Kumparan Logo
Konten Media Partner

Marhaenisme Dinilai Relevan Jadi Perangkat Kritis Gen-Z Hadapi Tantangan Zaman

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penyelenggaraan Forum Praksis seri ke-23 bertema “Proklamasi Kemerdekaan, Marhaenisme, dan Gen-Z” di Jakarta, Jumat (14/8/2026). Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Penyelenggaraan Forum Praksis seri ke-23 bertema “Proklamasi Kemerdekaan, Marhaenisme, dan Gen-Z” di Jakarta, Jumat (14/8/2026). Foto: Istimewa

Generasi Z atau Gen-Z dinilai membutuhkan perangkat kritis baru untuk menghadapi berbagai persoalan yang tidak semata-mata bersumber dari karakter pribadi, tetapi juga kondisi struktural seperti kerentanan ekonomi gig, kecemasan iklim, ketimpangan digital, hingga berbagai krisis kemanusiaan.

Pengajar Departemen Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga sekaligus Direktur Centre for Governance and Citizenship Studies (CGCS), Airlangga Pribadi Kusman, mengatakan perangkat kritis tersebut dapat ditemukan kembali dalam gagasan Bung Karno, khususnya Marhaenisme.

Menurut dia, Marhaenisme dibutuhkan untuk menjaga kesadaran kritis dan akal sehat di tengah memburuknya kualitas demokrasi dan penggerusan supremasi sipil.

Airlangga menyampaikan pandangan tersebut dalam Forum Praksis seri ke-23 bertema “Proklamasi Kemerdekaan, Marhaenisme, dan Gen-Z” di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Forum tersebut merupakan kerja sama PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesuit), Yayasan Hatta, dan Yayasan Bung Karno.

Penyelenggaraan Forum Praksis seri ke-23 bertema “Proklamasi Kemerdekaan, Marhaenisme, dan Gen-Z” di Jakarta, Jumat (14/8/2026). Foto: Istimewa

Forum Praksis tersebut dihadiri antara lain oleh Halida Hatta, putri kedua Bung Hatta, serta Levana Taufan Sukarno, istri almarhum Taufan Soekarnoputra.

Airlangga yang bersama Rocky Gerung menulis buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen-Z (2026) mengatakan Gen-Z belakangan tidak jarang dipandang dengan nada miring, antara lain disebut sebagai “generasi strawberry” yang apolitis dan rapuh sehingga masih membutuhkan bimbingan generasi tua. Persoalan yang dihadapi Gen-Z juga kerap dianggap bersumber dari karakter pribadi.

Padahal, menurut Airlangga, berbagai kondisi dan tantangan yang dihadapi Gen-Z merupakan implikasi dari sistem kapitalisme-neoliberal yang diwariskan generasi-generasi sebelumnya. Jika generasi Bung Karno menghadapi kolonialisme yang represif dan ekstraktif, bentuk tantangan yang dihadapi generasi sekarang telah berubah.

“Sekarang ini kolonialisme mewujud dalam berbagai bentuk, termasuk eksploitasi oleh kapitalisme berbasis data dan platform atau platform capitalism,” kata Airlangga.

Penyelenggaraan Forum Praksis seri ke-23 bertema “Proklamasi Kemerdekaan, Marhaenisme, dan Gen-Z” di Jakarta, Jumat (14/8/2026). Foto: Istimewa

Berhadapan dengan kondisi tersebut, Airlangga menawarkan konsep Marhaenisme Bung Karno sebagai pijakan bertindak bagi Gen-Z. Marhaenisme, menurut dia, dapat digunakan untuk membedah ketimpangan struktur politik tanpa terjebak dalam politik elektoral pragmatis.

Dari Marhaenisme, kata Airlangga, Gen-Z dapat mempelajari posisi rakyat ketika berhadapan dengan kekuasaan yang represif. “Marhaenisme membantu Gen-Z untuk meletakkan politik anti-kekerasan dan rasionalitas sebagai jalan menuju kedaulatan serta keadilan sosial,” ujarnya.

Airlangga menegaskan Marhaenisme bukan sekadar nostalgia ataupun warisan sejarah yang indah. Marhaenisme dipandang sebagai jembatan dialektika untuk membongkar realitas struktural yang mengekang Gen-Z sekaligus memandu aksi sosial generasi muda.

Karena itu, ia mengajak anak muda Indonesia tidak bersikap apatis terhadap persoalan bangsa. “Kaum muda harus lebih aktif dalam memahami persoalan politik serta struktur sosial di era digital seperti sekarang ini,” kata Airlangga.

Penyelenggaraan Forum Praksis seri ke-23 bertema “Proklamasi Kemerdekaan, Marhaenisme, dan Gen-Z” di Jakarta, Jumat (14/8/2026).Foto: Istimewa

Dalam forum yang sama, pengurus Yayasan Bung Karno, Bambang Eryudhawan atau Yudha, menekankan pentingnya mempelajari kembali arsip-arsip tertulis maupun foto terkait peristiwa Proklamasi Kemerdekaan.

Menurut Yudha, pencermatan terhadap berbagai arsip menunjukkan adanya detail narasi yang berbeda satu sama lain mengenai momen Proklamasi. Narasi yang ditulis Sudiro, misalnya, berbeda dengan narasi yang disampaikan SK Trimurti, Bung Karno, ataupun Bung Hatta.

Meski memiliki detail yang berbeda, Yudha mengatakan berbagai narasi tersebut pada dasarnya menyampaikan pesan yang sama, yakni bahwa pada 17 Agustus 1945, melalui Sukarno dan Hatta, bangsa Indonesia dengan gagah berani memproklamasikan kemerdekaannya.

Dalam perjalanan berikutnya, kata Yudha, kemerdekaan tersebut harus dipertahankan oleh rakyat Indonesia melalui pengorbanan jiwa dan raga.