Kumparan Logo
Konten Media Partner

PWI DIY Pasang Prasasti “Pahlawan Pers Nasional” di Makam Wartawan Udin

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PWI DIY memasang prasasti "Pahlawan Pers Nasional" di makam Udin, wartawan di Jogja yang dibunuh karena beritanya pada 1996 silam. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma
zoom-in-whitePerbesar
PWI DIY memasang prasasti "Pahlawan Pers Nasional" di makam Udin, wartawan di Jogja yang dibunuh karena beritanya pada 1996 silam. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Doa dan tabur bunga mengiringi ziarah sekitar 12 orang dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di makam Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin di Astono Girimulyo, Demangan, Dusun Gedongan, Bantul, Kamis (14/8).

Ziarah tersebut digelar dalam rangka memperingati 30 tahun wafatnya wartawan Harian Bernas yang dibunuh karena berita-berita yang dia tulis pada 1996 silam.

Pada momen tersebut, PWI DIY juga memasang tetenger atau tanda berupa prasasti bertuliskan “Pahlawan Pers Nasional” di makam Udin. Nomor keanggotaan PWI Udin juga dicantumkan pada tetenger tersebut.

Gugur Saat Menjalankan Tugas Jurnalistik

PWI DIY memasang prasasti "Pahlawan Pers Nasional" di makam Udin, wartawan di Jogja yang dibunuh karena beritanya pada 1996 silam. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Ketua PWI DIY, Hudono, mengatakan peringatan 30 tahun wafatnya Udin menjadi momentum untuk kembali mengingat perjuangannya dalam menjalankan kerja jurnalistik.

“Udin itu menjadi simbol perjuangan kemerdekaan pers. Karena beliau gugur dalam menjalankan tugasnya,” kata Hudono kepada Pandangan Jogja, Jumat (14/8)

Udin mengalami penganiayaan pada 13 Agustus 1996. Tiga hari kemudian, 16 Agustus 1996, ia meninggal dunia. Saat itu, Udin dikenal melalui tulisan-tulisannya yang kritis terkait kebijakan Pemerintah Kabupaten Bantul.

Menurut Hudono, keberanian Udin dalam menjalankan tugas jurnalistik perlu menjadi teladan bagi wartawan saat ini agar tetap berpedoman pada kepentingan publik.

PWI DIY Bentuk Tim Ad Hoc

PWI DIY memasang prasasti "Pahlawan Pers Nasional" di makam Udin, wartawan di Jogja yang dibunuh karena beritanya pada 1996 silam. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Pemasangan tetenger di makam Udin juga berlangsung di tengah upaya PWI DIY mengusulkan Udin sebagai Pahlawan Nasional. PWI DIY telah membentuk Tim Ad Hoc untuk mengawal proses pengusulan tersebut.

Hudono mengatakan pihaknya mendapat dukungan dari Dinas Sosial dan Dinas Kominfo DIY. Namun, masih terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi.

“Secara formal kita juga mendapat dukungan dari Dinas Sosial maupun Dinas Kominfo DIY. Mereka mendukung sepenuhnya dengan mengajukan beberapa syarat yang memang harus kita penuhi,” ujarnya.

Sebelumnya, PWI DIY juga meresmikan Ruang atau Aula Fuad Muhammad Syafruddin di kantor PWI DIY. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari peringatan 30 tahun wafatnya Udin.

Hudono berharap dukungan masyarakat pers dapat membantu proses pengusulan tersebut hingga memperoleh keputusan resmi.

“Insyaallah jalan kita dilempangkan sehingga nanti gelar Pahlawan Nasional itu betul-betul bisa terwujud,” katanya.

Keluarga Nyatakan Dukungan

PWI DIY memasang prasasti "Pahlawan Pers Nasional" di makam Udin, wartawan di Jogja yang dibunuh karena beritanya pada 1996 silam. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Istri Udin, Marsiyem, menyatakan mendukung rencana pengusulan suaminya sebagai Pahlawan Nasional.

“Setuju, saya setuju banget,” kata Marsiyem.

Adik Udin, Fauzan, juga menyampaikan dukungan keluarga besar Udin terhadap upaya PWI DIY maupun PWI secara nasional.

“Kami sangat mendukung sekali. Kita dukung dengan apa adanya, cuma rakyat kecil, cuma kita mendukung lewat doa. Semoga dilancarkan,” ujar Fauzan