Kumparan Logo
Konten Media Partner

Rektor UMY: Sudah Saatnya Jalur Mandiri PTN Dievaluasi atau Dihapus

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rektor UMY, Achmad Nurmandi. Foto: Dok. UMY
zoom-in-whitePerbesar
Rektor UMY, Achmad Nurmandi. Foto: Dok. UMY

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Nurmandi, menilai jalur mandiri di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sudah saatnya dievaluasi atau dihapus. Menurutnya, pemerintah perlu lebih memfokuskan peningkatan kualitas perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH).

“Sudah saatnya Jalur Mandiri itu dievaluasi atau dihapus. Dan pemerintah fokus kepada peningkatan kualitas PTNBH,” kata Nurmandi saat diwawancarai Pandangan Jogja setelah membuka MATAF UMY di Sportorium UMY, Senin (7/9).

Pernyataan tersebut disampaikan Nurmandi menyusul operasi tangkap tangan (OTT) KPK terhadap Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Akhmad Sodiq, dan sejumlah pejabat kampus terkait dugaan korupsi dalam penerimaan mahasiswa baru.

Nurmandi menilai jalur mandiri yang diberikan kepada perguruan tinggi untuk dikelola secara otonom dapat menjadi ruang permainan. Menurutnya, PTN maupun PTNBH juga berpotensi memperbanyak mahasiswa jalur mandiri untuk meningkatkan kemampuan keuangan melalui Iuran Pengembangan Institusi (IPI).

“Yang proporsinya 40 persen atau 30 persen dari seluruh mahasiswa PTNBH atau PTN itu diserahkan kepada perguruan tinggi secara otonom. Nah, itu ya menjadi ajang permainan, suap-menyuap dan sebagainya, dan tidak fair,” ujarnya.

Menurut Nurmandi, persoalan tersebut perlu dilihat kembali karena PTNBH memiliki mandat untuk meningkatkan daya saing universitas di tingkat global. Karena itu, ia menilai perguruan tinggi perlu lebih memfokuskan pendidikan pada jenjang pascasarjana yang berkaitan erat dengan riset dan inovasi.

“Karena perguruan tinggi berbadan hukum itu mandatnya adalah meningkatkan daya saing global universitas-universitas yang ada di Indonesia di tingkat global. Oleh karena itu fokus pada pendidikan pascasarjana,” katanya.

Ia menilai fokus tersebut sulit dicapai jika proporsi mahasiswa program sarjana masih jauh lebih dominan dibandingkan mahasiswa pascasarjana.

“Karena pascasarjana itu kan fokus pada riset dan inovasi. Jadi tidak mungkin kita melakukan inovasi dengan proporsi program sarjana yang lebih dominan proporsinya daripada pendidikan pascasarjana,” ujar Nurmandi.

Nurmandi menegaskan PTNBH dinilai sudah memiliki kemampuan untuk menjalankan orientasi tersebut. Menurutnya, peningkatan kualitas perguruan tinggi perlu diarahkan pada daya saing global, tidak hanya melalui peningkatan jumlah mahasiswa program sarjana.

“PTNBH sudah punya kemampuan untuk itu,” kata Nurmandi.

instagram embed