Konser Amal Mengenang Prof Iwan, Korban Meninggal COVID-19 Pertama di Jogja

Sejumlah musisi akan menggelar konser amal virtual bertajuk ‘Life, Passion, and Music Vol 2: Tribute to Prof Iwan Dwiprahasto’ yang digelar oleh 3ADIKA Concert Production bekerja sama dengan Sambatan Jogja (Sonjo) pada Sabtu (13/3). Hasil donasi dari konser amal ini seluruhnya akan disumbangkan untuk membantu pembangunan Shelter Tangguh COVID-19 dan shelter-shelter desa di kabupaten Bantul, DIY.
Konser amal yang digelar secara virtual ini akan menampilkan Adi Utarini, guru besar dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK KMK) UGM bersama teman-teman musisinya seperti Budi Utomo Prabowo, Safarina G Malik, Jodi Wisnu, dan sejumlah musisi lainnya.
Adi Utarini adalah ilmuwan yang masuk dalam daftar 10 ilmuwan berpengaruh dunia tahun 2020 yang dirilis jurnal Nature akhir tahun lalu karena sumbangsihnya dalam upaya pemberantasan nyamuk Aedes aegypti.
Konser amal kali ini adalah konser amal kedua yang diadakan oleh Adi Utarini atau Uut. Konser amal pertama dengan tema yang sama: Life, Passion, and Music digelar pada 2018.
Saat itu, donasi yang terkumpul disumbangkan ke Yayasan Kanker Indonesia (YKI) DIY, sebab sang suami yang tidak lain adalah Prof Iwan Dwiprahasto adalah seorang penyintas kanker. Untuk donasi dari konser amal tahun ini, dia memilih untuk disumbangkan dalam penanganan COVID-19, karena sang suami telah berpulang karena COVID-19.
Ya, Iwan Dwiprahaso (58 tahun) adalah korban meninggal pertama di Yogyakarta yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Sebelumnya memang sudah ada dua Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang meninggal di rumah sakit, tetapi hasil uji lab belum keluar. Pada Maret tahun lalu kapasitas lab uji spesiemen COVID-19 belum seperti saat ini.
Meninggal pada Selasa (24/3), pukul 00.04 WIB di RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta, Prof. Iwan mulai dirawat di RSUP dr. Sardjito pada Minggu (15/3). Guru Besar Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM ini, hanya mampu bertahan 8 hari di ruang perawatan intensif (ICU).
Kendati acara ini mengusung tema untuk mengenang Prof Iwan yang telah lebih dulu berpulang, tapi buru-buru Uut mengatakan bahwa konsep acara ini nantinya dibuat menyenangkan.
“Acaranya bukan sedih ya, memang beliau berpulang tetapi lalu bagaimana kita memaknai bagaimana seseorang berpulang karena Covid itu harus menjadi energi untuk terus berbuat kebaikan membantu orang lain,” kata Uut.
Target Donasi Rp 100 Juta
Uut akan menjadi penampil utama dan ikut memainkan semua musik dalam konser amal tersebut. Meski dia selama ini fokus pada musik klasik, namun nantinya konser ini akan menampilkan berbagai genre musik lain seperti jazz, pop, serta art-rock, serta terakhir akan ditutup dengan line dance.
“Di awal memang ada bagian nostalgia, namun ke belakang musiknya akan semakin optimis dan ditutup dengan line dance, karena kita butuh sesuatu yang menyenangkan untuk meningkatkan imun,” lanjutnya.
Ada beberapa musik yang akan dimainkan, seperti beberapa musik karya Mozart dan Kahitna, salah satunya yang berjudul Cantik. Lagu ini dipilih untuk membangun suasana optimisme dan kebahagiaan baru untuk mengenang bagaimana seseorang berpulang.
“Ternyata menggalang donasi sambil bersenang-senang kemudian bisa sambil membantu orang lain itu menyenangkan,” kata Uut.
Sampai saat ini, sudah ada 16 donatur yang berdonasi dengan jumlah donasi yang terkumpul lebih dari Rp 17 juta. Sementara targetnya, dari konser amal tersebut dapat terkumpul donasi sebesar Rp 100 juta.
Bantu Pembangunan Shelter Tangguh
Inisiator Sonjo, Rimawan Pradiptyo, mengatakan bahwa konser amal tersebut akan sangat membantu pembangunan Shelter Tangguh dan Shelter Desa yang sekarang juga sedang didampingi oleh Sonjo. Pasalnya, untuk membangun shelter-shelter di desa tersebut ternyata dibutuhkan biaya yang cukup besar.
“Misalnya untuk kasur saja butuh sekitar 446 kasur, sekarang baru 168 yang bisa kami penuhi,” kata Rimawan, Selasa (2/3).
Konser amal bisa disaksikan secara gratis oleh siapapun melalui situs www.adiutarini.id atau melalui siaran streaming di YouTube pada Sabtu, 13 Maret 2021 mulai pukul 19.00 sampai 21.00 WIB.
Dia berharap masyarakat nantinya ikut andil dalam memberikan donasi yang seluruhnya akan digunakan untuk pembangunan shelter.
Dalam menggalang donasi tersebut, mereka juga sudah bekerja sama dengan LazisNU DIY. Masyarakat bisa menyalurkan donasinya melalui laman s.id/homeconcert di situs http://jogja.nucare.id.
Melalui sistem ini, hasil donasi serta siapa saja yang berdonasi dapat dilihat secara terbuka oleh siapapun sebagai bentuk transparansi.
“Jadi selalu diupdate, siapa yang donasi, jumlahnya sekian, totalnya sekian, semuanya terbuka, dan semuanya akan disumbangkan,” ujarnya.
Seperti Mimpi di Siang Bolong
Rimawan merasa seperti sedang bermimpi di siang bolong ketika mendapatkan pesan dari Adi Utarini atau lebih akrab disapa Prof Uut yang tidak lain adalah istri Prof Iwan Dwiprahasto yang meninggal dunia pada Maret tahun lalu setelah terinfeksi COVID-19.
Saat itu, Rimawan hendak melakukan rapat internal dengan timnya di Sonjo untuk melakukan program Sonjo Husodo Tangguh, yakni membangun shelter-shelter untuk pasien COVID-19 di desa-desa terutama di Bantul.
Dalam pesannya, Prof Uut yang juga ahli di bidang musik klasik menyampaikan keinginannya untuk menggelar konser amal secara virtual. Dia menyampaikan bahwa donasi yang terkumpul dari konser amal itu akan diserahkan ke Sonjo.
“Saya kaget seperti mendapat dunia runtuh, rasanya hampir nangis sama tangan saya itu bergetar,” kata Rimawan.
Menurut dia, kini shelter-shelter sangat dibutuhkan terlebih dengan kapasitas rumah sakit yang semakin penuh. Saat ini, strategi penanganan COVID-19 menurut dia juga telah berubah, menggunakan pendekatan trace, test, isolate.
Dengan pendekatan ini, maka penanganan COVID-19 tidak lagi bersifat defensif, tapi ofensif.
“Jadi dengan pendekatan seperti itu, shelter ini sangat penting,” kata dia. (Widi Erha Pradana / YK-1)
