Kumparan Logo
Konten Media Partner

Konser Samsara UGM dan Sebuah Pertanyaan tentang Indonesia

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konser "Samsara" GMCO berlangsung pada Sabtu malam 30 Mei 2026. Foto: Dok. GMCO
zoom-in-whitePerbesar
Konser "Samsara" GMCO berlangsung pada Sabtu malam 30 Mei 2026. Foto: Dok. GMCO

Ketika konser “Samsara” Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 berakhir, sebagian besar penonton pulang membawa kesan tentang apa yang mereka lihat di atas panggung. Mereka melihat orkestra mahasiswa memainkan cerita tentang kehidupan, kehilangan, dan penerimaan.

Mereka melihat paduan suara dari Universitas Sanata Dharma, koreografi dari siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta, serta puluhan pemain musik yang berhasil mengubah lagu-lagu dari The Beatles, Sherina, Isyana Sarasvati, hingga Tchaikovsky menjadi satu cerita yang utuh.

Namun ada hal lain yang tertinggal setelah lampu auditorium dipadamkan pada Sabtu malam 30 Mei itu.

Konser itu dibangun oleh 119 mahasiswa panitia (di luar mahasiswa musisi dan kolaborator dari Universitas Sanata Dharma dan SMA 3 Yogya) dari puluhan disiplin ilmu yang berbeda.

Di balik panggung itu ada mahasiswa Teknik Nuklir yang mengurus logistik, mahasiswa Farmasi yang mencari sponsor, mahasiswa Arkeologi yang menjadi wakil project manager, mahasiswa Kedokteran Gigi yang mengurus kepanitiaan, hingga mahasiswa Teknologi Informasi yang menangani kebutuhan visual dan publikasi.

Mereka membangun organisasi. Mereka mencari dana. Mereka menjual tiket. Mereka mengelola proyek bernilai ratusan juta rupiah.

Yang menarik, sebagian besar pekerjaan tersebut sebenarnya berada di luar proses kreatif itu sendiri. Sebelum nada pertama dimainkan, mereka harus memastikan konser itu bisa hidup terlebih dahulu.

Proposal harus disusun. Sponsor harus dicari. Anggaran harus dihitung. Mitra harus diyakinkan. Tiket harus dijual. Semua pekerjaan yang dalam banyak organisasi profesional ditangani oleh divisi-divisi khusus, harus mereka lakukan sendiri di sela kuliah, praktikum, ujian, dan tugas akademik.

kumparan post embed

Grand Concert GMCO tahun ini membutuhkan biaya sekitar Rp200 juta untuk dapat terselenggara. Bagi sebagian organisasi mahasiswa, angka itu cukup besar. Namun yang menarik bukanlah nilai anggarannya, melainkan cara mereka mencapainya. Alih-alih menurunkan standar pertunjukan karena keterbatasan dana, mereka justru berhasil memperoleh dukungan yang melampaui target awal yang mereka susun.

Di satu sisi, kisah itu menunjukkan kemampuan luar biasa yang dimiliki para mahasiswa tersebut. Di sisi lain, kisah yang sama juga memunculkan sebuah pertanyaan yang lebih besar.

Mengapa mahasiswa harus bekerja sekeras itu hanya untuk memastikan sebuah konser mahasiswa dapat berlangsung? Pertanyaan itu membawa kita keluar dari auditorium dan masuk ke persoalan yang lebih luas.

Mahasiswa-mahasiswa GMCO sudah membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan yang tidak kecil. Mereka mampu mengelola proyek bernilai ratusan juta rupiah, memimpin tim lintas disiplin, mencari sponsor, membangun kolaborasi antar-kampus, sekaligus menjaga kualitas artistik pertunjukan yang mereka buat.

Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka cukup baik. Pertanyaannya adalah seberapa kuat sistem yang menopang mereka.

Perbedaan itu tampak jelas kalau kita tengok dalam kehidupan mahasiswa di kampus negara maju.

Di University of California, Los Angeles (UCLA), student government mengelola anggaran tahunan setara ratusan miliar rupiah, bukan untuk kegiatan eksklusif, tetapi untuk memastikan kehidupan kampus berjalan normal.

"Normal" di sana artinya ruang latihan yang tidak perlu diperebutkan, staf yang memang digaji untuk mendukung kegiatan mahasiswa, jaringan alumni yang telah terbangun selama puluhan (ratusan) tahun, serta sumber pendanaan yang relatif stabil.

Mahasiswa di sana tentu juga bekerja keras. Tetapi keras mereka dipakai untuk membuat karya yang lebih baik.

Di GMCO, keras itu dipakai untuk hal yang berbeda. Sebelum bisa memikirkan kualitas, mereka harus memikirkan keberlangsungan. Sebelum bisa berlatih, mereka harus memastikan konsernya bisa hidup.

Energi yang di tempat lain dipakai untuk naik, di sini dipakai untuk sekadar berdiri.

Perbedaan tersebut bukan semata soal semangat atau kreativitas mahasiswa. Ia juga berkaitan dengan kapasitas institusi yang menopang mereka.

Pada 2025, total dana riset yang dikelola seluruh perguruan tinggi Indonesia diperkirakan sekitar Rp8 triliun per tahun. Sebagai perbandingan, University of Wisconsin–Madison sendiri menghabiskan sekitar Rp31 triliun untuk penelitian dalam satu tahun. Sementara Stanford University memiliki dana abadi yang nilainya mencapai sekitar Rp600 triliun.

Angka-angka tersebut tidak otomatis menghasilkan mahasiswa yang lebih berbakat. Namun angka-angka itu menentukan seberapa besar dukungan yang tersedia ketika sebuah bakat ingin tumbuh.

Yang mengusik dari kisah GMCO adalah kenyataan bahwa mereka sudah melakukan hampir semua yang bisa dilakukan. Mereka belajar. Mereka berorganisasi. Mereka mencari sponsor. Mereka mengelola proyek. Mereka membangun kolaborasi lintas kampus, melibatkan paduan suara dari Universitas Sanata Dharma, koreografi dari SMAN 3 Yogyakarta. Mereka menciptakan pertunjukan yang kompleks. Mereka bahkan berhasil melampaui target pendanaan yang mereka susun sendiri.

Sulit meminta lebih banyak lagi dari mereka.

Maka pertanyaan yang tersisa setelah konser selesai bukan lagi tentang kemampuan mahasiswa-mahasiswa ini. Pertanyaannya adalah tentang semua pihak yang seharusnya berdiri di belakang mereka, tapi belum sepenuhnya ada.

Tentang Indonesia yang pendapatan per kapitanya sekitar Rp81 juta per tahun; hanya sepertiga Malaysia dan sekitar satu per delapan belas Amerika Serikat yang telah mencapai Rp1,44 miliar per tahun.

Tentang dunia usaha yang masih menganggap sponsorship kegiatan mahasiswa sebagai charity, bukan investasi.

Tentang jaringan alumni.

Yang membuat haru dari Grand Concert GMCO bukanlah kenyataan bahwa mereka berhasil membuat konser. Yang membuat haru adalah kesadaran bahwa mereka sudah memberikan hampir semua yang mereka miliki untuk mewujudkannya. Mereka sudah berlari ke sana-kemari sekuat-kuatnya, sejauh-jauhnya.

Dan ketika melihat itu, sulit untuk tidak bertanya: jika anak-anak yang sudah berhasil masuk ke UGM pun masih harus berlari sejauh ini, seberapa jauh jalan yang harus ditempuh oleh mereka yang tumbuh di 4.000-an kampus lain di Indonesia, yang tidak punya nama besar untuk membuka pintu, tidak punya jaringan alumni untuk mengetuk sponsor, dan tidak punya panggung untuk membuktikan bahwa mereka pun layak?

kumparan post embed