Kumparan Logo
Konten Media Partner

Guru SD di Sleman Disabet Parang Wali Murid, Polisi Sebut karena Miskomunikasi

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pembacokan. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pembacokan. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan

Seorang guru SD di Turi, Sleman, berinisial HK (40) diduga dianiaya wali murid menggunakan senjata tajam, Jumat (25/9) sekitar pukul 12.30 WIB. Korban mengalami luka pada lengan kiri saat berusaha menangkis sabetan yang mengarah ke lehernya.

Kasi Humas Polresta Sleman, Iptu Argo Anggoro, mengatakan polisi telah mengamankan terduga pelaku, yakni seorang wali murid berinisial TM alias S (44). Polisi juga menyita barang bukti berupa parang sepanjang sekitar 80 sentimeter.

“Betul, korban merupakan salah satu guru di sekolah tersebut,” kata Argo saat dihubungi awak media, Senin (28/9).

Berdasarkan keterangan awal yang diterima polisi, peristiwa bermula ketika HK bersama sejumlah guru berada di area sekolah. Korban melihat terduga pelaku membawa senjata tajam, lalu mendekatinya.

Terduga pelaku kemudian mengayunkan senjata tajam ke arah korban. HK berusaha menangkis serangan menggunakan tangan kiri hingga mengalami luka pada lengannya.

Argo mengatakan, dugaan penganiayaan tersebut berawal dari miskomunikasi terkait persoalan anak terduga pelaku di sekolah. Menurut keterangan yang diterima polisi, persoalan itu sebelumnya telah diselesaikan secara kekeluargaan.

“Awalnya terjadi miskomunikasi terkait anak dari Pelaku yang diduga mengambil jajanan di kantin. info yang kami dapat, anak pelaku merupakan anak berkebutuhan khusus. Perkara masih dalam penanganan dan pendalaman kepolisian,” kata Argo.

Pihak sekolah sebelumnya telah memanggil ibu dari anak tersebut. Setelah persoalan dinyatakan selesai, ibu anak itu menghubungi suaminya.

“Sebelumnya ibu dari anak tersebut sudah dipanggil pihak sekolah dan persoalan telah diselesaikan kekeluargaan serta dinyatakan selesai, setelah itu ibu menelpon suaminya diduga terjadi miskomunikasi,” kata Argo.

Polisi masih mendalami rangkaian kejadian dan persoalan yang melatarbelakangi dugaan penganiayaan tersebut.