Kumparan Logo
Konten Media Partner

Makam di Kulon Progo Diduga Milik Prajurit Diponegoro, IKPNI DIY: Harus Diteliti

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Puluhan makam di Kalibawang, Kulon Progo, yang diduga makam prajurit Pangeran Diponegoro. Foto: Dok. Google Maps
zoom-in-whitePerbesar
Puluhan makam di Kalibawang, Kulon Progo, yang diduga makam prajurit Pangeran Diponegoro. Foto: Dok. Google Maps

Puluhan makam tanpa identitas di Dusun Ngipikrejo, Kalurahan Banjarharjo, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, diduga merupakan tempat peristirahatan para prajurit Pangeran Diponegoro.

Menanggapi hal itu, Ketua Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) DIY, GBPH H. Prabukusumo, menyebut perlu ada penelitian lebih lanjut mengenai makam tersebut.

“Apakah sudah ada studi kebenarannya? Harus ada penelitian berkelanjutan. Apabila itu benar, maka itu merupakan penemuan luar biasa,” ujar Gusti Prabu saat dihubungi Pandangan Jogja, Minggu (27/7).

Temuan makam-makam tua tanpa nisan ini pertama kali dilaporkan oleh warga. Lokasinya berada di dekat permukiman dan masjid, namun belum ada kepastian identitas siapa yang dimakamkan di sana. Beberapa warga menduga makam tersebut merupakan kuburan prajurit Diponegoro yang gugur dalam Perang Jawa (1825–1830).

Wamensos RI, Agus Jabo (kiri) dan Ketua IKPNI DIY, GBPH Prabukusumo (tengah) saat menghadiri peringatan 200 tahun Perang Jawa di Sleman. Foto: Pandangan Jogja/Istimewa

Gusti Prabu menyatakan, jika dugaan tersebut dapat dibuktikan secara akademis dan arkeologis, maka temuan ini bisa menjadi bahan penting dalam pembelajaran sejarah nasional, khususnya untuk generasi muda.

“Kalau benar, maka hal itu dapat dijadikan sebuah sejarah tentang pemuda kita yang dulu berjuang sampai titik darah penghabisan. Ini penting untuk membuat pemuda-pemudi kita mengintrospeksi diri—sudah seberapa besar pengabdian kita kepada bangsa dan negara Republik Indonesia?” kata adik Sri Sultan Hamengkubuwono X tersebut.

Ia juga menyebut bahwa lokasi itu bisa menjadi simbol nyata dari “makam pahlawan tanpa tanda jasa” yang selama ini dikenal sebagai istilah simbolik.

Guna memastikan pelestarian situs, Gusti Prabu menyatakan kesiapan untuk menjalin komunikasi dengan instansi terkait seperti Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata DIY agar temuan ini bisa dikaji dan dilestarikan secara bertanggung jawab. Namun, ia menegaskan bahwa klaim apa pun harus berbasis bukti sahih.

“Maaf, tidak elok kalau saya berpendapat tanpa bukti otentik. Tapi ini perlu disikapi secara serius dengan kajian akademik,” ujar Gusti Prabu.