Kumparan Logo
Konten Media Partner

Jogja Kembali jadi Tuan Rumah ASEAN Sports Day 3 Tahun Beruntun

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jogja kembali menjadi tuan rumah ASEAN Sports Day 2026 tiga tahun berturut-turut. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma
zoom-in-whitePerbesar
Jogja kembali menjadi tuan rumah ASEAN Sports Day 2026 tiga tahun berturut-turut. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Yogyakarta kembali menjadi lokasi penyelenggaraan ASEAN Sports Day (ASD) 2026. Penyelenggaraan tahun ini menjadi kali ketiga secara berturut-turut Yogyakarta dipercaya menjadi tempat pelaksanaan agenda olahraga negara-negara ASEAN tersebut.

Asisten Deputi Olahraga Masyarakat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI, Yayat Suyatna, mengatakan ASD merupakan bagian dari ASEAN Work Plan bidang olahraga 2026-2030.

Dalam rencana kerja tersebut, negara-negara ASEAN didorong menyelenggarakan ASD setiap tahun sebagai upaya meningkatkan keaktifan dan kebugaran masyarakat.

“ASD ini merupakan ASEAN Work Plan sesuai rencana kerja ASEAN dalam bidang olahraga 2026-2030. Di antaranya kita menegaskan agar ASD ini dilakukan setiap tahun di negara-negara ASEAN,” kata Yayat saat ditemui di Loman Park Hotel Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Yayat, Yogyakarta kembali dipilih karena memiliki kekuatan pada olahraga tradisional, budaya, UMKM, serta komunitas olahraga di kampus dan sekolah. Ia menilai potensi tersebut membuat Yogyakarta cocok menjadi ruang pertemuan masyarakat melalui olahraga.

“Karena potensi tadi, kekuatannya ada di budaya, di UMKM, di tradisional, di olahraganya, juga di komunitas, khususnya di kampus-kampus, sekolah-sekolah,” ujarnya.

Jadi Ruang Sport Diplomacy

Jogja kembali menjadi tuan rumah ASEAN Sports Day 2026 tiga tahun berturut-turut. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan yang dibacakan Asisten Setda DIY Bidang Administrasi Umum Imam Pratanadi mengatakan ASD membawa semangat yang lebih luas dari sekadar perhelatan olahraga.

Menurut Sri Sultan, ASD memadukan olahraga, budaya, keterlibatan pemuda, pariwisata, partisipasi masyarakat, dan diplomasi. Olahraga dinilai memiliki bahasa universal yang dapat melampaui batas negara, perbedaan bahasa, maupun latar belakang budaya.

“Melalui olahraga, masyarakat dapat berjumpa dalam semangat kesetaraan, saling menghormati, dan persahabatan,” demikian sambutan Sri Sultan.

Sri Sultan menyebut ASD 2026 menjadi momentum untuk memperkuat sport diplomacy, mendorong gaya hidup aktif dan sehat generasi muda, sekaligus mempererat hubungan antarnegara ASEAN.

11 Negara ASEAN Ikut Berpartisipasi

Rangkaian ASD 2026 berlangsung pada 31 Agustus-6 September 2026 dan dilanjutkan dengan sejumlah agenda pada 20 serta 27 September 2026.

Sebanyak 11 negara ASEAN bersama tiga negara mitra, yakni Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan olahraga, budaya, pendidikan, hingga aktivitas yang berdampak pada ekonomi masyarakat.

Rangkaian kegiatan meliputi ASEAN Fun Run, Tour de Prambanan, School Hub, job fair, festival olahraga tradisional, workshop pencak silat, serta berbagai kegiatan olahraga dan budaya lainnya.

Yayat mengatakan pelaksanaan tahun ini memiliki penekanan lebih kuat pada olahraga tradisional dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Sejumlah olahraga tradisional dari Indonesia maupun negara lain diperkenalkan dalam rangkaian festival.

“ASEAN Sports Day tahun ini dominasi tradisionalnya lebih kuat,” katanya.

Olahraga Tradisional Jadi Identitas

Asisten Setda DIY Bidang Administrasi Umum Imam Pratanadi (kiri) dan Asisten Deputi Olahraga Masyarakat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI, Yayat Suyatna (kanan). Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Menurut Yayat, olahraga tradisional tidak hanya berkaitan dengan aktivitas fisik, tetapi juga memiliki potensi menjadi bagian dari industri olahraga dan pariwisata.

Ia menilai Yogyakarta dapat memanfaatkan kekuatan tersebut untuk memperkenalkan olahraga tradisional kepada masyarakat internasional sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

“Kalau itu dikemas sedemikian rupa khususnya di Jogja, itu menjadi ikon penting. Jadi kalau ingin melihat olahraga tradisional, kesenian, Jogja tempatnya,” ujarnya.

Sementara itu, Imam mengatakan olahraga tradisional memang menjadi bagian dari warisan budaya yang dipelihara di DIY. Ia mencontohkan gobak sodor yang bahkan telah dikompetisikan di lingkungan organisasi perangkat daerah.

Karena itu, menurutnya, Yogyakarta menjadi salah satu lokasi yang tepat untuk penyelenggaraan ASD. Ia berharap penyelenggaraan pada tahun-tahun mendatang dapat dipersiapkan lebih awal sehingga gaungnya semakin besar.

“Olahraga tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta itu dipelihara betul sebagai warisan budaya,” kata Imam.