Influencer di-Blacklist Pengusaha FnB Jogja, Apakah Review Harus Selalu Positif?
·waktu baca 3 menit

Tiga hari ini ramai di media sosial seorang influencer kuliner di Jogja, @debiprt_ di-blacklist oleh sejumlah pelaku usaha kuliner karena konten review yang ia buat. Pasalnya, kontennya dinilai negatif sehingga berdampak buruk bagi bisnis kuliner yang ia review.
Apalah konten review makanan di warung atau restoran harus selalu positif?
Dosen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Syaifa Tania, pada Kamis (3/10), menilai masalah konten @debiprt_ bukan semata-mata disebabkan karena reviewnya bermuatan negatif. Ia menilai, masalah utamanya justru terletak pada cara @debiprt_ beretorika.
Ada tiga aspek penting dalam retorika yang menurut dia harus menjadi perhatian: kredibilitas, emosi, dan logika. Kredibilitas terkait dengan apakah influencer tersebut memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tersebut, atau bisa juga dilihat dari rekam jejaknya saat membuat konten-konten sebelumnya.
Sedangkan emosi berhubungan dengan pemilihan diksi yang dapat mempengaruhi emosi seseorang yang menikmati kontennya. Syaifa menilai, banyak diksi-diksi @debiprt_ yang terlalu keras dan sensasional sehingga memicu reaksi negatif.
“Kadang-kadang kita melihatnya harus transparan sebagai influencer, harus otentik, tapi di sisi lain juga harus menjaga etika. Misalnya begini, ada gaya bahasa yang bisa dipakai, misalnya ‘rasanya keasinan’, bisa diganti dengan ‘mungkin buat teman-teman yang suka asin makanan ini akan cocok’, daripada ngomong ini keasinan,” papar Syaifa Tania saat dihubungi Pandangan Jogja, Kamis (3/10).
“Itu kan masalah retorika berbahasa. Tetap bisa menjaga otentisitas, tetap bisa jujur dan transparan, tetapi tidak harus brutal juga caranya,” lanjutnya.
Terkait dengan aspek logika, Syaifa juga menilai ada beberapa kalimat @debiprt_ dalam kontennya yang substansinya tidak sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan.
“Misalnya disampaikan bahwa rawon tapi bukan tinta cumi, itu kan dua hal yang sebetulnya logikanya itu tidak berkaitan,” ujarnya.
Dengan memenuhi tiga aspek retorika tersebut, maka seorang influencer menurutnya bisa membuat konten yang lebih baik. Ia bisa tetap otentik dan transparan tanpa harus merugikan pemilik usaha. Sedangkan konsumen juga tidak akan merasa tertipu, jadi tidak ada pihak yang dirugikan.
Hal serupa disampaikan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono. Ia memahami bahwa setiap influencer ingin memberikan ulasan yang jujur. Namun, apa yang disampaikan @debiprt_ menurut dia kurang beretika sehingga memicu polemik.
“Jadi, saya kira influencer itu sebenarnya ingin sesuai dengan kenyataannya, mungkin, ya. Tapi, tidak boleh terlalu vulgar,” kata Deddy Pranowo.
“Mungkin influencer itu berniat baik, hanya saja kurang tepat,” lanjutnya.
Influencer kata dia juga bisa langsung menyampaikan kritiknya kepada pemilik usaha, sehingga pelaku usaha juga bisa memperbaiki kekurangannya.
“Pengusaha juga harus bisa menerima kritik yang membangun untuk memperbaiki diri,” ujar Deddy.
Rabu (2/10) kemarin, influencer @debiprt_ telah mengunggah permintaan maaf dan klarifikasinya atas permasalahan ini. Ia juga telah bertemu secara pribadi dengan pemilik Warung Makan Mamiku, salah satu tempat makan yang pernah ia ulas.
Dalam klarifikasi yang diunggah di media sosialnya, Debi juga meminta maaf kepada warung-warung makan lain yang merasa dirugikan karena konten review-nya.
“Saya tidak ada niat dan maksud sedikitpun untuk menjatuhkan maupun merugikan siapapun. Saya berjanji tidak akan mengulangi hal serupa ke warung lain. Maaf atas kegaduhan yang terjadi,” tulis Debi.
