Pengamat Sepak Bola UNY: Sepak Bola Kita Bermasalah, Liga Harus Diistirahatkan
·waktu baca 2 menit

Pengamat sepak bola sekaligus Dosen Permainan Sepak Bola dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Komarudin, mengatakan bahwa tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang yang menewaskan ratusan orang menunjukkan ada masalah serius di dunia sepak bola Indonesia. Tidak seharusnya sebuah pertandingan sepak bola yang mestinya menjadi hiburan rakyat, justru menjadi sesuatu yang mengerikan sampai merenggut nyawa ratusan orang.
“Satu nyawa kemarin saja tidak sebanding dengan sepak bola, apalagi ini ratusan,” kata Komarudin kepada Pandangan Jogja @Kumparan, Senin (3/10).
Tragedi Kanjuruhan menurut dia menunjukkan tidak profesionalnya pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan sepak bola di Indonesia.
“Mulai dari elit PSSI dan operator liga yang hanya melihat keuntungan semata tanpa mempertimbangkan risiko, sampai aparat kita yang perlu edukasi terkait aturan penanganan suporter di stadion,” lanjut Komarudin.
Gelaran pertandingan yang terlalu malam, hingga stadion yang diduga over kapasitas menjadi bukti yang paling jelas bagaimana pengelola hanya berusaha mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Padahal, selama ini banyak pihak yang sudah mengingatkan tentang jadwal pertandingan yang terlalu malam sehingga meningkatkan risiko.
Sebab, jika terjadi kerusuhan, maka aparat akan kesulitan untuk melakukan pengamanan. Selain itu, aparat yang menghalau massa suporter dengan cara menembakkan gas air mata ke arah tribun juga menunjukkan bahwa mereka tidak memahami aturan FIFA, dimana dengan tegas tercantum larangan aparat menggunakan gas air mata di dalam stadion untuk mengamankan massa.
“Suporter kita juga perlu edukasi tentang pentingnya fair play, respect, dan sportif menerima kekalahan timnya,” kata dosen yang juga sempat berkiprah sebagai pelatih fisik PSS Sleman itu.
Setelah terjadi tragedi Kanjuruhan, Komarudin mengatakan bahwa liga-liga profesional mesti diistirahatkan lebih dulu. Selain sebagai bentuk duka cita kepada keluarga korban, hal ini juga sebagai momen refleksi terkait tata kelola persepakbolaan nasional khususnya kompetisi profesional seperti Liga 1, 2, dan 3 yang memiliki basis massa besar.
“Andai harus tetap jalan, maka kompetisi tanpa penonton menjadi opsi paling realistis,” kata dia.
Sedangkan pembinaan usia muda harus tetap jalan sembari memberikan edukasi terkait nilai-nilai olahraga yang lebih terarah dan terprogram, tidak semata menjadikan kemenangan menjadi satu-satunya tujuan, tapi juga harus menanamkan nilai-nilai fair play sejak dini kepada mereka.
“Semuanya pihak harus bertanggung jawab, dari mulai federasi, operator liga, panpel, aparat, dan juga suporter,” tegas Komarudin.
