Kumparan Logo
Konten Media Partner

Jogja Coffee Week #6 Catat Transaksi Lebih dari Rp10 Miliar dalam Tiga Hari

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pembukaan Jogja Coffe Week (JCW) #6, di Jogja Expo Center (JEC), pada Jumat (4/9). Foto: Pandangan Jogja.
zoom-in-whitePerbesar
Pembukaan Jogja Coffe Week (JCW) #6, di Jogja Expo Center (JEC), pada Jumat (4/9). Foto: Pandangan Jogja.

Jogja Coffee Week (JCW) #6 yang berlangsung pada 4–6 September 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, mencatat perkiraan transaksi lebih dari Rp10 miliar. Penjualan terjadi pada berbagai produk dalam ekosistem kopi dan berlanjut menjadi pembelian setelah pameran berakhir.

Founder Jogja Coffee Week, Rahadi Saptata Abra, mengatakan nilai transaksi selama tiga hari penyelenggaraan diperkirakan telah melampaui Rp10 miliar.

“Kalau perkiraan total transaksi lebih dari Rp10 miliar,” kata Abra saat dihubungi Pandangan Jogja, Selasa (8/9).

Abra memperkirakan dampak ekonomi yang dihasilkan JCW tahun ini mengalami peningkatan.

“Kalau dampak ekonomi saya rasa akan signifikan naik,” ujarnya.

Aktivitas transaksi di salah satu booth Jogja Coffee Week (JCW) #6. Foto: Pandangan Jogja.

Perputaran transaksi tersebut terlihat dari penjualan langsung sejumlah tenant. Di luar transaksi selama pameran, pertemuan antara pelaku usaha dan pembeli juga menghasilkan pesanan lanjutan.

“Baik secara langsung yaitu penjualan di booth, setahu saya ada dua booth mesin kopi second sold out, banyak roastery yang jual beans juga sold out, bahkan sudah sold out di hari ke-2. Pembelian berkelanjutan juga ada, misal kopi Temanggung langsung ada pesanan 10 ton green bean,” kata Abra.

Sejumlah tenant memberikan gambaran mengenai penjualan yang berlangsung selama tiga hari pameran. Salah satunya, Tabe Kopi asal Kolaka, Sulawesi Tenggara, mencatat rata-rata penjualan sekitar Rp13 juta per hari. Penjualan tersebut berasal dari produk kopi dan merchandise yang dibawa selama JCW.

Aktivitas transaksi di salah satu booth Jogja Coffee Week (JCW) #6. Foto: Pandangan Jogja.

Perwakilan Tabe Kopi, Ochang Amin, mengatakan capaian penjualan tersebut berdasarkan catatan tim keuangan mereka.

“Kalau dari tim finance, biasanya rata-rata per hari kita dapatnya sekitar Rp13 juta. Itu dari merchandise, dari coffee pouch juga,” kata Ochang, saat ditemui Pandangan Jogja di hari terakhir pelaksanaan JCW, Minggu (13/9).

Dari sekitar 30–40 kilogram kopi yang dibawa ke Yogyakarta, Tabe Kopi hanya menyisakan sekitar dua kilogram pada hari terakhir. Dua varietas unggulannya, Heirloom dan Sidra, bahkan telah habis sejak hari pertama.

instagram embed

Penjualan lebih besar dicatat Kopine Dewe asal Sragen. Selama tiga hari, roastery tersebut menjual lebih dari 30 kilogram roasted bean dengan nilai transaksi hampir Rp50 juta. Sebanyak 35 kemasan kopi blend Flores Manggarai berukuran 100 gram juga habis sebelum pameran berakhir.

Roaster Kopine Dewe, Handito, mengatakan permintaan tetap berlanjut ketika sejumlah produk sudah tidak tersedia di booth. Pengunjung yang masih ingin membeli kemudian beralih ke toko daring Kopine Dewe.

“Banyak yang sampai habis. Terus ketika kita bilang ada di online shop, mereka langsung check out juga saat itu juga,” kata Handito, saat ditemui Pandangan Jogja di hari terakhir pelaksanaan JCW, Minggu (13/9).

Pengunjung memadati area Jogja Expo Center (JEC) saat pergelaran Jogja Coffe Week #6. Foto: Padangan Jogja.

Selain transaksi yang berlangsung di dalam pameran, penyelenggaraan JCW disebut turut memberikan dampak pada aktivitas usaha lain di Yogyakarta. Abra mengatakan kedatangan peserta dan pengunjung turut berpengaruh terhadap hunian hotel serta aktivitas warung dan restoran.

“Dampak pariwisata juga ada, yaitu naiknya hunian hotel maupun warung dan resto di Yogyakarta,” kata Abra.