Komik Asli Indonesia Dipamerkan di Yogya, Biar Anak Muda Tak Cuma Tahu Manga

Konten Media Partner
19 Oktober 2023 19:42 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pengunjung saat menyaksikan pameran Yogyakarta Komik Weeks 2023. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung saat menyaksikan pameran Yogyakarta Komik Weeks 2023. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
ADVERTISEMENT
Pameran Yogyakarta Komik Weeks 2023 resmi ditutup pada Rabu (18/10), setelah dibuka sejak Senin (9/10) kemarin. Pameran yang diselenggarakan di Sangkring Art Space, Nitiprayan, Kasihan, Bantul, ini menampilkan sejumlah karya dari para komikus profesional sampai pelajar.
ADVERTISEMENT
Tahun ini, pameran Yogyakarta Komik Weeks mengusung tema Energi Juxtaposisi, yang memiliki semangat bahwa komik memiliki energi dan kekuatan yang berdampak terhadap masyarakat.
Selain itu juga menjadi kekuatan dan daya hidup kreator komik melalui karya seninya.
Pengunjung saat menyaksikan pameran Yogyakarta Komik Weeks 2023. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
Kurator Yogyakarta Komik Weeks 2023, Terra Bajraghosa, berharap pameran ini bisa menjadi pendorong perkembangan komik di Indonesia, terutama di Yogya.
Ia menjelaskan bahwa dunia komik Indonesia sebenarnya pernah mengalami kejayaan pada era 1970-an.
"Beberapa generasi melihat komik indonesia itu mencapai puncaknya di era 70-an dengan komik superhero dan silat. Itu memang masa-masa yang susah diulang," kata Terra, Rabu (18/10).
Saat ini, tren sudah berubah. Genre komik jauh lebih beragam. Meskipun sebagian besar komikus muda Indonesia terinspirasi dari Manga, komik khas Jepang. Bahkan umumnya generasi sekarang menganggap komik Indonesia tak lain adalah Manga.
Poster Yogyakarta Komik Weeks 2023. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
Hal itu wajar, mengingat mereka lahir di era 1990-an sampai 2000-an, ketika Manga mulai masuk ke semua lini industri secara masif.
ADVERTISEMENT
"Tapi kita juga sudah melihat ada Indo Manga, Manga yang Indonesia banget," kata dia.
Event-event pameran seperti ini Yogyakarta Komik Weeks diharapkan dapat memberikan pemahaman bahwa Indonesia juga memiliki gaya komik sendiri, bahkan Indonesia memiliki komikus-komikus legendaris seperti Tatang Suhendra, RA Kosasih, Ganias TH, dan sebagainya.
Adapun tantangan bagi para komikus di Indonesia menurut dia saat ini adalah bagaimana membangun cerita yang bisa menggugah pembaca.
"Kalau kami lihat kuncinya di penceritaan. Gaya gambar sudah dilampaui, kemasan sudah dilampaui, yang penting bagaimana bercerita dan itu bisa merebut hati pembacanya," kata Terra.
Koleksi komik legendaris Indonesia yang dipamerkan di Yogyakarta Komik Weeks 2023. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
Kurator Yogyakarta Komik Weeks 2023 lain, Danang Catur mengatakan bahwa hari ini sebenarnya dunia komik Indonesia telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Jika melihat perkembangan pada era Orde Baru, kondisi perkembangan komik jauh lebih sulit.
ADVERTISEMENT
Saat itu, komik-komik yang dibuat oleh komikus harus memiliki izin dari pihak berwenang jika mau diedarkan. Harus ada cap dari pemerintah yang menunjukkan bahwa komik itu sudah lulus sensor.
Dan untuk mendapatkan izin edar, komikus harus mengikuti keinginan pemerintah sehingga sangat membelenggu kreativitas komikus.
"Sekarang sudah sangat mudah, mencari referensi sangat gampang, untuk menjual atau mendistribusikan juga sangat gampang karena bisa dilakukan mandiri baik melalui media sosial maupun e-commerce," kata Danang Catur.
Kurator dan panitia penyelenggara Yogyakarta Komik Weeks 2023. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
Dengan situasi ini, maka ia yakin dunia komik di Yogya, juga Indonesia, bisa mencapai kejayaan lagi seperti pada masa kejayaan komik silat.
"Dengan semakin banyak event seperti ini, kemudian medium untuk mengakses komik juga semakin banyak, harusnya ini menjadi angin segar bagi para komikus," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Total ada puluhan karya dari 25 komikus dan 5 seniman undangan yang dipamerkan dalam Yogyakarta Komik Weeks 2023. Selain itu juga ada 30 komik karya pelajar SMA/SMK se-DIY.
Komik karya para pelajar dalam pameran itu dikemas melalui program Kukuruyuk #9 yang telah diselenggarakan pada Agustus lalu dengan mengambil tema 7 unsur kebudayaan DIY.
Tujuh unsur budaya tersebut terdiri dari sistem religi dan upacara keagamaan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup, dan sistem teknologi dan peralatan hidup.
Dukungan pada Energi Kreatif Yogya
Paniradya Pati, Aris Eko Nugroho. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
Paniradya Pati (pemimpin lembaga keistimewaan DIY, Paniradya Kaistimewan), Aris Eko Nugroho, mengatakan yang jarang orang ketahui, banyak event-event budaya di Yogya termasuk pameran komik, mendapat dukungan dari Dana Keistimewaan (Danais).
ADVERTISEMENT
Padahal menurut Aris, Danais banyak mensuport kreativitas anak muda di Yogya. Komik menurut Aris, salah satu yang mendapat dukungan dari Danais melalui Kundha Kabudayan (Disbud DIY).
Komik industrinya besar karena dari komik bisa jadi merchandising, film, series, buku, dan seterusnya.
“Ya intinya dunia kreatif, masyarakat Jogja sudah begitu maju, sebagai goverment, kita suport dan pelan pelan mencari titik mana yang paling penting agar suport kita bisa menscale-up perkembangan komik di Yogyakarta. Tentunya tidak bisa sekaligus, kita semua sama-sama belajar. dunia kreatif, industri kreatif itu cepat sekali, jadi ya kudu sama-sama belajar,” papar Aris.
Salah satu komik yang dipamerkan di Yogyakarta Komik Weeks 2023. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
Suport danais untuk ekosistem kebudayaan dan kesenian di DIY selama ini terbagi menjadi 2 yakni penyelenggaraan dan fasilitasi. Pameran komik masuk dalam program fasilitasi.
ADVERTISEMENT
“Ini bagian dari ekonomi kreatif Yogya. Memang tidak secara langsung berkontribusi pada penuruanan kemiskinan seperti tuntutan banyak masyarakat tapi ini adalah investasi panjang untuk mendorong budaya yang nantinya dampak turunannya adalah ekonomi untuk semua,” jelas Aris.