HIV/AIDS Global Meningkat, Peneliti UGM: Pekerja Seks-Pasangan Gay Paling Rentan

Konten Media Partner
25 November 2022 19:19
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi HIV/AIDS. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi HIV/AIDS. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
HIV dan AIDS masih menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi dunia kesehatan secara global, termasuk di Indonesia. Selain jumlahnya yang terus meningkat, sampai saat ini juga belum ditemukan obat yang terbukti ampuh untuk menyembuhkan AIDS.
ADVERTISEMENT
Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yanri Wijayanti Subronto, mengatakan bahwa berdasarkan studi terbaru pada 2021, tercatat masih ada 33,9 hingga 43,8 juta total kasus HIV/AIDS di seluruh dunia.
“Kemudian ada 1,5 juta kasus baru setiap tahun dan 650.000 kasus meninggal karena AIDS setiap tahun di dunia,” kata Yanri Wijayanti Subronto dalam Gadjah Mada International Conference on Tropical Medicine (GAMA-ICTM) 2022 yang digelar secara virtual pekan lalu.
Sementara di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga Juni 2022 tercatat masih ada 519.158 orang yang terinfeksi HIV di seluruh Indonesia.
Lebih lanjut, Yanri mengungkapkan ada beberapa kelompok masyarakat yang paling rentan terpapar HIV. Tiga kelompok utama yang paling banyak terpapar HIV secara global menurut dia di antaranya adalah pekerja seks komersial, pengguna narkoba suntik, serta laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki lain.
ADVERTISEMENT
“Secara global kelompok yang paling banyak terinfeksi adalah pekerja seks, pengguna narkoba suntik, dan laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki lain,” kata dia.
Selain tiga kelompok itu, kelompok lain yang juga rentan terinfeksi HIV adalah pasangan waria, serta klien pekerja seks dan pasangan seks.
Simposium GAMA-ICTM 2022. Foto: UGM
zoom-in-whitePerbesar
Simposium GAMA-ICTM 2022. Foto: UGM
Untuk mengatasi masalah ini, Yanri mengatakan bahwa dibutuhkan strategi triple 95 persen. Artinya, 95 persen orang yang hidup dengan HIV harus tahu statusnya, kemudian 95 persen dari mereka yang mengetahui statusnya harus menerima pengobatan, serta 95 persen dari yang menerima pengobatan adalah virally suppressed.
“Sayangnya masih ada celah untuk mencapai 95 persen ini di setiap titik,” ujar Yanri Wijayanti Subronto.
Peneliti dari Universitas Udayana, Pande Putu Januraga, dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa untuk mengakhiri penularan HIV dan AIDS, maka hal yang paling penting adalah tes HIV. Baru setelah tes berhasil dilakukan, tinggal fokus pada perawatan sebagai langkah selanjutnya.
ADVERTISEMENT
“Tanpa tes maka tidak akan diketahui siapa saja yang terinfeksi HIV sehingga meningkatkan risiko penyebaran,” ujar Pande Putu.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020