Konten Media Partner

Peringati Kenaikan Tahta Sultan HB X, Keraton Yogya Gelar Labuhan Merapi

31 Januari 2025 17:15 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Keraton Yogyakarta menggelar Labuhan Merapi untuk memperingati penobatan kenaikan tahta Sri Sultan HB X sebagai Raja Kasultanan Yogyakarta yang ke-36 tahun, Jumat (31/1). Foto: Resti Damayanti/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Keraton Yogyakarta menggelar Labuhan Merapi untuk memperingati penobatan kenaikan tahta Sri Sultan HB X sebagai Raja Kasultanan Yogyakarta yang ke-36 tahun, Jumat (31/1). Foto: Resti Damayanti/Pandangan Jogja
ADVERTISEMENT
Keraton Yogyakarta menggelar Labuhan Merapi pada Jumat (31/1) mulai pukul 06.00 WIB untuk memperingati penobatan kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Raja Kasultanan Yogyakarta yang ke-36 tahun. Ratusan orang hadir mengikuti upacara Labuhan Merapi ini.
ADVERTISEMENT
Prosesi diawali dengan doa di Petilasan Mbah Maridjan, lalu dilanjutkan perjalanan menuju Petilasan Srimanganti yang berjarak sekitar dua jam dengan membawa 11 jenis ubarampe.
Ketua Paguyuban Abdi Dalem wilayah Sleman, Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Dwijo Jayengmardawa, menjelaskan bahwa Labuhan bermakna membuang atau memberikan sesuatu sebagai bentuk persembahan.
“Ngarsa Dalem (Sultan HB X) mengadakan hajat labuhan ini membuang atau memberikan atau melabuh pakaian, ada macam-macam pakaian dan juga sesaji,” kata KMT Dwijo Jayengmardawa saat ditemui Pandangan Jogja di lokasi.
Ketua Paguyuban Abdi Dalem wilayah Sleman, Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Dwijo Jayengmardawa. Foto: Resti Damayanti/Pandangan Jogja
Selain prosesi Labuhan, para Abdi Dalem juga menggelar kenduri sederhana yang diawali dengan doa sebelum makanan dibagikan kepada warga yang hadir. Kenduri ini dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur.
“Lalu juga ucapan syukur makan sebelum diadakan Labuhan. Ini diadakan acara kenduri, tadi malam ada mocopatan kenduri dan wayangan,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Makanan yang disajikan dalam kenduri ini terdiri dari nasi gurih, ayam ingkung, sayur, tempe, peyek, dan beberapa hidangan lainnya. Makanan ini dibagikan kepada seluruh peserta sebagai bagian dari tradisi ngalap berkah.
"Itu namanya sekul suci, ulam sari yaitu ayam, ingkung dan nasi gurih, nasi putih, ada sayur, ada peyek dan sebagainya, ada tempe dan sebagainya," jelasnya.
Keraton Yogyakarta menggelar Labuhan Merapi untuk memperingati penobatan kenaikan tahta Sri Sultan HB X sebagai Raja Kasultanan Yogyakarta yang ke-36 tahun, Jumat (31/1). Foto: Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM)
Juru kunci Gunung Merapi, Mas Kliwon Suraksohargo Asihono atau Mbah Asih, menyebut bahwa Labuhan Merapi bertujuan untuk memohon keselamatan bagi Yogyakarta, termasuk dari ancaman erupsi Gunung Merapi.
“Mungkin kalau Merapi ada sesuatu atau sedikit ada erupsi, supaya warga dan sekitarnya bisa aman,” kata Mbah Asih.
Sebanyak 11 jenis ubarampe yang dibawa dalam prosesi ini dikembalikan setelah upacara, tetapi tidak dibagikan seperti hasil kenduri. Ubarampe ini hanya diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
ADVERTISEMENT
Sebelas jenis uborampe tersebut meliputi Nyamping Cangkring, Kawung Kemplang, Semekan Gadhung, Semekan Gadhung Mlathi, Semekan Banguntulak, Kampuh Poleng Ciut, Dhesthar Daramuluk, Paningset Udaraga, Sela Ritus Lisah Konyoh, amplop Yatra Tindhih, dan biji Ses Wangen.