Kumparan Logo
Konten Media Partner

Mengintip Dunia Ular dan Buaya Muara di Kepala Seorang Sarjana Sastra Arab UGM

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

“Dunia yang isinya hanya manusia itu sangat mengerikan”

Kurniawan bersam abuaya muara titipan. Foto: Widi Erha Pradana
zoom-in-whitePerbesar
Kurniawan bersam abuaya muara titipan. Foto: Widi Erha Pradana

Selepas ashar, Kurniawan, 30 tahun mengeluarkan sebuah boks berukuran cukup besar dari dalam rumahnya di Wonokromo, Pleret, Bantul dengan hati-hati. Boks itu terikat oleh dua buah karet ban. Dari dalam boks itu, terdengar suara geraman yang berat. Sesekali, boks itu terguncang, seperti ada sesuatu yang hendak mendobrak dan keluar dari dalamnya.

Perlahan, Kurniawan melepas satu demi satu karet yang mengunci boks itu. Dengan hati-hati, dia mulai melepas tutup boks, dan seketika seekor buaya muara berukuran sekitar 1,5 meter melompat hendak keluar dari dalam boks yang terlalu kecil untuk ukuran tubuhnya.

“Ini titipan, dari penghobi diserahkan ke saya, sore ini mau diserahkan ke BKSDA,” kata Kurniawan tenang meski di hadapannya si buaya itu makin berontak mencoba untuk keluar boks, Rabu (18/8).

Ini bukan kali pertama Kurniawan diserahi buaya muara dari para penghobi. Tahun ini saja, dia sudah enam kali menerima buaya muara untuk diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Yogyakarta.

Menurutnya, buaya muara memang jadi spesies buaya favorit bagi para penghobi reptil buaya. Sebab, buaya muara merupakan jenis yang paling mudah dibuat jinak dan paling cepat pertumbuhannya dibandingkan jenis buaya lainnya.

“Ketahanan tubuhnya juga kuat, tiga bulan enggak makan saja masih hidup buaya itu,” ujarnya.

Sambil bercerita, Kurniawan mulai menyemprot tubuh buaya yang diperkirakan berusia 5 tahun itu supaya lebih tenang. Dan benar saja, beberapa saat setelah tubuhnya basah oleh air yang disemprotkan Kurniawan, buaya tersebut perlahan tenang dan tak mencoba untuk keluar dari dalam boks lagi.

Kurniawan menerima sertifikat konservatori dari Kepala Resort Konservasi Wilayah Bantul Balai KSDA Yogyakarta, Sujiyono. Foto: Widi Erha Pradana

Tak berselang lama, Kepala Resort Konservasi Wilayah Bantul Balai KSDA Yogyakarta, Sujiyono, tiba di kediaman Kurniawan yang juga menjadi tempat tinggal puluhan, atau bahkan ratusan ekor reptil mulai dari ular, kura-kura, iguana, soa layar, hingga biawak. Sujiyonolah yang akan mengambil buaya muara dari rumah Kurniawan dan kemudian akan dipindahkan ke Stasiun Flora Fauna Taman Hutan Raya Bunder, Gunungkidul, sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitat alaminya.

Menurut Sujiyono, perdagangan satwa liar dilindungi, khususnya buaya memang cukup tinggi di DIY. Terakhir pada Februari kemarin, BKSDA bersama Subdit Gakkum Ditpolairud Polda DIY berhasil mengamankan lima ekor buaya muara yang diperjualbelikan secara ilegal dan membekuk para pemiliknya.

“Termasuk tinggi, karena Polda dan Ditpolairud sudah melakukan tindakan beberapa kali, dan mas Kurniawan sudah menerima 6 kali tahun ini saja. Kebanyakan alasannya itu karena tidak tahu bahwa buaya itu dilindungi,” kata Sujiyono.

Kurniawan adalah satu dari sekian banyak kader yang mendapat pendampingan Balai KSDA untuk membantu kegiatan konservasi satwa liar. Menurut Sujiyono, keberadaan Kurniawan dan kader-kader lainnya sangat penting untuk bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas terutama untuk memberikan edukasi.

Karena selama ini banyak pemelihara satwa liar dilindungi yang sebenarnya ingin menyerahkan peliharaannya kepada BKSDA, tapi mereka takut kalau nantinya justru bisa dijerat pasal pidana.

“Karena itu mereka menyerahkan ke BKSDA lewat mas Kurniawan. Pendekatan kami itu lebih persuasif, tidak langsung menindak, beda kalau sudah ditangani Polairud itu pasti langsung ditindak,” ujarnya.

Jurusan Sastra Arab tapi Jatuh Cinta Pada Reptil

Foto: Widi Erha Pradana

Kecintaan Kurniawan pada satwa liar, terutama reptil bermula ketika dia melihat kawannya memelihara ular piton pada 2014. Sebelumnya, dia sangat asing dan memandang ular sebagai hewan yang menakutkan. Apalagi dia saat itu adalah mahasiswa Sastra Arab di UGM, yang tentunya tak pernah bersinggungan dengan satwa liar, apalagi dengan ular.

“Saya lihat kok itu ular bisa dipegang, enggak gigit, terus makin penasaran sepertinya pelihara ular asik juga,” ujarnya.

Dua tahun berselang, pada 2016 dia sudah mulai bisa menangkarkan ular sendiri. Salah satu ular yang pertama dia tetaskan adalah Malayopython reticulatus atau sanca batik yang dia peroleh dalam bentuk telur dari seorang kawan di Kalimantan. Telur itu kemudian coba dia tetaskan dan berhasil. Hasil penetasan pertamanya sampai saat ini masih ada di penangkarannya, seekor sanca batik betina yang dia namai Surtikanti. Saat ini, panjang Surtikanti sudah hampir 7 meter dengan bobot sekitar 80 kilogram.

“Ini sedang bunting yang pertama, paling dua mingguan lagi bertelur,” ujarnya.

Sukses dengan penetasan pertamanya, Kurniawan makin tertarik dengan dunia reptil terutama ular. Dan sejak saat itu sampai saat ini, setiap tahun dia selalu berhasil menetaskan telur ular di penangkarannya. Saat ini, sudah ada sekitar 20 spesies reptil yang ada di penangkaran miliknya, mulai dari ular, kura-kura, iguana, soa, hingga biawak.

Lama-lama, Kurniawan mulai berpikir bahwa satwa-satwa liar itu habitat alaminya adalah hutan, bukan kandang. Jika diburu terus, maka otomatis satwa-satwa tersebut akan punah, cepat atau lambat. Dari situ dia mulai merasa memiliki tanggung jawab untuk melestarikan satwa-satwa tersebut dengan ikut melepasliarkan hasil penangkarannya ke alam. Dia juga aktif untuk memberikan edukasi di dalam komunitas para pecinta dan penghobi satwa liar, khususnya reptil.

“Pada 2018, saya direkrut oleh BKSDA untuk menjadi kader konservasi, sejak saat itu makin aktif sosialisasi, edukasi,” kata Kurniawan.

Kurniawan juga aktif dalam menangani konflik satwa dan manusia, terutama di Gunungkidul sebagai kabupaten di DIY yang paling banyak terjadi konflik satwa vs manusia. Misalnya konflik-konflik yang pernah dia tangani adalah konflik antara manusia dengan monyet ekor panjang, landak, dan anjing liar yang kerap memakan hewan ternak warga.

Memutus Rantai Perburuan dan Perdagangan Ilegal

Salah satu ular yang sedang dirawat Kurniawan. Foto: Widi Erha Pradana

Dalam mata rantai hobi satwa liar, terdapat empat komponen utama, yakni pemburu, pengepul, reseller atau penjual, baru terakhir penghobi atau kolektor. Dengan memiliki penangkaran, Kurniawan berharap bisa menyediakan satwa liar untuk para penghobi tanpa harus berburu di dalam hutan.

Dengan begitu, dia bisa memutus dua mata rantai yakni pengepul dan pemburu. Sebab jika tidak ada lagi permintaan dari penghobi, maka pengepul tidak akan mengepul satwa liar dari pemburu. Dan ketika pengepul tidak membeli satwa liar dari pemburu, otomatis pemburu juga enggan untuk berburu karena tidak memiliki nilai ekonomi lagi.

Apalagi untuk hobi, satwa liar yang ditetaskan di dalam kandang atau penangkaran menurutnya lebih cocok untuk dipelihara.

“Ngapain beli tangkapan liar, galak, mudah stress. Kalau mau lebih baik pelihara hasil tetasan kandang. Dengan saya menyediakan stok ke reseller kan sama saja menyelamatkan yang di hutan,” ujarnya.

Sampai saat ini, permintaan paling banyak dari para penghobi reptil memang jenis sanca batik atau sanca kembang. Sebenarnya banyak juga permintaan satwa liar dilindungi seperti penyu atau buaya. Menghadapi penghobi seperti itu, Kurniawan memilih jalan persuasif dengan cara memberikan edukasi pelan-pelan. Sebenarnya bisa saja dia melaporkan langsung ke BKSDA atau bahkan ke Polda untuk segera ditindak.

“Tapi saya lebih memilih persuasif, kalau enggak yang ada nanti mereka malah dendam,” ujar Kurniawan.

Siap Buka Sekolah Konservasi

Iguana koleksi Kurniawan. Foto: Widi Erha Pradana

Jika saja tidak ada PPKM, Kurniawan sudah membuka sekolah konservasi untuk anak-anak yang ada di sekitar tempat penangkarannya. Meskipun menangkarkan satwa-satwa liar, namun lokasi penangkarannya tidak berada di tepi hutan yang terisolasi dari masyarakat sekitar. Bahkan, lokasi penangkaran satwa liarnya berada di tengah pemukiman yang padat penduduk. Karena itu, selama ini memang sudah banyak anak-anak kampungnya yang suka bermain ke penangkarannya untuk melihat ular-ular yang dia pelihara.

“Konsep sekolahnya nanti saya ajak anak-anak bermain, saya ajak mengenal binatang. Saya tidak mendidik mereka untuk menjadi penghobi, tapi saya mendidik mereka bagaimana untuk menghargai lingkungan,” ujarnya.

Namun karena adanya PPKM, rencana pembuatan sekolah konservasi tersebut harus dia tunda dulu sampai situasi memungkinkan kembali untuk mengumpulkan anak-anak di tempat penangkarannya.

Kepada tetangga-tetangganya, Kurniawan juga melakukan edukasi dengan cara yang unik. Tiap ada telur ular atau satwa lain yang menetas, dia selalu membuat acara syukuran dan mengirimkan makanan ke masyarakat sekitar. Selain sebagai ungkapan syukur karena telah berhasil menetaskan telur, dengan membagi-bagikan makanan ke warga sekitar dia berharap bisa lebih mendekati warga sehingga mereka bisa menerima Kurniawan dan semua satwa yang dia pelihara di lingkungan mereka. Dan cara pendekatan kultural seperti itu terbukti ampuh, tak hanya menerima, saat ini warga sekitar juga sangat mendukung kegiatan budidaya dan konservasi satwa liar yang dilakukan Kurniawan.

“Untuk memberi edukasi itu tidak harus dengan ceramah, tapi bisa juga dengan pendekatan-pendekatan kultural seperti itu,” ujarnya.

Kurniawan tidak ingin semakin banyak satwa yang akhirnya punah dan akhirnya dunia hanya dipenuhi oleh manusia saja. Sebab, dunia memang diciptakan dengan isi yang beragam di dalamnya. Manusia hadir bukan sebagai penguasa di antara makhluk-makhluk lainnya, melainkan melindungi makhluk lain baik itu hewan maupun tumbuhan.

“Jika dunia isinya hanya manusia, maka tidak akan ada harmoni, tidak akan ada keindahan. Dunia yang isinya hanya manusia itu sangat mengerikan,” kata Kurniawan.