Food & Travel
·
20 Maret 2021 11:06

Jejak Kiai Sombomerti di Derasnya Air Sendang Sombomerti, Maguwoharjo, Sleman

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
Jejak Kiai Sombomerti di Derasnya Air Sendang Sombomerti, Maguwoharjo, Sleman (17663)
Sendang Sombomerti. Foto: Widi Erha Pradana.
Ada air yang mengalir deras di Sendang Sombomerti di Dusun Sombomerten, Kelurahan Maguwoharjo, Depok, Sleman. Selain flora fauna di sekitar, ada sejarah panjang berkelindan bersama derasnya air: yakni kisah Kiai Sombomerti.
ADVERTISEMENT
Mari kita mulai dari kisah pohon-pohon. Demikian, di sekitar sendang, terdapat dua pohon utama yang paling besar, yakni randu alas (Bombax ceiba) dan preh (Ficus ribes Reinw).
Tak ada yang tahu, kapan dan siapa yang menanam dua pohon besar itu, yang pasti dua pohon itu sudah berusia ratusan tahun.
“Kita cuma tahu dari mulut ke mulut, sejak saya kecil kan juga sudah ada pohon-pohon ini,” kata Martono, 51 tahun, pengelola Sendang Sombomerten, Maret 2021.
Jejak Kiai Sombomerti di Derasnya Air Sendang Sombomerti, Maguwoharjo, Sleman (17664)
Randu alas di Sendang Sombomerti. Foto: Widi Erha Pradana.
Dua pohon besar ini dipercaya turut berkontribusi besar dalam menjaga mata air Sendang Sombomerti sehingga sampai sekarang tidak pernah kering meski di musim kemarau panjang. Bahkan untuk mengisi kolam ukuran sekitar 7 meter x 20 meter dengan kedalaman 2 meter, mata air tersebut hanya butuh waktu semalam saja.
ADVERTISEMENT
Ketika musim kemarau sekitar Mei, pohon preh besar yang tepat berada di atas sendang akan menggugurkan daunnya sampai habis. Meski menyisakan PR besar untuk membersihkan daun-daun kering yang masuk ke kolam, tapi hal itu memberikan nuansa berbeda di Sendang Sombomerti.
“Kalau daunnya rontok itu kayak pas musim gugur di Jepang,” kata Martono.
Menurut Martono, kakek-nenek mereka sejak dulu berpesan untuk tidak menebang dua pohon besar itu. Alasannya, karena di pohon tersebut ada penunggu yang tidak kasat mata. Tapi menurut Martono, ada maksud lain dari nenek moyang mereka kenapa tidak boleh menebang pohon tersebut, karena pohon-pohon itulah yang di masa mendatang akan menjaga kehidupan mereka, yakni air. Tanpa ada bumbu-bumbu mistis begitu, mungkin sudah sejak lama pohon-pohon itu ditebang karena alasan ekonomi.
Jejak Kiai Sombomerti di Derasnya Air Sendang Sombomerti, Maguwoharjo, Sleman (17665)
Pohon preh di Sendang Sombomerti. Foto: Widi Erha Pradana.
Selain dua pohon itu, di sekitar sendang juga tumbuh berbagai macam pohon yang menjadikan suasana semakin sejuk. Di antaranya berbagai jenis bambu, pohon bendo, kolang-kaling, wuni, puyang, serut, gadung, monstera jawa, kemuning, dan masih banyak lagi.
ADVERTISEMENT
“Itu tumbuh sendiri, pohon-pohon hutan lah,” ujarnya.
Banyaknya pepohonan yang tumbuh di sekitar sendang juga membentuk ekosistem tersendiri. Berbagai jenis satwa akhirnya tinggal dan berkembang di sana. Sejumlah burung berkicau setiap hari, seperti burung pleci, kutilang, dan prenjak. Ketika malam, burung cangkang awu dan burung hantu juga kerap terlihat.
“Tidak boleh diburu, kalau ada yang ketahuan memburu dengan cara apapun akan kena denda Rp 500 ribu per ekor,” ujarnya.
Tak hanya berbagai jenis burung, satwa-satwa liar lain juga masih kerap dijumpai di sekitar sendang. Mulai dari bajing, biawak, sampai regul. Untuk jenis ikan, beberapa jenis ikan asli yang masih sering terlihat di antaranya wader, kotes, belut, serta lele lokal.
Saat ini, Sendang Sombomerti jadi tempat wisata yang ramai sekali. Namun warga ingin terus menjaga sendang sealami mungkin.
ADVERTISEMENT
“Jadi meski kita bangun wisata, kita usahakan untuk tetap sealami mungkin, hewan-hewan dan tumbuhan tetap bisa hidup di sini karena memang mereka yang lebih dulu ada di sini,” kata Martono.
Menyusun Puing-puing Sejarah yang Hilang
Jejak Kiai Sombomerti di Derasnya Air Sendang Sombomerti, Maguwoharjo, Sleman (17666)
Pokdarwis Sombomerten yang juga Ketua RW setempat, Muhammad Nasir. Foto: Widi Erha Pradana.
Ada satu tugas besar yang saat ini dikerjakan oleh masyarakat Sombomerten, yakni menelusuri sejarah kampung halaman mereka.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sombomerten yang juga Ketua RW setempat, Muhammad Nasir, meyakini, Sendang Sombomerti memiliki nilai sejarah yang luhur, sebab tak jauh dari lokasi sendang terdapat puing-puing berupa batu bata kuno.
Selain itu, terdapat juga makam kuno yang kini sudah dipindahkan ke tempat pemakaman umum beberapa tahun yang lalu. Sampai sekarang tidak ada yang tahu, siapa gerangan pemilik makam tersebut. Tapi masyarakat setempat yakin, makam tersebut punya sangkut paut dengan nenek moyang mereka yang pertama kali tinggal di Sombomerten, yakni Kiai Sombomerti.
ADVERTISEMENT
“Sekarang makamnya sudah dipindahkan, kita satukan dengan pemakaman umum,” ujar Muhammad Nasir.
Jejak Kiai Sombomerti di Derasnya Air Sendang Sombomerti, Maguwoharjo, Sleman (17667)
Sendang sombomerti ramai oleh anak-anak setiap sore hari. Foto: Widi Erha Pradana.
Beberapa tahun lalu, kata Muhammad Nasir sempat ada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta yang datang ke kampung mereka. Abdi Dalem tersebut kemudian bercerita, bahwa nama kampung mereka: Sombomerten, diambil dari nama tokoh yang pertama kali meninggali tempat tersebut, yakni Kiai Sombomerti.
Dulu, Keraton Yogyakarta mengutus dua orang Abdi Dalem untuk merawat daerah di dekat Dusun Sombomerten, yakni Ki Demang dan Ki Puger. Ki Demang diutus untuk merawat wilayah yang kini dikenal dengan nama Dusun Demangan, sedangkan Ki Puger diutus untuk mengelola Dusun Pugeran.
Ki Demang dan Ki Puger kemudian mengajak Abdi Dalem Keraton lain, yakni Ki Sombomerti yang kemudian memegang wilayah yang kini dikenal dengan nama Dusun Sombomerten.
ADVERTISEMENT
“Ki Sombomerti itu punya sendang atau padusan di sekitar sini. Nah di sekitar sini itu pernah ditemukan bata merah yang besar-besar, jadi kemungkinan kayak ada semacam bangunan di Tamansari,” ujarnya.
Saat ini, Nasir sedang berusaha untuk terus menggali sejarah yang tersisa dari Sendang Sombomerti, baik sejarah oral maupun puing-puing kuno yang sempat ditemukan. Rencana, dia ingin membukukan sejarah-sejarah yang dia temukan sebelum yang tersisa itu semakin hilang sama sekali.
“Jangan sampai sejarah itu semakin hilang, nanti anak cucu kita semakin tidak tahu asal-usul kampung halaman mereka. Jadi akan terus kami kumpulkan apa yang masih tersisa, daripada tidak ada sama sekali,” kata Muhammad Nasir. (Widi Erha Pradana / YK-1)