Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kebanyakan Zat Kimia, Lahan Pertanian Sleman Rusak: Terparah di Godean-Minggir

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi petani sedang menebar pupuk kimia di sawah. Foto: Irwansyah Putra/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi petani sedang menebar pupuk kimia di sawah. Foto: Irwansyah Putra/Antara Foto

Lahan pertanian di Kabupaten Sleman mengalami kerusakan yang cukup mengkhawatirkan. Kerusakan lahan itu terutama disebabkan oleh tingginya intensitas penggunaan zat-zat kimia dalam aktivitas pertanian secara terus menerus.

Hal tersebut disampaikan oleh Sub Koordinasi Substansi Bina Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Sumarno.

Ia menyebutkan, tingginya intensitas penggunaan pupuk kimia ini tidak dibarengi dengan penggunaan pupuk organik. Akibatnya, kandungan organik di dalam tanah semakin berkurang.

“Kalau disebut mengkhawatirkan, ya khawatir juga. Karena memang penggunaan pupuk kimia berlebihan tanpa ada upaya pengembalian pupuk organik,” kata Sumarno saat dihubungi pada Kamis (14/12) kemarin.

Saat ini, rata-rata kandungan organik di lahan-lahan pertanian di Sleman menurutnya hanya di kisaran 1,2 sampai 1,7 persen saja. Padahal, idealnya untuk melakukan budidaya idealnya tanah memiliki kandungan organik minimal 5 persen.

“Tapi untuk mencapai 5 persen itu agak susah, karena penggunaan pupuk kimia terus-menerus dan petani tidak mengembalikan bahan organik tadi,” ujarnya.

Ilustrasi petani tengah menyemprot pestisida kimia di sawah. Foto: Saiful Bahri/Antara Foto

Adapun wilayah yang kondisi kerusakan lahan pertaniannya paling parah adalah wilayah Sleman Barat, mulai dari Godean, Gamping, Moyudan, Seyegan, hingga Minggir. Sebab lahan pertanian di wilayah Sleman barat ini kebanyakan terus menerus ditanami padi sepanjang musim (padi-padi-padi).

Karena dalam budidaya padi pupuk yang digunakan hampir 100 persen pupuk kimia, maka kondisi tanah pertanian di kawasan tersebut lebih cepat rusak.

“Beda dengan yang pola tanamnya padi-padi-hortikultura atau padi-padi palawija. Kalau padi-padi-hortikultura kan penggunaan pupuk organiknya agak lumayan banyak, secara tidak langsung kan ada upaya untuk memperbaiki tanah,” ujarnya.

Wilayah yang menerapkan pola tanam padi-padi-hortikultura maupun padi-padi-palawija tersebut terutama berada di wilayah Sleman utara dan timur, seperti di Kapanewon Pakem, Cangkringan, Ngemplak, Ngaglik, Prambanan, dan Kalasan. Meskipun kandungan organik tanah di wilayah tersebut juga baru di kisaran 2 persen.

Ilustrasi lahan sawah rusak. Foto: Dedhez Anggara/Antara Foto

Dampak dari kerusakan tanah tersebut menurutnya sudah mulai dirasakan dengan adanya penurunan produktivitas. Saat ini, rata-rata produktivitas lahan pertanian di wilayah Sleman hanya di kisaran 5 ton per hektare, bahkan ada yang hanya 4,5 ton.

“Produktivitasnya stagnan di angka itu-itu terus, mentok di 5 ton, untuk menaikkan 5,5 ton ternyata susah,” ujar Sumarno.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut, saat ini pemerintah menurutnya terus mendorong para petani untuk meningkatkan penggunaan pupuk organik dan mengurangi pupuk kimia.

"Kita terus berupaya meningkatkan penggunaan pupuk kimia oleh petani untuk mengembalikan kandungan organik tanah," ujarnya.