Gara-Gara Nyamuk Wolbachia, Kota Yogya Cuma Fogging 7 Kali dari Rencana 125 Kali

Konten Media Partner
22 November 2023 18:23 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi petugas sedang melakukan pengasapan (fogging) untuk mencegah demam berdarah. Foto: ANTARA FOTO/Andika Wahyu
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi petugas sedang melakukan pengasapan (fogging) untuk mencegah demam berdarah. Foto: ANTARA FOTO/Andika Wahyu
ADVERTISEMENT
Setelah menyebar nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia ke seluruh wilayah Kota Yogya, kegiatan fogging yang dilakukan Pemkot Yogya menurun drastis. Dari rencana melakukan fogging sebanyak 125 kali, sampai pertengahan tahun ini mereka hanya melaksanakan fogging sebanyak tujuh kali.
ADVERTISEMENT
Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Lana Unwanah.
Ia menjelaskan bahwa sejak 2016 silam, nyamuk-nyamuk Aedes aegypti yang telah diberi bakteri wolbachia telah disebar di wilayah Kota Yogyakarta untuk menekan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
Awalnya, penyebaran nyamuk ber-wolbachia hanya dilakukan di dua kecamatan, yakni Tegalrejo dan Wirobrajan. Namun tahun demi tahun, wilayah penyebaran terus diperluas hingga pada akhir 2020 nyamuk ber-wolbachia telah disebar di seluruh wilayah Kota Yogyakarta.
Saat ini, populasi nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia di Kota Yogyakarta sudah mencapai 80 persen.
Hasilnya, kasus DBD di Yogya dapat menurun sampai 77 persen, sedangkan kasus rawat inap karena DBD turun sebanyak 86 persen.
Dari kiri, Riris Andono Ahmad (Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM); Lana Unwanah ( Kepala Bidang P2P dan SIK Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta); Totok Pratopo(Tokoh masyarakat Kelurahan Cokrodiningratan); Adi Utarini (Peneliti Utama WMP Yogyakarta), saat konferensi pers dampak nyamuk ber-wolbachia di UGM, Rabu (22/11). Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja
Penurunan kasus DBD yang signifikan itu juga membuat Kota Yogya bisa menghemat anggaran sampai ratusan juta yang awalnya dialokasikan untuk penanganan DBD. Misalnya anggaran untuk fogging, awalnya Kota Yogya mengalokasikan anggaran sekitar Rp 246 juta untuk 125 kali fogging di seluruh Kota Yogya.
ADVERTISEMENT
Setelah dilakukan evaluasi pada pertengahan tahun, dari 125 kali fogging yang direncanakan ternyata anggaran yang ada baru terserap untuk tujuh kali fogging. Karena itu, Pemkot Yogya mengalihkan sebagian besar anggaran tersebut untuk penanganan tuberkulosis (TB).
“Dari 125 kali fogging, yang sudah terserap tujuh kali fogging, kami mengalihkan sekitar 100 kali anggaran fogging itu untuk diusulkan ke anggaran perubahan untuk penanganan tuberkulosis,” kata Lana Unwanah di UGM, Rabu (22/11).
Dengan mengalihkan 100 kali anggaran fogging tersebut, Kota Yogya telah menghemat anggaran sekitar Rp 200 juta.
“Jadi sekitar Rp 200 juta itu kami masukkan dalam rencana anggaran perubahan dan Alhamdulillah saat ini sudah disahkan oleh DPRD,” ujarnya.
Kota Yogya tetap mengalokasikan anggaran untuk beberapa kali fogging di sisa tahun 2023 dengan pertimbangan di akhir tahun akan memasuki musim penghujan. Adanya musim penghujan membuat risiko DBD lebih tinggi sehingga tetap harus ada anggaran cadangan untuk melakukan fogging.
ADVERTISEMENT
“Karena kami tidak berani kalau betul-betul melepaskan karena menjelang akhir tahun ini mulai masuk musim penghujan, kalau-kalau masih ada kasus jadi kami masih punya anggaran fogging,” kata Lana Unwanah.