Kumparan Logo
Konten Media Partner

KADIN DIY Sambangi Industri Rembang, dari Pabrik New Balance hingga Mebel Ekspor

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Daerah Istimewa Yogyakarta mengunjungi pabrik sepatu PT Parkland World Indonesia yang memproduksi New Balance di Rembang, pada Selasa (8/9). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Daerah Istimewa Yogyakarta mengunjungi pabrik sepatu PT Parkland World Indonesia yang memproduksi New Balance di Rembang, pada Selasa (8/9). Foto: Dok. Istimewa

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Selasa (8/9). Rombongan berjumlah 10 orang yang dipimpin Wakil Ketua Umum KADIN DIY Robby Kusumaharta mengunjungi sejumlah industri untuk melihat langsung pengembangan usaha dan potensi kolaborasi antardaerah.

Kunjungan dimulai dari PT Sasana Antik, perusahaan mebel milik Ketua KADIN Rembang, Arifin. Perusahaan tersebut mengembangkan produk berbahan kayu jati untuk pasar domestik maupun ekspor.

Arifin mengatakan, kondisi pasar ekspor furnitur ikut terdampak situasi global. PT Sasana Antik yang sebelumnya lebih berfokus pada ekspor kemudian turut memperkuat pasar domestik.

“Dulu itu fokus ke ekspor. Sekarang lokal juga alhamdulillah jalan. Kita masih jalan, karyawan nambah terus,” kata Arifin, Selasa (8/9).

Rombongan KADIN DIY meninjau proses produksi mebel kayu jati di PT Sasana Antik, Rembang, Selasa (8/9). Foto: Dok. Istimewa

PT Sasana Antik juga memiliki perusahaan pemasaran di Austria bernama Kayusa GmbH. Produk perusahaan dipasarkan ke sejumlah negara Eropa, antara lain Austria, Jerman, Belanda, Prancis, dan Italia.

Pasar ekspor tersebut masih menunjukkan permintaan. Menurut Arifin, dua pekan sebelum kunjungan KADIN DIY, perusahaannya mendapatkan pesanan 10 kontainer produk furnitur luar ruang dari Italia.

“Kemarin, dua minggu yang lalu, kita dapat 10 kontainer dari Italia untuk outdoor,” ujarnya.

Di tengah persaingan global, Arifin mengatakan produsen furnitur harus mampu menjaga biaya agar produknya tetap kompetitif.

“Di tengah tantangan ini solusi yang harus kita lakukan adalah efisiensi. Kita harus menurunkan biaya produksi sehingga harga jual kita bisa kompetitif,” kata Arifin.

Robby mengatakan pengalaman pelaku usaha seperti Arifin menjadi salah satu hal yang ingin dipelajari dalam kunjungan tersebut. Menurut dia, pengalaman membangun jaringan pasar internasional semestinya dapat menjadi pengetahuan yang dibagikan kepada pelaku usaha lain.

“Kiat-kiat seperti itu yang bisa kemudian dibaca orang Jogja. Bagaimana membangun itu? Selama ini pengusaha itu silent,” kata Robby.

Rombongan KADIN DIY mengunjungi pabrik sepatu PT Parkland World Indonesia yang memproduksi New Balance di Rembang, pada Selasa (8/9). Foto: Dok. Istimewa

Dari industri mebel, rombongan KADIN DIY melanjutkan kunjungan ke pabrik sepatu PT Parkland World Indonesia di Rembang yang memproduksi sepatu New Balance. Pabrik tersebut memiliki hampir 11 ribu pekerja dan menjadi salah satu contoh industri manufaktur skala besar yang berkembang di Rembang.

Pengembangan industri tersebut tidak berhenti pada produksi sepatu. Ke depan terdapat peluang pengembangan industri turunannya, antara lain produksi kaos kaki, tali sepatu, dan berbagai komponen pendukung lainnya. Ekosistem tersebut membuka peluang bagi lebih banyak usaha untuk masuk ke rantai pasok industri.

Robby menilai keberanian industri melakukan investasi teknologi menjadi salah satu pelajaran penting dari perkembangan industri di Rembang. Teknologi membutuhkan investasi besar pada awalnya, tetapi dapat meningkatkan kapasitas sekaligus membangun kepercayaan pembeli.

“Memang mahal di awal, murah di belakang. Kalau punya mesin, buyer datang dengan confidence. Sampai di sini buyer trust. Sudah percaya berarti order,” kata Robby.

Rombongan KADIN DIY melihat proses pengolahan dan pengepakan ikan di Indo Seafood, Rembang. Foto: Dok. Istimewa

Kunjungan kemudian berlanjut ke Indo Seafood, Rembang, untuk melihat kegiatan pengolahan dan pengepakan ikan. Sektor ini menjadi bagian lain dari rantai industri Rembang yang memanfaatkan sumber daya lokal sebelum produknya masuk ke pasar yang lebih luas.

Kunjungan KADIN DIY ditutup dengan melihat sentra batik Peranakan dan kawasan heritage di Lasem. Foto: Dok. Istimewa

Rangkaian kunjungan ditutup dengan melihat sentra batik dan kawasan heritage di Lasem. Robby melihat kawasan tersebut menarik karena batik Peranakan masih terjaga bersama rumah-rumah tua Tionghoa yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas pariwisata.

“Di sana yang terkenal batik Peranakan itu masih terjaga hari ini dan destinasi tempat-tempat itu masih ada. Di Jogja kan punya potensi yang sama. Kenapa tidak dikelola seperti itu?” kata Robby.

Menurut Robby, pengalaman Rembang relevan bagi DIY karena kedua daerah memiliki kekayaan budaya, industri kreatif, serta pelaku usaha yang dapat dikembangkan melalui jejaring pasar yang lebih luas. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi KADIN DIY untuk melihat praktik usaha secara langsung, mulai dari industri berbasis sumber daya lokal, manufaktur berskala besar, pasar ekspor, hingga pengembangan kawasan heritage.