Indonesia Akan Bangun Pabrik Soda Abu Pertama, Yogya Bisa Ambil Peran Penting
·waktu baca 3 menit
Apa peran yang bisa diambil oleh Kota Yogyakarta? Dosen sekaligus Kepala Jurusan Teknik Kimia UPN Veteran Yogyakarta, Adi Ilcham, menjelaskannya. #publisherstory

Pabrik soda abu atau natrium karbonat (Na2CO3) pertama di Indonesia akan dibangun di bawah Petrokimia Gresik dan digadang-gadang akan memperkuat industri kimia nasional. Meski lokasi pembangunan pabrik tidak berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tapi Yogya punya potensi untuk mengambil peran penting dalam perkembangan industri kimia terutama setelah dibangunnya pabrik soda abu tersebut.
Apa peran yang bisa diambil Yogya? Dosen sekaligus Kepala Jurusan Teknik Kimia UPN Veteran Yogyakarta, Adi Ilcham, mengatakan bahwa soda abu dapat digunakan untuk bahan baku pembuatan berbagai jenis produk mulai dari makanan, pembersih, tekstil, keramik, hingga baterai. Sebagai kota wisata, Yogyakarta menurutnya bisa menjadi penyerap soda abu untuk industri makanan dan minuman.
“Karena salah satu pendapatan terbesarnya kan dari kuliner, perhotelan, dan sebagainya,” ujar Adi Ilcham, pekan lalu.
Banyak jenis makanan yang berbahan baku soda, seperti minuman atau kue-kue yang membutuhkan baking soda. Nantinya, kebutuhan soda abu bisa dipasok dari pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2024 itu.
Selain menjadi penyerap soda abu untuk industri kuliner, Jogja juga bisa menjadi penyuplai bahan baku pembuatan soda abu. Industri garam di Gunungkidul misalnya, menurutnya bisa menjadi pemasok bahan baku. Sebab, soda abu terbuat dari natrium yang bisa dihasilkan dari NaCl atau natrium clorida.
“Di Gunungkidul kan sudah ada pabrik garam yang kini tidak terlalu hidup,” lanjutnya.
Dengan adanya pabrik soda abu, bisa saja pabrik garam di Gunungkidul diaktifkan kembali sebagai pemasok bahan baku soda abu tersebut.
Yogya juga punya potensi besar sebagai penyedia sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, mengingat banyaknya kampus atau perguruan tinggi yang ada di DIY, terutama kampus-kampus yang memiliki jurusan teknik kimia. Apalagi sebagai pabrik baru, tentunya nantinya pabrik soda abu ini akan membutuhkan banyak tenaga kerja.
“Pasti butuh banyak tenaga kerja, terutama tenaga menengah untuk teknis misalnya untuk mengoperasionalkan mesin,” ujar Adi.
Adi Ilcham melihat rencana pembangunan pabrik soda abu ini sebagai kemajuan dalam industri kimia dalam negeri. Apalagi, sampai saat ini seluruh kebutuhan soda abu Indonesia masih disuplai dari produk impor, dimana kebutuhan soda abu Indonesia saat ini mencapai 1 juta ton dalam setahun.
Pabrik baru ini, digadang-gadang dapat memenuhi sekitar 30 hingga 40 persen kebutuhan ini. Menurut Adi ini akan berdampak sangat positif terutama untuk industri-industri kimia yang relevan karena sangat mungkin harga soda abu yang dihasilkan memiliki harga jauh lebih murah. Sehingga nantinya industri hilir bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar jika bisa mendapatkan bahan baku dengan harga lebih murah.
“Saya kira memang sangat penting dan perlu untuk dibangun pabrik soda abu ini,” ujar Adi Ilcham.
