Kumparan Logo
Konten Media Partner

Ni Ika Arista, Pembuat Keris Perempuan Terkini dari Madura

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ni Ika Arista sedang membuah sebuah keris. Foto: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ni Ika Arista sedang membuah sebuah keris. Foto: Dokumen Pribadi

Selama berabad-abad, keris selalu diidentikkan dengan dunia maskulin kaum adam. Tapi, Ni Ika Arista, seorang perempuan 30 tahun dari Aeng Tong-tong, sebuah desa kecil di Sumenep, Madura, adalah salah satu pengecualian. Saat ini, dia menjadi salah seorang seniman, dari disiplin pembuat keris, yang diundang sebagai peserta pameran seni rupa Biennale Jogja 2021.

“Kemana-mana saya bawa keris, loh. Keris pusaka bikinan saya sendiri bernama Potre Koneng,” katanya, di Yogyakarta, pekan kedua Oktober ini.

Dikeluarkan dari tasnya, keris itu berukuran kecil saja, dengan gagang yang permukaannya dipenuhi oleh ukiran yang terbuat dari tanduk menjangan.

Ni Ika bilang, seharusnya, tidak perlu panik melihat seseorang membawa keris kemana-mana. Sebab, ada begitu banyak senjata tajam yang lebih mudah untuk dipakai menyelakai orang. Sementara keris sebagai senjata tajam untuk melukai orang lain, itu tindakan yang mubadzir

“Bayangin di keris itu ada pamor, filosofi, simbol, dan sebagainya. Jadi kalau cuma mau dipakai sebagai senjata, saat ini sudah lebih banyak senjata yang secara fungsi jauh lebih mumpuni. Jadi saya bawa keris ya seperti orang lain bawa perhiasan, gitu aja,” kata Ni Ika Arista.

Keris Potre Koneng, nama yang diambil dari sosok yang sangat dikenal oleh masyarakat Madura sebagai seorang putri cantik dengan kulit berwarna kuning langsat.

“Beliau adalah tokoh yang sangat terkenal di Sumenep, sangat cantik. Jadi bawa keris ini saya merasa sangat cantik,” ujarnya kembali dengan tawa.

Dari Keluarga Pembuat Warangka

Ni Ika Arista sedang memproses sebuah pesanan keris. Foto: Dokumen Pribadi

Ni Ika tumbuh di antara kakek dan ayah seorang paranggi atau pembuat warangka keris dan tombak. Dan layaknya seorang anak perempuan, Ni Ika sangat dekat dengan sosok ayahnya. Dia sering ikut ayahnya ketika sedang bekerja membuat warangka maupun mengukir bilah keris.

Benih-benih sebagai seorang empu sudah dipupuk sejak kecil, ketika masih duduk di bangku kelas 5 SD. Sementara sang ayah sibuk membuat warangka, Ni Ika asyik bermain serbuk kayu. Dia beri air serbuk kayu itu, lalu membentuknya layaknya sebuah kue atau biskuit. Bagaimanapun, Ni Ika kecil adalah seorang perempuan, dan masak-masakan menjadi permainan paling populer di kalangan anak-anak perempuan saat itu.

“Jadi sama sekali tidak ada niat untuk belajar bikin keris,” kata Ni Ika Arista.

Hingga suatu hari, Ni Ika membuat tiruan warangka tombak seperti yang dibuat oleh ayahnya, namun dengan ukuran yang lebih kecil. Warangka buatannya itu dilihat oleh salah seorang tetangganya yang biasa menjual tombak dan keris di daerah Sumenep. Melihat warangka buatan Ni Ika bagus, tatangganya meminta untuk dibuatkan warangka juga untuk mata tombak dengan bayaran Rp 5 ribu.

“Saat itu uang jajan hanya seribu, anak kelas 5 SD punya uang Rp 5 ribu itu banyak banget,” lanjutnya.

Ni Ika menunjukkan keris kesayangannya. Foto: Widi Erha Pradana

Karena merasa bisa menghasilkan uang sendiri dengan jumlah yang lumayan, Ni Ika sampai ketagihan membuat warangka hingga lulus SD. Namun ketika masuk SMP sampai SMA, aktivitas pembuatan warangkanya mesti berhenti. Sebab, tradisi di kampung halamannya, seorang anak perempuan mesti masuk pesantren ketika sudah remaja. Sehingga masa SMP hingga SMA dia habiskan di dalam pesantren.

Baru setelah lulus pesantren dan kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Ni Ika mulai aktif membuat warangka lagi. Lebih dari itu, dia juga mulai belajar membuat bilah keris.

“Saat itu mulai ketagihan bikin keris, tapi tendensinya masih ekonomi tanpa sedikitpun suka dengan nilai sejarah dan budayanya,” ujarnya.

Maka sembari kuliah, waktu Ni Ika diisi dengan membuat keris demi keris. Hingga setelah lulus, dia merasakan sebuah kejenuhan dan memilih merantau ke Ibukota. Tapi di Jakarta, Ni Ika kembali merasakan kejenuhan yang sama sehingga hanya bertahan dua tahun. Dia kembali pulang ke Aeng Tong-tong.

Terbiasa dengan gemerlapnya Ibukota, Ni Ika merasakan kesepian ketika pulang ke Aeng Tong-tong. Hal itu membuatnya hijrah dan tinggal di kampung sang ibu di Blitar, Jawa Timur. Di sanalah dia bertemu dengan orang-orang yang memandang keris dengan cara berbeda, bukan sekadar dari sudut pandang ekonomi.

“Tapi benar-benar pure karena suka budaya dan sejarahnya, dari situ pandangan saya tentang keris lambat laun bergeser, bukan hanya sekadar soal ekonomi,” kata Ni Ika Arista.

Ribuan Keris yang Terkubur di Tanah Sumenep

Ni Ika menunjukkan keris kesayangannya. Foto: Widi Erha Pradana

Lama belajar di Blitar, Ni Ika pulang ke Sumenep. Dia mulai menggali informasi tentang kampung halamannya pada para sesepuh yang masih hidup. Dan dari mereka, Ni Ika mendapatkan informasi bahwa sejak zaman dulu sudah ada aktivitas pembuatan keris di Aeng Tong-tong. Bahkan, yang membabat alas desa itu konon adalah seorang empu yang mengajarkan teknik pande besi di tempat tersebut.

Namun pada era kolonial, terutama era Jepang, tidak ada lagi produksi keris di Aeng Tong-tong. Jangankan membuat, menyimpan keris saja dianggap haram saat itu. Sehingga para pemilik keris banyak yang melarung keris miliknya ke sungai atau menguburnya di sumur-sumur tua. Hingga pada tahun 2000an, ada salah seorang warga yang sedang membangun pondasi rumah dan menemukan sebuah keris.

“Akhirnya digali lagi dan ditemukan ribuan keris waktu itu di daerah Sumenep,” kata Ni Ika.

Dari informasi yang diperoleh, pada 2018 bersama sejumlah kawannya sesama pegiat budaya, Ni Ika mengajukan proposal ke pemerintah untuk menetapkan desa Aeng Tong-tong sebagai desa wisata budaya. Sejak saat itu, aktivitas pembuatan keris di Aeng Tong-tong mulai berkembang lagi hingga saat ini.

“Sekarang ada sekitar 700-an pengrajin keris, tapi terbagi-bagi, ada yang hanya sebagai paranggi atau pembuat warangka, ukir, tempa, dan sebagainya,” ujarnya. (Widi Erha Pradana / YK-1)