Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kisah Kehilangan Reko dan Buku-Buku yang Terbakar di Hari Ulang Tahunnya

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Buku-buku Reko yang hangus karena kebakaran di kamar kosnya. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Buku-buku Reko yang hangus karena kebakaran di kamar kosnya. Foto: Dok. Istimewa

Suara “kretek-kretek” membangunkan Reko Pambudi Prabowo pada sebuah pagi di hari Senin, 12 September 2026. Saat membuka mata, ia melihat sesuatu seperti sarang laba-laba di dalam kamar. Belum sepenuhnya sadar, Reko keluar untuk memastikan apa yang terjadi.

Api sudah membakar kamar di sebelahnya.

Reko merupakan merupakan kolektor dan penjual buku lawasan yang menjalankan toko buku Kendi di Yogyakarta. Ia menyewa dua kamar yang berdampingan di kawasan Papringan, Sleman.

Satu kamar menjadi tempat tinggal, sementara kamar lainnya digunakan untuk menyimpan koleksi sekaligus barang dagangannya. Pagi itu, api menghanguskan sekitar 85 persen koleksinya, termasuk sejumlah buku langka yang terbit pada dekade 1920-an dan 1930-an.

Dokumen pribadi dan keluarga Reko juga ikut terbakar. Ijazah, rapor sejak TK hingga SMA, dokumen milik kakaknya, hingga arsip peninggalan almarhum ayah dan ibunya tidak sempat diselamatkan.

Yang membuat hari itu terasa semakin getir, kebakaran terjadi tepat pada hari ulang tahun Reko. Ia lahir pada 12 September 1989.

Seorang temannya dengan maksud bercanda untuk menguatkan hatinya, kemudian berseloroh tentang kejadian itu. Sambil tersenyum, ia menirukan guyonan tersebut dengan ringan.

“Biasanya ulang tahun api di atas roti, ini malah di atas atap,” ucapnya saat ditemui Pandangan Jogja di Kobessah Kopi, Rabu (16/9).

Plafon Jebol, Api Kemudian Membesar

Buku-buku Reko yang hangus karena kebakaran di kamar kosnya. Foto: Dok. Istimewa

Sehari sebelum kebakaran, Reko sempat mendapati plafon salah satu kamar yang disewanya jebol. Bagian dalam kamar menjadi kotor. Namun, ia mengaku tidak menemukan tanda-tanda gangguan listrik yang mengkhawatirkan.

Tidak ada listrik yang tiba-tiba anjlok atau bau seperti kabel terbakar. Hingga malam sebelum kejadian, menurut Reko, tidak ada hal yang membuatnya curiga.

Sabtu pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, Reko masih berada di kamar. Ia kemudian mendengar suara “kretek-kretek” dan melihat sesuatu yang awalnya ia kira seperti sarang laba-laba.

Saat keluar, ia mendapati kamar sebelah sudah terbakar.

“Wah, kelihatan kamarku satu sudah hangus,” ujar Reko.

Ia berteriak meminta pertolongan. Warga kemudian berdatangan ketika api masih menyala.

Dalam kepanikan, Reko sempat kembali masuk ke ruangan yang terbakar untuk mengambil telepon selulernya. Saat itu, plafon yang sudah terbakar jatuh dan menimpanya dan membuat dahi kanannya mengalami luka bakar ringan.

“Plafon udah kebakar, jatuh, menimpa kepalaku,” ungkapnya.

Reko akhirnya berhasil keluar dari kamar. Sebagian besar barang di dalamnya sudah tidak dapat diselamatkan.

Ia menduga kebakaran tersebut berkaitan dengan korsleting, tetapi belum mengetahui apa yang menjadi penyebabnya.

Yang Terbakar Bukan Sekadar Barang Dagangan

Buku-buku Reko yang hangus karena kebakaran di kamar kosnya. Foto: Dok. Istimewa

Reko memperkirakan ada lebih dari 500 buku atau sekitar 85 persen dari buku-buku miliknya yang dilahap api. Buku-buku yang tersisa pun sebagian mengalami kerusakan akibat panas dan api.

Kerugian materi diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Namun, bagi Reko, kehilangan buku tidak berhenti pada nilai jual, yang hilang merupakan bagian dari perjalanan Reko selama lebih dari satu dekade.

Ia mulai berjualan buku sekitar 2014, setelah lulus dari Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta. Awalnya, buku-buku itu dijual secara daring melalui OLX, sebelum kemudian berpindah ke Facebook, Instagram, dan terus berkembang hingga sekarang.

Buku menjadi pekerjaan sekaligus bagian dari kesehariannya.

“Senang di buku, susah di buku, marah pun di buku, kasmaran ya di buku, nakal pun ya di buku, semua ya di buku semua.”

Sejumlah koleksi yang terbakar bahkan merupakan buku lawasan yang sulit ditemukan kembali. Reko menyebut ada buku terbitan 1927 dan 1934 mengenai gerakan komunisme dan nasionalisme di Hindia Belanda.

Buku-buku tersebut sebelumnya ia dapatkan dari pedagang buku lawasan melalui pencarian secara daring. Buku yang sama karya Petrus Blumberger itu juga sempat Reko alihbahasakan dan ia terbitkan mandiri melalui penerbitan indie miliknya bernama Kendi.

“Kalau buku bisa dicari lagi,” kata Reko.

Tetapi mencari buku yang sama tidak berarti mengembalikan seluruh nilai yang pernah melekat padanya.

Ia menyebut yang hilang bukan hanya benda, melainkan “kekuatan” dari buku-buku yang selama ini dikumpulkannya.

Kehilangan Besar untuk Ketiga Kalinya

Buku-buku Reko yang hangus karena kebakaran di kamar kosnya. Foto: Dok. Istimewa

Bagi Reko, kebakaran pada 12 September itu bukan kehilangan besar pertama dalam hidupnya.

Ibunya meninggal pada Oktober 2009, ketika Reko masih duduk di semester tiga kuliah. Belum lama berselang, pada Februari tahun berikutnya, ayahnya menyusul. Sejak saat itu, Reko dan kakaknya menjalani hidup berdua sebagai saudara.

Kakaknya kini tinggal di Pati. Sementara Reko menetap di Yogyakarta dan meneruskan hidupnya bersama buku-buku yang selama bertahun-tahun ia kumpulkan dan jual.

Karena itu, ketika api menghanguskan buku-buku sekaligus sejumlah dokumen peninggalan kedua orang tuanya, peristiwa tersebut seperti membuka kembali pengalaman kehilangan yang pernah ia lewati.

“Aku kehilangan besar sudah 3 kali. Kehilangan ibu. Kehilangan ayah. Dan ini kehilangan buku-buku.”

Namun, kali ini Reko mengaku jauh lebih kuat ketika menghadapi kegetiran yang menimpanya. Sejak kabar kebakaran menyebar, kawan-kawan berdatangan. Ada yang datang untuk melihat kondisinya, memberi semangat, hingga ikut memikirkan bagaimana ia bisa kembali beraktivitas.

Bagi Reko, kehadiran mereka menjadi hal yang paling ia syukuri. Bantuan yang dibawa teman-temannya ia anggap sebagai bonus. Yang lebih penting adalah orang-orang itu datang dan membuatnya punya teman untuk berbicara setelah musibah.

“Rejekiku kan ya ya temen. Bukan ya temen bawa apa-apa itu bukan. Itu bonus-bonus lah. Temennya itu loh.”

Rasa syukur itulah yang kemudian mempertemukan kisah Reko dengan Rimbawana dan kawan-kawan lain yang bergerak membuka donasi pada hari yang sama.

Kawan-Kawan yang Datang

Rimbawana, kawan Reko saat menyerahkan donasi dari kawan-kawan Reko. Foto: Dok. Istimewa

Salah satu orang yang datang pada hari itu adalah Rimbawana, kawan sekaligus junior Reko di kampus.

Rimbawana mengetahui kabar kebakaran tersebut dari sebuah tangkapan layar yang dikirim seorang teman. Saat itu ia masih berada di perjalanan. Ia kemudian meminta beberapa kawannya memastikan kabar tersebut sebelum datang menemui Reko.

Setelah mendapat kepastian bahwa kamar indekos sekaligus gudang buku Reko memang terbakar, Rimbawana mulai menghubungi kawan-kawan lain.

Hubungan Rimbawana dengan Reko bukan baru terbentuk ketika musibah datang. Ia mengenal Reko sejak awal kuliahnya di Yogyakarta. Reko merupakan alumni Ilmu Sejarah UNY angkatan 2008 dan lulus pada 2013, sedangkan Rimbawana masuk pada tahun yang sama.

Buku menjadi salah satu titik yang mempertemukan keduanya.

Rimbawana masih mengingat buku pertama yang dibelinya dari Reko pada 2014, setahun setelah Reko lulus kuliah dan mulai serius berjualan buku.

“Aku masih ingat buku pertamaku itu soal berjudul ini Markesot Bertutur. Ku beli dari Reko dulu 2014.”

Bagi Rimbawana, perjumpaannya dengan Reko bahkan ikut menandai awal persinggungannya dengan dunia literasi di Yogyakarta. Hingga kini, keduanya masih berada di dunia yang sama.

Rimbawana menulis dan bekerja sebagai editor, sementara Reko tetap menjalankan aktivitas jual-beli buku.

Dari hubungan itulah, kabar kebakaran Reko dengan cepat bergerak melalui jejaring pertemanan mereka.

Donasi Dibuka di Hari Kebakaran

Reko Pambudi Prabowo. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Sekitar pukul 13.30 WIB pada 12 September, Rimbawana bersama sejumlah kawan mulai membuka penggalangan dana.

Awalnya, donasi tersebut dibuat sederhana. Mereka menyebarkannya di grup-grup angkatan Ilmu Sejarah, dengan tujuan membantu seorang kawan yang baru saja kehilangan tempat tinggal sekaligus sebagian besar barang dagangannya.

Namun, informasi itu kemudian bergerak lebih luas.

Pelanggan Reko ikut mengetahui kabar tersebut. Begitu pula kawan-kawan yang selama ini berada dalam jejaring perbukuan Yogyakarta. Donasi yang semula diperkirakan hanya akan berputar di antara kawan-kawan kampus ternyata mendapat respons lebih besar.

Sekitar pukul 14.00 WIB, Rimbawana bersama tiga orang kawan juga mendatangi Reko.

Saat itu, kata Rimbawana, api memang sudah padam. Tetapi Reko masih berada dalam kondisi terpukul akibat kejadian yang baru saja dialaminya.

Penggalangan dana dibuka pada 12 September hingga pukul 23.59. Meski demikian, transfer masih berdatangan sampai 14 September.

Total dana yang terkumpul sekitar Rp13 juta lebih. Bantuan tersebut kemudian diserahkan kepada Reko sebagai bekal untuk kembali menjalankan aktivitasnya.

Bagi Rimbawana, jumlah uang yang terkumpul bukan satu-satunya hal penting dari penggalangan dana tersebut. Respons itu memperlihatkan bahwa hubungan yang dibangun Reko selama bertahun-tahun melalui buku ternyata membentuk jejaring yang cukup luas.

“Bagaimanapun Reko sebagai seorang penjual buku dia adalah salah satu roda yang menggerakkan industri buku di kota ini.”

Menurut Rimbawana, mereka yang ikut membantu datang dari berbagai bagian ekosistem perbukuan. Ada penulis, editor, penerbit, desainer, hingga pembaca.

Tidak semuanya mengenal Reko secara dekat. Sebagian mengenalnya melalui buku-buku yang pernah dibeli atau jaringan perbukuan yang selama ini mempertemukan mereka.

“Yang mereka berada di industri buku di Jogja ternyata masih sangat peduli dengan kawannya.”

Memulai Lagi dari Nol

Setelah kebakaran, Reko tidak memiliki banyak waktu untuk berhenti. Dua kamar yang terbakar perlahan dibersihkan bersama warga. Untuk sementara, Reko mempertimbangkan menempati kamar kosong di lantai tiga bangunan tersebut sambil melihat kondisi.

Namun, ia juga mulai memikirkan kemungkinan pindah ke tempat baru.

Keputusan itu belum final. Jika tetap berada di lokasi lama, ia merasa lebih mudah memantau keadaan dan kawan-kawan yang selama ini mengetahui alamatnya juga masih bisa datang.

Di tengah semua pertimbangan itu, aktivitas jual-beli buku tetap berjalan. Ia memilih memulai dari nol, kembali kepada buku yang selama ini menjadi pekerjaannya sekaligus bagian dari hidupnya.

Sejak Senin, ia sudah mulai kembali beraktivitas. Ia mengurus dokumen-dokumen yang harus dibuat kembali, membeli lemari, dan mulai menyiapkan tempat untuk melanjutkan jual-beli buku.

Buku-buku lama yang terbakar harus dicari kembali. Koleksi baru harus dikumpulkan sedikit demi sedikit. Dokumen pribadi yang musnah harus diurus ulang.

Reko tahu, semuanya tidak akan kembali seperti semula dalam waktu singkat.

Tetapi ia juga tahu bahwa ia masih memiliki sesuatu yang tidak ikut terbakar: orang-orang yang datang setelah api padam.

“Yang penting nek kawan-kawan datang. Itu aja aku seneng banget,” ujarnya.