Mubes Warga NU DIY Dorong PBNU Islah dan Utamakan Tabayun
·waktu baca 2 menit

Musyawarah Besar (Mubes) Warga Nahdliyin Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendorong Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) segera menyelesaikan konflik internal antara jajaran Syuriah dan Tanfidziyah melalui mekanisme islah, tabayun, dan silaturahmi.
Musyawarah tersebut diikuti sejumlah tokoh NU di DIY, seperti Zuhdi Abdurrahman, Hasan Basri Marwah, Nur Khalik Ridwan, Irfan Afifi, dan masih banyak lagi.
Sekretaris Mubes, Zuhdi Abdurrahman, menilai kebuntuan komunikasi antara dua unsur kepengurusan PBNU tersebut semakin memburuk. Ia meminta para pemegang mandat muktamar mengambil langkah tegas untuk meredakan situasi.
“Kami memohon kepada jajaran Syuriah dan Tanfidziyah untuk mengedepankan tabayun dalam mengelola persoalan jama’iyah,” ujarnya dalam konferensi pers di Sleman, Jumat (28/11).
Koordinator Mubes, Hasan Basri Marwah, menambahkan konflik internal di PBNU ini harus diselesaikan dengan cara-cara kepesantrenan. Karena itu, ia meminta agar kiai-kiai sepuh ikut membantu menyelesaikan konflik ini.
“Kami harapkan agar terjadi islah internal melalui mekanisme internal. Yang paling mungkin melakukannya adalah kiai-kiai sepuh. Kami tetap pakai adab kepesantrenan dalam konteks ini,” kata Hasan.
Penasehat Mubes yang juga pendiri Pondok Pesantren Bumi Cendekia, Nur Khalik Ridwan, menegaskan pentingnya kesepakatan antara Syuriah dan Tanfidziyah agar tujuan besar organisasi tidak terganggu oleh perselisihan yang berlangsung.
“Jangan sampai tidak ada kesepakatan sehingga hasilnya nanti akan menjadi sesuatu yang mungkin bahayanya lebih besar daripada apa yang kita saksikan sekarang ini,” ujarnya.
Mubes Warga NU DIY menilai penyelesaian secara islah menjadi jalan untuk mengembalikan fokus PBNU pada konsolidasi internal dan perlindungan kepentingan warga Nahdliyin di seluruh lapisan.
