Konten Media Partner

Petani Gunungkidul Curhat ke Zulhas Harga Singkong Rp500, Diminta Ganti Tanaman

3 November 2025 12:28 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Petani Gunungkidul Curhat ke Zulhas Harga Singkong Rp500, Diminta Ganti Tanaman
Menko Pangan, Zulkifli Hasan, dicurhati petani Gunungkidul yang mengeluh harga singkong hanya Rp500 per kilogram saat mengunjungi Masjid Nurul Ashri di Sleman. #publisherstory #pandanganjogja
Pandangan Jogja
Menko Pangan, Zulkifli Hasan, saat mengunjungi Masjid Nurul Ashri Sleman, Minggu (2/11). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayati
zoom-in-whitePerbesar
Menko Pangan, Zulkifli Hasan, saat mengunjungi Masjid Nurul Ashri Sleman, Minggu (2/11). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayati
ADVERTISEMENT
Seorang petani asal Purwosari, Gunungkidul, Eriyanto, mengeluhkan anjloknya harga singkong kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan sekaligus Ketua Tim Koordinasi Makanan Bergizi (MBG), Zulkifli Hasan, Minggu (2/11) kemarin saat Zulhas melakukan kunjungan ke Masjid Nurul Ashri di Sleman.
ADVERTISEMENT
Kepada Zulhas, Eriyanto mengeluhkan harga singkong mentah yang kini hanya sekitar Rp500 per kilogram. Kondisi tersebut diperparah dengan sulitnya menjual singkong olahan atau gaplek yang mudah berjamur saat musim hujan.
“Setiap kilonya tahun kemarin singkong mentah Rp500 di pasaran, itu pun cuma sebagian kecil pembeli. Dijadikan gaplek kendalanya di musim hujan terus berjamur, akhirnya harganya cuma dibeli Rp1.000 sampai Rp1.200,” kata Eriyanto kepada Zulhas di Masjid Nurul Ashri Sleman, Minggu (2/11).
Diskusi Menko Pangan, Zulkifli Hasan, bersama para petani di Masjid Nurul Ahsri Sleman, Minggu (2/11). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Menanggapi keluhan itu, Zulhas meminta agar petani tidak lagi menanam singkong jika tidak ada industri pengolahan yang menampung hasil panen. Ia menilai harga di tingkat petani terlalu rendah dan tidak menguntungkan.
“Jangan tanam singkong, miskin sudah. Ya harus ganti, karena kalau singkong itu harus ada pabriknya. Kalau Rp500 itu pasti bangkrut, singkong Rp1.300–Rp1.200 itu yang paling murah, itu pun belum untung banyak,” ujar Zulhas.
ADVERTISEMENT
Ia menegaskan, tanpa dukungan industri tapioka atau pabrik pengolahan, petani akan terus merugi karena pasar singkong sangat terbatas.
“Kalau singkong tidak ada industrinya, jangan tanam singkong. Karena kalau di pasar Rp500, bangkrut, nggak bisa untung. Harus cari alternatif. Kalau tidak ada industri tapioka, lebih baik jagung karena pemerintah pasti beli,” tambahnya.
Petani asal Gunungkidul, Eriyanto. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Usai forum tersebut, Eriyanto mengatakan mengganti komoditas tanam juga bukan hal mudah karena dirinya berpacu dengan musim penghujan. Ia berharap pemerintah memberikan pendampingan terkait tata kelola pertanian agar petani bisa lebih adaptif.
“Harapannya untuk ganti tanaman lain harus ada yang lebih untuk petani di Gunungkidul, dalam pengertian pendidikan tani, petani kita, petani lebih modern,” kata Eriyanto.
“Masalahnya pengairan, karena tanaman di sini hanya mengandalkan air hujan,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT