Saat Bala Mataram Rescue Evakuasi Suporter Persib dari Kepungan Suporter PSIM
·waktu baca 3 menit

Hampir tiga jam, puluhan suporter Persib Bandung terjebak di dalam bus yang dikepung ratusan suporter PSIM di kawasan parkiran Ngabean, Jogja, Minggu (24/8) malam. Kaca bus sudah pecah, udara di dalam makin pengap karena penumpang berdesakan tanpa ruang gerak. Dari luar, masih ada lemparan dan tembakan petasan.
Dalam situasi genting itu, belasan relawan Bala Mataram Rescue (BMR) 1929—salah satu elemen suporter PSIM Jogja—datang menembus kerumunan untuk melakukan evakuasi.
“Prosesnya memang berjalan lama karena waktu itu kondisi dari teman-teman Bandung mungkin mereka ketakutan, dikepung oleh massa, kemudian di dalam itu juga mereka bergerombol melindungi diri sampai ke tengah lorong bis itu,” kata Purna Tamtama, Ketua Tim Rescue BMR 1929, saat ditemui Pandangan Jogja, Selasa (26/8).
Dari Pagi Hingga Tengah Malam
Hari itu sebenarnya sudah panjang bagi BMR. Sejak pukul 10.00 WIB mereka berkumpul di basecamp melakukan pengecekan peralatan, lalu bergeser ke Stadion Sultan Agung, Bantul, untuk mendukung pengamanan laga PSIM Yogyakarta melawan Persib Bandung.
Pertandingan selesai sore, mereka masih bertahan hingga satu jam untuk memastikan keadaan benar-benar aman. Sebagian anggota baru tiba di rumah sekitar pukul 20.00 WIB.
Namun tak lama kemudian kabar kericuhan masuk: sebuah bus berisi puluhan suporter Persib terkepung massa di Parkiran Ngabean.
“Itu hari yang panjang bagi kami. Dari pagi kami sudah bertugas di stadion, dan ketika malam mendengar kabar ada kegawatdaruratan, kami langsung bergerak,” ujar Purna.
Menembus Kepungan
Sekitar pukul 23.00 WIB, personel BMR tiba di lokasi. Beberapa anggota yang rumahnya dekat sudah lebih dulu melakukan penilaian situasi. Setelah briefing singkat, mereka membagi peran: sebagian masuk ke bus, sebagian standby di luar untuk dukungan logistik dan medis.
“Memang waktu itu kondisinya gelap dan di dalam bis memang kondisinya gelap dan di seputar bis itu memang masih banyak massa yang mencoba merangsek atau mengganggu proses evakuasi. Tapi kami yakin seyakin yakinnya, bahwasanya kami insyaallah aman karena niat kami baik, tentunya itu modal awal kami,” ujar Purna.
Situasi jauh dari aman. Menurut SOP, area belum steril, namun keputusan tetap diambil: evakuasi harus segera dilakukan sebelum adanya korban jiwa.
“Walaupun terus terang kalau dibilang sesuai SOP sebenarnya kami tidak aman, tapi karena kita perlu tindakan yang tepat, cepat, artinya kita putuskan untuk secepatnya membantu mengevakuasi rombongan tersebut untuk segera menuju titik aman,” tambahnya.
Menyelamatkan Satu per Satu
Dengan peralatan terbatas, para relawan merangsek masuk ke lorong bus yang sempit. Penumpang pria digeser agar perempuan (kelompok rentan) yang bersembunyi di bawah kursi bisa dievakuasi keluar.
“Kami masuk, memperkenalkan diri bahwa kami dari Bala Mataram Rescue, datang untuk membantu. Setelah itu mereka mulai tenang dan mau menunjukkan titik di mana para wanita berada,” tutur Purna.
Tim pendukung mengirim enam tabung oksigen portable serta satu tabung besar. Relawan menggunakan sentuhan dan komunikasi sederhana untuk menenangkan korban yang lelah.
“Kami berusaha menyentuh pipi mereka agar sadar, lalu kami ajak komunikasi. Setelah mereka bisa menjawab, kami yakinkan bahwa mereka dalam kondisi stabil, baru perlahan kami geser ke depan untuk dievakuasi,” kata Purna.
Proses evakuasi berlangsung lebih dari satu jam. BMR mendapat dukungan dari kelompok suporter PSIM lainnya, Brajamusti, serta aparat kepolisian.
Evakuasi ditutup dengan pemeriksaan terakhir memastikan bus kosong. Setelah itu, tim BMR tetap siaga sebentar sebelum akhirnya mundur. “Kurang lebih jam 2 kami bergeser turun, lalu sekitar jam 3 kami kumpul untuk memastikan tidak ada lagi kejadian menonjol. Setelah itu baru kami bubarkan diri,” kata Purna.
Hari panjang itu pun baru benar-benar berakhir dini hari, setelah semua suporter Persib berhasil dievakuasi ke tempat aman.
