Ingin Jadi Pusat Fesyen Dunia Kayak Paris dan New York, Jogja Punya Apa?
·waktu baca 3 menit

Yogyakarta bertekad menjadi pusat fesyen dunia (world fashion capital) pada tahun 2028 mendatang. Jika tekad itu terwujud, maka Yogya akan jadi seperti New York, London, Paris, Milan, Tokyo, atau Shanghai, yang kini telah berstatus sebagai pusat fesyen dunia.
Visi menjadi pusat fesyen dunia juga telah dijadikan sebagai tema utama dalam gelaran Jogja Fashion Week 2023, fashion show tertua di Indonesia yang telah dibuka di Jogja Expo Center pada Kamis (9/11) kemarin.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Syam Arjayanti, mengakui bahwa tujuan itu tak akan gampang untuk diraih.
“Tapi sulit bukan berarti tidak mungkin,” kata Syam Arjayanti kepada Pandangan Jogja, Kamis (9/11).
Sebagai penyandang status Kota Batik Dunia, Yogya menurutnya punya potensi besar untuk menjadi pusat fesyen dunia. Karena itu, batik mesti jadi domain utama dalam pengembangan fesyen di Yogya.
“Paling tidak kita menjadi salah satu tujuan bahwa kita sebagai pusat fesyen dunia seperti Paris, New York, atau kota-kota lain yang sudah terkenal,” ujarnya.
Anggota Dewan Pembina Yayasan Batik Indonesia (YBI) yang pernah menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI, Rahardi Ramelan, juga mengatakan batik sebagai modal kuat Yogya untuk bisa bersaing sebagai pusat fesyen dunia.
Selain itu, Yogya juga punya akar budaya dan para perajin produk-produk turunan fesyen seperti perhiasan, sepatu, tas, dan aksesoris lain yang andal.
Ia mengapresiasi keberanian Pemda DIY yang mulai mencetuskan untuk jadi pusat fesyen dunia melalui JFW tahun ini. Tapi itu saja tak cukup, tahun depan gelaran JFW 2024 menurutnya juga harus dikolaborasikan dengan Biennale Jogja Kota Batik Dunia.
“Harus dijadikan satu supaya lebih kokoh. Saya rasa kemungkinannya besar. Saya sangat optimis bahwa ini bisa jalan, asal betul-betul kita menyiapkan, jadi ekosistemnya harus dibangun,” kata Rahardi Ramelan.
Apalagi saat ini sudah ada sejumlah gedung-gedung tua yang telah diakuisisi oleh Pemda DIY, salah satunya eks Hotel Mutiara yang ada di kawasan Jalan Malioboro. Gedung-gedung tua itu mesti bisa dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan fesyen di Yogya.
Untuk mempercepat tercapainya tujuan jadi pusat fesyen dunia, gelaran JFW tahun-tahun mendatang juga perlu terus melakukan inovasi-inovasi berskala internasional.
“Saya menyarankan kalau perlu Jogja Fashion Week yang akan datang mengundang satu desainer terkenal dari Italia untuk ikut, atau tiga orang modelnya dari Uzbekistan yang cantik-cantik,” ujarnya.
Tanpa ada peserta dari luar negeri, baik desainer maupun model, maka Yogya hanya akan dianggap sebagai jago kandang saja. Di sisi lain, kehadiran peserta dari luar negeri juga bisa memacu desainer-desainer lokal untuk terus berinovasi supaya bisa bersaing di level internasional.
Tapi untuk menjadi pusat fesyen dunia tak cukup dengan event fashion show level internasional. Jika melihat kota-kota lain yang telah menjadi pusat fesyen dunia, ada sejumlah syarat lain yang harus dipenuhi Yogya.
Misalnya, setiap kota yang jadi pusat fesyen dunia selalu memiliki banyak museum fesyen. New York bahkan telah memiliki perguruan tinggi khusus untuk fesyen, yakni Fashion Institute of Technology.
“Kemudian mereka punya tempat-tempat yang dikhususkan untuk fesyen. Ini semua harus mulai kita pikirkan juga untuk bisa jadi world fashion capital,” kata Rahardi Ramelan.
