LSD pada Sapi Tak Menular ke Manusia, Kenapa Dagingnya Tak Layak Konsumsi?

Konten Media Partner
10 Maret 2022 16:53
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Peternak menunggui sapi miliknya yang dijual di pasar hewan, Ngawi, Jawa Timur, Selasa (1/3/2022).  Foto: Ari Bowo Sucipto/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Peternak menunggui sapi miliknya yang dijual di pasar hewan, Ngawi, Jawa Timur, Selasa (1/3/2022). Foto: Ari Bowo Sucipto/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) yang menginfeksi sapi ditemukan di Riau beberapa hari yang lalu. Penemuan ini sampai mendapat sorotan media Australia, ABC. Dalam laporan yang diterbitkan Jumat (4/3) kemarin, ABC menyebutkan bahwa Australia terancam tidak bisa mengekspor sapi hidup ke Indonesia karena ditemukannya penyakit tersebut.
ADVERTISEMENT
“Ini juga akan berdampak pada industri daging dan susu,” kata Kepala Kantor Veteriner Australia, Mark Schipp kepada ABC.
Kepala Seksi Informasi Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, Basuki Rochmat, mengatakan sebenarnya penyakit ini tidak menular ke manusia, meski persebarannya di antara ternak satu dengan yang lainnya cukup cepat.
“Tidak menular ke manusia,” kata Basuki Rochmat ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (10/3).
Kendati tak menular ke manusia, namun daging ternak yang terinfeksi LSD menurutnya tidak layak dan tidak diperkenankan untuk dikonsumsi oleh manusia. Sebab, daging sapi atau ternak lain yang dikonsumsi oleh manusia harus memenuhi standar kesehatan yang ditetapkan dan tidak boleh mengandung penyakit apapun.
“Walaupun tidak menular, masa mau makan daging yang mengandung penyakit?” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Apalagi jika daging tersebut akan digunakan untuk kepentingan industri. Proses pemeriksaan daging tentu akan semakin ketat, dan daging-daging sapi yang terinfeksi LSD tak akan lolos. Hal itu tentu akan sangat merugikan bagi para peternak sapi jika sampai penyakit ini menyebar semakin luas.
Lumpy Skin Disease (LSD). Foto: Info Publik
zoom-in-whitePerbesar
Lumpy Skin Disease (LSD). Foto: Info Publik
Hal serupa disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Wasito. Menurutnya, penyakit yang disebabkan oleh virus Capripoxvirus ini memang tidak bersifat zoonosis sehingga tidak menular ke manusia.
“Tidak bersifat zoonosis. Penularan terjadi terutama pada sapi lain dan kerbau,” kata Wasito seperti dikutip dari UGM.ac.id, Rabu (9/3).
Meski tak menular ke manusia, namun dia mengatakan daging sapi atau kerbau yang terinfeksi LSD memang tidak layak untuk dikonsumsi. Hal itu karena daging ternak yang terinfeksi LSD mengalami kekurangan nutrisi protein, terutama asam amino yang sebelumnya digunakan untuk replikasi virus.
ADVERTISEMENT
“Daging sapi penderita LSD tidak layak dikonsumsi. Daging tersebut mengalami lack of nutrient protein asam amino,” ujarnya.
Karena tak layak konsumsi, Wasito menyarankan ternak yang terinfeksi LSD harus diisolasi dari ternak-ternak lain yang masih sehat, dan kemudian dimusnahkan supaya tidak menularkan penyakitnya ke ternak-ternak lain.
Sebagai informasi, penyakit LSD ini akan menyebabkan luka benjolan pada kulit ternak yang bisa menjangkau ke seluruh bagian tubuh. Penyakit ini juga akan menimbulkan demam, membuat ternak kehilangan nafsu makan dan penurunan produksi susu, bahkan kemungkinan paling parah akan menyebabkan kematian pada sapi atau kerbau yang terinfeksi.