Baskara mengingatkan bahwa kemerdekaan formal tidak serta-merta menghapus dampak kolonialisme.

“Di negara-negara yang resminya sudah merdeka masih terdapat dampak dan pengaruh kolonialisme,” ujarnya.

Ia memberi contoh dominasi epistemik, yaitu bagaimana negara-negara bekas penjajah masih mendominasi produksi pengetahuan dan implementasinya di negara-negara Dunia Selatan. Selain itu, ia menyoroti pengerukan sumber daya alam yang menurutnya masih dilakukan oleh negara-negara bekas kolonial.

Menurut Baskara, Semangat Bandung sempat meredup pasca-Perang Dingin, tetapi kini menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Ia menyebut semakin eratnya kerja sama ASEAN, inisiatif SCO (Shanghai Cooperation Organization), dan pembentukan jaringan BRICS+ yang telah memasukkan Indonesia sebagai anggota. “Semoga Semangat Bandung terus hidup dan mendorong kerja sama yang semakin erat dan bermartabat di antara bangsa-bangsa di dunia,” ujarnya.

Dalam bagian akhirnya, Baskara membagikan pengalamannya mengikuti rangkaian peringatan 70 tahun KAA Bandung pada Oktober–November 2025 bersama puluhan delegasi dari sekitar 30 negara. Rangkaian acara tersebut dilaksanakan di Jatinangor, Bandung, Surabaya, Blitar, dan Yogyakarta, meliputi konferensi, napak tilas, dan pertunjukan seni. “Di Blitar, acara tersebut dihadiri oleh Presiden kelima RI, yakni Ibu Megawati Sukarnoputri,” kata Baskara. Ia menambahkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan Final Statement berjudul “Bandung at 70 Declaration 2025”, yang dapat diakses melalui tautan resmi penyelenggara.