Kumparan Logo
Konten Media Partner

Pratikno Temui Sultan HB X, Sebut DIY jadi Pionir Gerakan Ruang Aman untuk Anak

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko PMK, Pratikno menemui Gubernur DIY, Sri Sultan HB X di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Jumat (3/7). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
zoom-in-whitePerbesar
Menko PMK, Pratikno menemui Gubernur DIY, Sri Sultan HB X di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Jumat (3/7). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, bertemu dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Jumat (3/7).

Salah satu pembahasan dalam pertemuan itu ialah persiapan peluncuran Gerakan Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (RANA).

Usai pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam, Pratikno mengatakan pemerintah pusat meminta dukungan Pemerintah DIY karena Yogyakarta akan menjadi pionir pelaksanaan Gerakan RANA yang dijadwalkan diluncurkan pada bulan ini, bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru.

“Ini tadi kami di Kemenko PMK meminta bantuan ke Ngarso Dalem (Gubernur DIY) karena kita ada beberapa program nasional. Sebentar lagi kan ada penerimaan siswa baru, jadi kita di tingkat nasional ada Gerakan RANA,” kata Pratikno kepada awak media usai pertemuan, Jumat (3/7).

“Kami mohon dukungan dari Ngarso Dalem karena DIY ini kan kota pendidikan, banyak sekali inisiatif-inisiatif yang dilakukan oleh DIY. Nah oleh karena itu salah satunya nanti Gerakan RANA ini pionirnya juga di Yogyakarta,” sambungnya.

Menko PMK, Pratikno. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Pratikno menjelaskan, Gerakan RANA tidak hanya ditujukan bagi peserta didik, tetapi juga melibatkan orang tua, guru, serta penguatan sistem yang mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi anak.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah juga membahas penguatan pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas. Menurut Pratikno, berbagai inisiatif yang telah dijalankan DIY menjadi bahan pembelajaran bagi pemerintah pusat.

“Nah oleh karena itu kami juga belajar dari DIY untuk berbagai macam hal tentang inisiatif, misalnya tadi kita juga membicarakan untuk pendidikan difabel,” kata Pratikno.

Selain pendidikan, pemerintah juga membahas perluasan akses kerja bagi penyandang disabilitas. Pratikno mengatakan program pelatihan yang dikembangkan di DIY menjadi salah satu referensi dalam penyusunan kebijakan nasional yang lebih inklusif.

“DIY punya program untuk training-training bagi penderita difabel bisa mengakses lapangan kerja. Itu juga menjadi prioritas kami di Kemenko PMK. Jadi kami mengucapkan terima kasih dan banyak inspirasi yang bisa kita peroleh dari praktik-praktik baik di DIY,” kata Pratikno.