Mahfud MD: Indonesia Perlu Kimia seperti yang Dimiliki Putri Sulung Sultan HB X
·waktu baca 4 menit

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD datang langsung di Jogja pada Sabtu (26/2) malam untuk memberi kata sambutan peluncuran sebuah kado buku berjudul,’GKR Mangkubumi, Penyambung Budaya Adiluhung dan Peradaban Indonesia Modern.’
“GKR Mangkubumi lahir dan dibesarkan di pusat budaya adiluhung. Tapi dia juga sekolah di luar negeri dan pergaulannya ke dunia masa depan. Tapi hidupnya begitu merakyat. Maka Indonesia perlu kimia seperti yang dimiliki GKR Mangkubumi ini,” kata Mahfud di Ndalem Punakawan, Sabtu (26/2) malam.
GKR Mangkubumi adalah putri sulung Raja Jogja, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang pada 24 Februari ini berulangtahun ke-50. Perayaan diadakan pada Sabtu (26/2) dengan salah satunya ditandai dengan pemberian dan peluncuran sebuah buku sebagai kado usia emas GKR Mangkubumi.
Mahfud menjelaskan, Indonesia memiliki ideologi negara yang bernama Pancasila yang dalam sejarahnya merupakan kristalisasi nilai-nilai utama masyakat Indonesia.
Jadi Pancasila, menurut Mahfud, adalah budaya unggul, budaya adiluhung, budaya penuh kehalusan, penuh rasa keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa, penuh kemanusiaan, bersatu dan bergotong royong, suka musyawarah, dan suka keadilan sosial.
Itulah nilai-nilai budaya adiluhung bangsa yang dalam tingkah laku sehari-hari menimbulkan kesantunan, persaudaraan, persahabatan, dan sebagainya.
“Pancasila juga ada yang menjadi hukum, yakni UUD dan sebagainya yang ditegakkan oleh pemerintah, hakim dan jaksa. Tapi banyak nilai Pancasila yang tidak menjadi hukum. Orang kalau tidak melakukan nilai ini tidak ada konsekensi hukumnya. Itulah yang mucul sebagai kesadaran tingkah laku. Sopan santun dan kesederhanaan misalnya, kalau tidak melakukannya tidak ada konsekuensi hukum. Karena ini nilai mulia, budaya adiluhung yang dikerjakan sehari-hari tanpa menjadi hukum (posifif),” jelas Mahfud.
Namun masalahnya Indonesia hari ini menghadapi masa depan di mana masyarakat Indonesia dan dunia berubah. Budaya adiluhung yang semakin terkikis. Setiap hari orang saling mencaci maki, sopan santun terkikis, orang pamer kemewahan, keglamoran, dan kerakusan, seperti tak ada lagi budaya yang dibanggakan dari bangsa ini.
“Semua nilai hari ini bertarung apalagi sekarang batas-batas antar negara sudah tak ada lagi, sehingga kita perlu penyambung. Nah di sinilah kita lihat salah satu penyambung (budaya adiluhung ke dunia hari ini) ada di di GKR Mangkubumi,” kata Mahfud, seraya bertanya, “kenapa?”
Mahfud menjawab pertanyaannya sendiri, hal itu karena GKR Mangkubumi lahir dan dibesarkan di pusat budaya adiluhung. Tapi dia juga pergaulannya ke dunia masa depan dan dengan bisa menjaga hidup sehari-harinya dengan begitu merakyat.
Menurut Mahfud, hal itu tentu lahir dari suasana kehidupan dan penghidupan yang dibangun oleh Sri Sultan HB X bersama Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, yang selama ini menjunjung budaya adiluhung sekaligus sangat merakyat seperti orang kebanyakan.
“Banyak kesan saya tentang keluarga ini sehingga saya bisa katakan inilah penyambung budaya Adiluhung yang dibawa ke masa depan penuh tantangan besar.”
Mahfud menjelaskan GKR Mangkubumi sekolahnya di Jogja, lalu ke luar negeri menerabas modernitas, Amerika, Australia, Singapura dengan membawa bekal budaya Adiluhung dari rumah. Hidup dengan budaya Adiluhung dan modern itulah, menurut Mahfud, menjadi bekal penting untuk Indonesia ke depan.
“Indonesia perlu kimia seperti yang dimiliki GKR Mangkubumi. Saya berdoa semoga panjang umur. Selamat dan sejahtera, teruslah berjuang untuk masa depan Indonesia. Indonesia menunggu GKR Mangkubumi, sebagai penyambung budaya adiluhung dan peradaban Indonesia Modern,” pungkas Mahfud.
Dalam tulisannya yang oleh editor buku diambil sebagai judul buku, Menko Polhukam, Mahfud MD, mengatakan bahwa sebagai puteri pewaris tahta atau pemangku kerajaan di Jawa yakni Sri Sultan HB X maka Gusti Mangkubumi tentu bukan orang kaleng-kaleng.
Posisi sosialnya tinggi, kekayaan materinya tentu lebih dari cukup. Apalagi secara kultural seorang puteri Ngarso Dalam (panggilan untuk Sri Sultan HB X) yang bergelar Mangkubumi tentulah tokoh istimewa di lingkungan Sultan itu sendiri.
“Kalau mau, bisa saja dia hidup angkuh atau menempuh hidup hedonis dengan gamour. Tetapi Mangkubumi yang sering disebut Mbak Mngku ini orangnya sangat sederhana dan ramah, tampil seperti orang kebanyakan. Kalau meminjam istilah zaman sekarang, Mbak Mangku ini tidak suka jaim (jaga imaje),” tulis Mahfud MD.
Peluncuran kado buku tersebut dihadiri Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan HB X dan permaisurinya GKR Hemas, seluruh adik kandung dari GKR Mangkubumi, mulai dari GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GKR Hayu dan GKR Bendara. Beberapa tokoh yang hadir, selain para pemimpin daerah dan tokoh masyarakat Jogja juga dihadiri tokoh-tokoh nasional seperti Mahfud MD, Profesor Sutaryo, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Profesor Yudian Wahyudi dan Gus Muwafiq.
Buku setebal 362 halaman ini terdiri dari 3 bab yang secara berurutan berisi kesaksian dari keluarga dekat GKR Mangkubumi, para tokoh, dan sahabat.
Diterbitkan oleh GKR (Gerakan Kemanusaiaan Republik) Indonesia dan Galang Press, buku ini disupervisi langsung oleh GKR Condrokirono dan GKR Hayu, dengan storyteller dan editor Widihasto Wasana Putra dan Co Value Storyteller Eko Sugiarto Putro. ( Anasiyah Kiblatovski / YIA-1)
Konten ini adalah wujud kerjasama GKR Indonesia dengan Pandangan Jogja @Kumparan.
