Kumparan Logo
Konten Media Partner

Lalu Muhamad Iqbal: Tim Medis Emergency Terbaik di Indonesia Ada di NTB

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal mengunjungi sebuah toko buku di Gelanggang Inovasi dan Kreatifitas (GIK) UGM, usai melayani wawancara dengan Pandangan Jogja di Kedai Kopi Pinarak, UGM, pekan terakhir September 2026 lalu. Foto: ESP
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal mengunjungi sebuah toko buku di Gelanggang Inovasi dan Kreatifitas (GIK) UGM, usai melayani wawancara dengan Pandangan Jogja di Kedai Kopi Pinarak, UGM, pekan terakhir September 2026 lalu. Foto: ESP

Penyelenggaraan MotoGP Mandalika membawa dampak yang mungkin tidak banyak terlihat dari luar Nusa Tenggara Barat (NTB), yakni, meningkatnya kemampuan tenaga medis dalam menangani kondisi kegawatdaruratan.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan tuntutan standar medis Dorna (MotoGP Sports Entertainment Group) membuat tenaga medis yang sehari-hari bekerja di rumah sakit pemerintah harus memiliki kemampuan menangani kondisi emergency dengan standar internasional.

Iqbal menyebut, berkat InJourney KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Mandalika, NTB kini memiliki ICU mobile, kemampuan medical evacuation menggunakan helikopter maupun pesawat, hingga rumah sakit dengan fasilitas helipad. Menurutnya, kemampuan tersebut tidak hanya digunakan ketika MotoGP berlangsung karena tenaga medis yang menangani balapan merupakan tenaga kesehatan yang sehari-hari bekerja di rumah sakit di NTB.

Menjelang MotoGP Mandalika pada 9–11 Oktober 2026, Pandangan Jogja berbincang dengan Lalu Muhamad Iqbal di Yogyakarta pada pekan terakhir September mengenai dampak Mandalika yang lebih luas bagi NTB.

Berikut petikan wawancaranya.

Selain pariwisata, apa dampak Mandalika yang mungkin tidak banyak diketahui masyarakat?

MotoGP Mandalika. Foto: Dok. InJourney

Mereka perlu memiliki tim medis yang standarnya Dorna (MotoGP Sports Entertainment Group). Standar Dorna itu sama dengan standarnya Olimpiade kemampuannya. Nah, kamilah yang memenuhi itu dari RSU pemerintah.

Jadi kalau dilihat, tim medis emergency terbaik sekarang di Indonesia itu adanya di NTB. Karena standar kami sudah internasional. Tim medis kami itu standarnya sudah internasional.

Kami sudah punya ICU yang mobile. Kami sudah punya semua yang mobile. Jadi standar-standar kami sudah standar internasional. RSUP kami sudah punya helipad di atas. Mulai dari kemampuan menangani pasien, kemampuan melakukan medical evacuation, mau pakai heli, mau pakai pesawat, sudah.

Tapi penyelenggaraan event internasional hanya beberapa kali, sementara pelayanan kesehatan berlangsung setiap hari. Bagaimana menjaga kemampuan itu?

Tim dokter itu kan tim dokter yang ada di tempat kami. Yang sehari-hari memang bekerja di RSUP kami. Jadi kami hanya meningkatkan kapasitas tenaga medis yang sudah ada.

Artinya standar pelayanan kesehatan di NTB ikut naik, terutama untuk emergency?

Emergency. Iya.

Makanya tadi saya sarankan untuk (jurusan) kedokteran (rencana pendirian Universitas Negeri Yogyakarta di Lombok), untuk mengembangkan kedokteran sport. Karena kita sudah punya tenaganya.

Ini kemudian berkaitan dengan rencana pengembangan sport tourism di NTB?

Sinkron dengan itu karena kita kan ingin mengembangkan sport tourism. Ingin mengembangkan sport tourism ke depan di Indonesia di sana.

kumparan post embed

Karena itu kita dorong supaya masuk juga sport science. Sport science itu termasuk medical sport. Itu kan nanti bisa menciptakan tenaga kerja. Kita kirim ke negara-negara di mana sport-nya maju.

Ada dampak Mandalika terhadap kemampuan tenaga lokal selain bidang medis?

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal saat melayani wawancara dengan Pandangan Jogja di Kedai Kopi Pinarak, UGM, pekan terakhir September 2026 lalu. Foto: ESP

Dulu sampai marshal saja kita harus impor dari luar. Sekian ratus orang ini. Sekarang marshal 100 persen dari masyarakat sekitar. Dan bahkan marshal kita itu disewa kalau ada penyelenggaraan MotoGP di Thailand. Dorna langsung yang melatih.

Tukang cat saja, buat ngecat jalan itu saja, harus impor dari bule-bule itu di awal-awal. Sekarang kita sudah bisa semua. Yang merawat sirkuit dan sebagainya sudah orang kita sendiri.

Artinya kalau dia bisa merawat sirkuit kita, dia bisa merawat ratusan sirkuit lainnya yang ada, baik F1 maupun MotoGP, yang ada di seluruh dunia. Itu kan peluang.

Ini bukan hanya soal MotoGP. Ini soal momentum untuk membuat pariwisata kita itu cepat naiknya. Sport tourism di NTB.

Kalau publik nasional melihat NTB hari ini, Anda ingin mereka melihat NTB seperti apa?

Foto: Dok. Pemda NTB

NTB bersama InJourney itu adalah laboratorium pengembangan pariwisata model baru.

Kita bersama InJourney dan pemerintah pusat lagi mencoba membangun model baru pariwisata yang mengkombinasikan semua potensi yang ada di NTB, mulai dari laut, gunung, pulau-pulau kecil yang jumlahnya lebih dari 400.

Kami punya populasi hiu paus terbesar di Indonesia di Teluk Saleh. Kami punya tempat-tempat diving yang luar biasa indah.

Kami memiliki dua gunung yang luar biasa, Gunung Tambora dan Gunung Rinjani, yang pernah menggetarkan dunia.

Dan kami punya sejarah. Kami punya kota-kota tua yang menjadi ikon. Kota Ampenan adalah ikon dari perdagangan sejak abad ke-17 di Indonesia Timur, koneksi antara Asia dengan Australia pada saat itu.

Gunung Rinjani dulu meletus dan menciptakan abad es mini di abad ke-13. Tambora menyebabkan dua tahun di Eropa tanpa musim panas.

Jadi kami punya sejarah, kami punya cerita, kami punya alam. Kami punya segalanya dan kami sedang melakukan eksperimen untuk membangun pariwisata yang berbeda.

Banyak warga Jogja yang akan datang ke Mandalika dan mendukung Veda Ega Pratama. Apa pesan Anda?

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal mengunjungi sebuah toko buku di Gelanggang Inovasi dan Kreatifitas (GIK) UGM, usai melayani wawancara dengan Pandangan Jogja di Kedai Kopi Pinarak, UGM, pekan terakhir September 2026 lalu. Foto: ESP

Kami mengundang masyarakat Jogja untuk hadir menyaksikan edisi kelima MotoGP Mandalika yang akan berlangsung tanggal 9 sampai 11 Oktober, puncaknya adalah tanggal 11 Oktober.

Tetapi insyaallah kunjungan masyarakat Jogja tidak sekadar hanya untuk hadir memberikan dukungan kepada Veda, tapi kesempatan untuk melihat destinasi baru, destinasi yang berbeda dengan yang ada di Jogja.

Destinasi wisata yang berbeda, destinasi yang berbasis sport tourism, yang sedang menggeliat, mencoba membangun ekosistem baru pariwisata, model baru pariwisata di Indonesia, insyaallah.

NTB punya tawaran yang banyak. NTB adalah daerah wisata yang memiliki kedekatan antara gunung, kemudian dengan pantai, kemudian sport tourism dengan culture, semua blended jadi satu di dalam pariwisata NTB.

Kami mengundang teman-teman untuk bisa hadir. Kalau datangnya lebih cepat mungkin bisa nyoba sirkuit. Dan yang jelas di sekitar Sirkuit Mandalika ini ekosistem pariwisata sudah mulai tumbuh.

Mandalika itu adalah salah satunya. Anda pergi ke Rinjani akan melihat suguhan tujuan wisata yang berbeda di kaki Gunung Rinjani, 1.200 mdpl ke atas. Ada Senggigi dan Pantai Sire. Kemudian ada tiga Gili, Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno dan gili-gili lain.

Anda mau surfing? Kami punya tempat yang terbaik di dunia. Anda mau diving? Kami juga punya tempat yang terbaik di dunia.

Dan insyaallah connectivity ke NTB sekarang sudah lebih baik.

Khusus untuk Veda?

instagram embed

Veda sekarang adalah model buat anak muda Indonesia, khususnya di sport tourism.

Veda harus berhasil, harus menang. Kami semua berada di belakang Veda. Kasih semangat dan motivasi. Ini cara Veda untuk ikut mendorong anak-anak muda untuk tumbuh.

Saya juga lulusan Jogja.

Jadi sebagai alumni Jogja yang kebetulan jadi Gubernur NTB, kami juga ikut mendukung Veda untuk berhasil. Kami berdiri di belakang Veda untuk berhasil.