Pemkot Yogya Gandeng CSR Bedah Rumah 2 Keluarga Disabilitas

Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menggandeng Diwa Foundation dalam program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi keluarga penyandang disabilitas.
Kolaborasi yang memanfaatkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) ini diawali dengan renovasi dua rumah milik Mursiti, penyandang disabilitas mental di Jetisharjo, Cokrodiningratan, dan Rohmawati di Prawirodirjan yang memiliki putra penyandang tuna daksa.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan kolaborasi tersebut berawal dari gagasan Diwa Foundation untuk memberikan perhatian kepada penyandang disabilitas melalui program bedah rumah.
Menurutnya, program tersebut merupakan bentuk gotong royong yang mencerminkan nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat.
“Salah satu ide dari Bu Diah Warih itu kita punya perhatian terhadap yang difabel. Disabilitas itu tidak hanya masalah fisik, tetapi bisa juga secara jiwa,” kata Hasto kepada awak media, Minggu (5/7).
Hasto menjelaskan salah satu rumah yang direnovasi dihuni penyandang disabilitas mental dengan kondisi bangunan yang sudah rusak dan membahayakan. Karena itu, menurutnya, penyandang disabilitas mental juga perlu menjadi perhatian dalam program perbaikan rumah.
“Hari ini kita memberi bantuan pada yang disabilitas secara mental. Rumahnya sudah jebol. Kalau roboh tentu membahayakan penghuninya,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemkot Yogyakarta menargetkan perbaikan 200 RTLH sepanjang 2026. Hingga pertengahan tahun, realisasinya telah mencapai sekitar 60–70 unit dan diharapkan terus bertambah melalui kolaborasi berbagai pihak.
Founder Diwa Foundation, Diah Warih Anjari, mengatakan Yogyakarta dipilih sebagai daerah pertama pelaksanaan program bedah rumah yang diinisiasi yayasannya. Menurutnya, keluarga penyandang disabilitas menjadi sasaran awal karena membutuhkan hunian yang layak, aman, dan sehat.
“Kami hadir di Jogja karena kita mulai dari titik nol. Nanti Jogja kita estafet, roadshow ke sekitar Jogja dan menuju kota-kota lain,” kata Diah. “Untuk disabilitas menjadi sebuah prioritas untuk kami karena mereka memerlukan hunian yang layak, nyaman, aman, dan sehat,” ujarnya.
Pada tahap awal, Diwa Foundation mengalokasikan bantuan lebih dari Rp20 juta untuk masing-masing rumah. Dana CSR tersebut disalurkan kepada panitia bedah rumah, sementara pengerjaan dilakukan secara gotong royong bersama LPMK, warga, dan relawan.
Ketua Panitia Bedah Rumah Margono mengatakan renovasi diawali dengan perbaikan atap rumah Mursiti menggunakan rangka baja ringan dan penutup galvalum sebelum dilanjutkan dengan pembenahan lantai.
“Yang pertama kami perbaiki adalah atap. Setelah itu baru lantainya. Targetnya sekitar satu bulan untuk atap. Kalau lantainya juga dikerjakan, keseluruhannya sekitar satu setengah bulan,” ujarnya.
Perwakilan keluarga Mursiti, Sigit, menyambut baik bantuan tersebut. “Kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Harapannya rumah ini bisa segera diperbaiki sehingga Bu Mursiti dapat tinggal di tempat yang lebih aman,” katanya.
Sementara itu, Rohmawati juga mengaku bersyukur rumahnya menjadi penerima manfaat program RTLH.
“Alhamdulillah kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Semoga renovasi rumah bisa segera selesai sehingga rumah menjadi lebih nyaman ditempati dan anak saya lebih aman beraktivitas di rumah. Terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu keluarga kami,” ujar Rohmawati.
