Kisah Para Pasien Gagal Ginjal Menjaga Hidup di Ruang Hemodialisis

Tak seorang pun berharap hidupnya bergantung pada mesin hemodialisis. Namun, bagi penyandang gagal ginjal kronis, terapi itu bukan lagi pilihan, melainkan bagian dari hidup.
Sejak pukul 06.00 WIB, aktivitas di Klinik Hemodialisis Nitipuran, Bantul, telah dimulai. Puluhan pasien bergantian menempati kursi perawatan sesuai jadwal. Sebagian datang dari Yogyakarta, Klaten, Purworejo, dan daerah sekitarnya.
Mereka datang dengan usia, profesi, dan penyebab penyakit berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: mempertahankan fungsi tubuh melalui hemodialisis dua kali sepekan.
Dalam sehari, klinik mengoperasikan tiga shift pelayanan menggunakan 35 mesin hemodialisis reguler dan satu mesin khusus pasien hepatitis B. Kapasitasnya mencapai 105 pasien per hari.
Meski belum genap setahun digunakan, seluruh layanan telah terisi seiring meningkatnya kebutuhan terapi.
"Gedung baru kami belum genap setahun, tapi kapasitasnya sudah penuh," ujar pimpinan Klinik Hemodialisis Nitipuran, dr. Sari Murnani kepada Pandangan Jogja beberapa waktu lalu.
Ketika Hidup Berubah dalam Sekejap
Bertambahnya kapasitas layanan bukan sekadar menjawab lonjakan pasien. dr. Sari melihat usia pasien kini semakin muda. Tak sedikit yang masih aktif bekerja, baru merintis karier, atau membangun keluarga ketika divonis gagal ginjal kronis.
Arief Aulia Rahman menjadi salah satunya. Pada usia 21 tahun, saat sebagian besar teman sebayanya baru menata masa depan, ia justru mengetahui lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang dideritanya telah menyerang ginjal.
Vonis itu datang ketika Arief tengah merintis karier sebagai pemandu wisata. Ia terbiasa mendampingi wisatawan mancanegara ke Bali, Bromo, hingga Kawah Ijen sebelum hidupnya berubah.
"Awalnya gila sih, Mas. Umur 21 atau 22 tahun sudah divonis seperti itu. Rasanya kaget sekali," kenang Arief.
Empat hingga lima tahun kemudian, Arief yang kini berusia 30 tahun masih menjalani hemodialisis dua kali sepekan. Ia tetap bekerja sebagai pemandu wisata, tetapi kini lebih sering mendampingi wisatawan ke Prambanan, Borobudur, dan Merapi agar jadwal terapinya tetap terjaga.
Pengalaman Arief menunjukkan gagal ginjal kronis tak lagi identik dengan usia lanjut. Menurut dr. Sari, banyak pasien baru mengetahui penyakitnya setelah fungsi ginjal menurun drastis karena gejalanya kerap tak disadari.
Ketika Tubuh Tak Lagi Memberi Isyarat
Pengalaman itu dialami Eko Wahyu Budi Prasetyo. Kesibukannya sebagai pelaku event organizer berjalan seperti biasa hingga hasil medical check-up menunjukkan fungsi ginjalnya menurun akibat hipertensi yang tidak terkendali.
"Saya benar-benar tidak merasakan apa-apa. Tahunya justru setelah medical check-up," ujar Eko.
Sejak itu ritme hidupnya berubah. Hampir dua tahun terakhir, dua hari setiap pekan selalu ia sisihkan untuk menjalani hemodialisis.
"Cuci darah itu buat kami sama seperti orang sehat makan. Kalau tidak dilakukan, ya kami yang kena dampaknya," katanya.
Bagi penyandang gagal ginjal kronis, terapi bukan lagi sekadar tindakan medis, melainkan kebutuhan yang harus terus dijalani. Namun, memulai terapi tidak selalu mudah.
Mencari Tempat untuk Bertahan
Nita Sulistiyaningsih merasakan kenyataan tersebut. Setelah dinyatakan membutuhkan hemodialisis, perempuan asal Klaten itu harus berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Jawaban yang diterima hampir selalu sama: kapasitas layanan telah penuh.
"Saya sempat muter-muter cari rumah sakit. Banyak yang penuh. Alhamdulillah akhirnya di sini diterima dua hari setelahnya," tutur Nita.
Dua hari kemudian, Klinik Hemodialisis Nitipuran menerimanya memulai terapi.
Sejak itu, setiap Senin dan Kamis pukul 04.30 WIB ia berangkat dari Klaten menuju Bantul untuk menjalani hemodialisis. Rutinitas tersebut telah dijalani sekitar enam bulan terakhir.
Di sela pemeriksaan, tindakan medis, dan perjalanan lintas kabupaten, Nita perlahan menyesuaikan hidupnya. Jadwal terapi tak lagi sekadar agenda pengobatan, melainkan bagian dari kesehariannya.
Gotong Royong yang Menjaga Terapi Tetap Berjalan
Bagi Arief, Eko, dan Nita, hemodialisis bukan terapi yang cukup dijalani sekali atau dua kali. Selama fungsi ginjal belum pulih, mereka harus kembali menjalani hemodialisis dua kali sepekan agar tubuh tetap berfungsi.
Menurut dr. Sari, hampir seluruh pasien di Klinik Hemodialisis Nitipuran menjalani terapi melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pelayanan diberikan dengan standar yang sama sesuai kebutuhan medis setiap pasien.
"Kami tidak membedakan pasien JKN maupun non-JKN. Semua mendapatkan pelayanan sesuai indikasi medis dan standar pelayanan yang berlaku," ujar dr. Sari.
Bagi Arief, kepastian menjalani hemodialisis membuatnya tetap dapat bekerja. Ia pernah menghitung biaya jika seluruh pengobatan ditanggung sendiri.
"Kalau dihitung-hitung, mungkin sudah miliaran rupiah yang harus saya keluarkan kalau semua biaya itu ditanggung sendiri," katanya.
Eko pun pernah menghitung biaya yang harus disiapkan. Menurutnya, hemodialisis dapat menghabiskan sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan bila dibayar secara mandiri.
"Lebih baik rutin bayar iuran daripada nanti harus mengeluarkan biaya sebesar itu sendirian. Kita tidak pernah tahu kapan akan sakit. Saat masih sehat mungkin kita membantu orang lain, tetapi ketika sakit bisa jadi giliran kita yang ditolong," ujar Eko.
Hal serupa dirasakan Nita.
"Kalau tidak pakai BPJS, mungkin rumah juga belum tentu cukup kalau harus dijual," ucapnya.
Lupus, hipertensi, dan perjuangan mencari layanan menjadi awal cerita yang berbeda bagi ketiganya. Namun, mereka dipertemukan oleh kebutuhan yang sama: terapi yang harus terus berlangsung.
Di ruang hemodialisis itu, gotong royong bukan sekadar slogan. Melalui Program JKN, risiko biaya pengobatan dipikul bersama sehingga mereka yang berjuang melawan penyakit kronis tetap memiliki kesempatan untuk bekerja, mendampingi keluarga, dan melanjutkan hidup.
