Jejak Dae Jang Geum: Restoran Korea di Jogja yang Mirip Drakor “Bon Appétit”
·waktu baca 4 menit

Viralnya drama Korea “Bon Appétit, Your Majesty” belakangan ini menghadirkan nostalgia tersendiri bagi Hejin Zulvy Izzabilla, pemilik restoran Dae Jang Geum yang pernah berdiri di kawasan Palagan, Sleman, Yogyakarta, pada 2011–2021.
Drama yang menampilkan menu khas Korea itu mengingatkannya pada masa ketika keluarganya menghadirkan cita rasa dan budaya Negeri Ginseng lewat restoran bernuansa Dinasti Joseon di tengah kota pelajar.
“Belakangan ini saya baru nonton drama Netflix Bon Appétit itu yang ada Yoona SNSD. Waktu nonton itu jujur nggak expect, kayak kok mirip banget sama Dae Jang Geum. Saya punya kayak flashback aja gitu,” kata Hejin saat ditemui Pandangan Jogja di Hovia Coffee and Treats, Kota Yogyakarta, Rabu (22/10).
“Ada tema Joseon, bahkan bajunya pelayannya pakai baju mirip banget sama seragam pelayan Dae Jang Geum dulu, menunya beberapa,” sambungnya.
Beberapa menu di antaranya juga muncul dalam serial Bon Appétit, Your Majesty, seperti Bibimbap Gochujang Butter, Sup Doenjang, Dongnae Pajeon, Samgyetang Yyam Ogolgye, hingga tampilan pakaian para pemeran drama yang mirip dengan suasana Dae Jang Geum pada masanya.
Berdiri Sejak 2011, Diresmikan Sultan HB X
Restoran Dae Jang Geum berdiri sejak 2011 dan diresmikan langsung oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Berdiri di lahan sekitar 1–2 hektare, resto ini disebut menjadi salah satu restoran Korea terbesar di Yogyakarta pada masanya.
“Papa saya itu kebetulan pengen memperkenalkan dan membawa budaya Korea itu, gimana caranya biar masuk ke Jogja. Karena jujur, waktu itu Korea tuh masih awam, belum seperti sekarang. Kalau saya lihat, papa saya sangat visioner waktu itu,” ujar Hejin.
“Jadi kenapa memang pengen memperkenalkan budaya dan masakan Korea itu ya karena kerinduan ayah saya sama kedua orang tuanya dan budaya Korea karena sudah lama di Indonesia,” tambahnya.
Resto ini memiliki 53 menu makanan Korea dan 15 menu khas Indonesia. Ornamen interior, alat makan, dan peralatan masak dibeli langsung dari Korea. Seluruh karyawan mengenakan hanbok, dan pengunjung bisa menyewa busana itu untuk berfoto di area resto.
Ide Awal: Dari Perjalanan ke Lokasi Syuting “Dae Jang Geum”
Hejin menuturkan, ide awal membangun resto muncul setelah perjalanan keluarganya ke Korea Selatan pada 2009.
“Sepulang saya dari liburan ke Korea tahun 2009 itu sama keluarga, saya sempat mampir ke set-nya Dae Jang Geum, kayak di kuil-kuil gitu. Lalu saya kepikiran, gimana kalau kita bikin restoran kayak model kayak gini di Jogja,” katanya.
Selain kuliner, Dae Jang Geum menjadi proyek keluarga untuk mengenalkan budaya Korea di Indonesia. Hampir semua bumbu diimpor langsung dari Korea, dan sebagian bahan dibuat sendiri.
“Seasoning-nya tuh semua kita impor yang memang otentik, jajangmyeon-nya aja, mienya bikin sendiri, tahu bikin sendiri, tok pun juga bikin sendiri. Bahan yang paling susah dulu tuh kita cari tuh chunjang, bahan utamanya jajangmyeon. Kita sampai impor dan sering kehabisan karena demand-nya banyak tapi stoknya sedikit,” ujarnya.
Menu favorit anak muda adalah Ca Jang Myeon, Campong, dan Teog Pok Ki, sementara keluarga lebih memilih Galbichim, Dubu Kimchi, dan Bul Go Gi.
Tutup pada 2021, Kini Hanya Tanah Kosong
Perjalanan panjang Dae Jang Geum berhenti pada 2021. Hejin mengatakan, salah satu penyebabnya adalah pergantian manajemen pada akhir 2020 yang memengaruhi kualitas rasa masakan.
Pantauan Pandangan Jogja di lokasi, area tersebut kini hanya berupa tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar.
“Banyak di drama itu yang mirip sama menu kami dulu. Rasanya kayak flashback, andai masih ada, pasti saya bikin lagi yang bisa memperkenalkan Korea di Jogja,” ujarnya.
Hejin menyebut banyak warganet masih meninggalkan komentar nostalgia di akun media sosialnya. Namun, pembukaan kembali resto belum menjadi prioritas.
“Untuk sekarang jujur belum jadi prioritas untuk buka lagi karena kami masih ada kepentingan lain di usaha lain. Lalu koki utama sudah meninggal, jadi kami masih mempertimbangkan itu,” katanya.
“Tapi kalau suatu saat buka lagi tunggu aja,” ujarnya.
