Peneliti Biarkan 600 Nyamuk Wolbachia Gigit Tangannya: Kelinci Percobaannya Kami

Konten Media Partner
22 November 2023 15:50 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tangan peneliti nyamuk ber-wolbachia dari UGM, Riris Andono Ahmad, setelah digigit ratusan nyamuk ber-wolbachia. Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Tangan peneliti nyamuk ber-wolbachia dari UGM, Riris Andono Ahmad, setelah digigit ratusan nyamuk ber-wolbachia. Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja
ADVERTISEMENT
Peneliti nyamuk ber-wolbachia yang juga Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM, Riris Andono Ahmad, menjawab komentar miring tentang rencana penyebaran nyamuk Aedes aegypti dengan bakteri wolbachia di sejumlah daerah di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Rencana penyebaran nyamuk ber-wolbachia tersebut menuai polemik setelah dikomentari oleh mantan Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari. Siti mengatakan, rencana penyebaran nyamuk ber-wolbachia tersebut seperti menjadikan masyarakat Indonesia sebagai kelinci percobaan.
Riris Andono menjawab keraguan tersebut dengan membiarkan tangannya digigit oleh ratusan nyamuk Aedes aegypti dengan bakteri wolbachia. Hal itu dilakukan oleh Riris untuk membuktikan nyamuk dengan bakteri wolbachia aman bagi manusia karena telah melewati proses penelitian selama belasan tahun.
“Fase penelitian ini kan sudah selesai, jadi apa yang akan diimplementasikan itu bukan sebagai kelinci percobaan, karena kelinci percobaannya adalah kami,” kata Doni, sapaan akrab Riris Andono, sambil membiarkan tangannya digigit oleh ratusan nyamuk ber-wolbachia di UGM, Rabu (22/11).
Doni menempelkan tangannya ke kandang nyamuk yang di dalamnya terdapat 1.200 ekor nyamuk ber-wolbachia, yang terdiri atas 600 nyamuk jantan dan 600 betina. Nyamuk yang akan menggigit adalah nyamuk betinanya saja.
Riris Andono Ahmad saat membiarkan tangannya digigit oleh ratusan nyamuk ber-wolbachia. Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja
Saat Doni menempelkan tangannya di kandang nyamuk tersebut, nyamuk-nyamuk di kandang tersebut langsung menempel ke tangannya dan mulai banyak yang menggigit.
ADVERTISEMENT
“Kami selama 12 tahun itu setiap minggu memberi makan nyamuk-nyamuk ini,” kata dia.
Cara memberi makan nyamuk dengan bakteri wolbachia adalah dengan membiarkan mereka menggigit dan mengisap darahnya. Setiap pekan, tiap peneliti biasa membiarkan kedua tangan dan kaki mereka masing-masing digigit oleh 600 nyamuk ber-wolbachia.
Artinya, sekali memberi makan mereka membiarkan 2.400 nyamuk ber-wolbachia menggigit dan mengisap darah mereka.
Saat digigit oleh nyamuk dengan bakteri wolbachia, ia mengaku tak merasa apapun. Hanya saja setelah digigit kulit akan merasa sedikit gatal dan bentol karena air liur nyamuk yang menggigitnya.
Ia berharap dengan hal tersebut bisa membuat masyarakat yakin bahwa nyamuk dengan bakteri wolbachia aman terhadap manusia. Apalagi setelah memberi makan selama belasan tahun, darah para peneliti maupun relawan tak menunjukkan adanya antibodi bakteri wolbachia.
ADVERTISEMENT
Artinya, meski setiap pekan selama bertahun-tahun mereka digigit nyamuk ber-wolbachia, bakteri wolbachia tersebut tidak bisa hidup di dalam tubuh manusia.
“Karena wolbachia itu tidak bisa masuk ke tubuh manusia, karena wolbachia itu hanya bisa tinggal di dalam sel tubuh serangga. Jadi begitu wolbachia keluar dari sel, maka dia akan mati,” jelas Riris Andono Ahmad.