Kumparan Logo
Konten Media Partner

Satu Dekade Kolaborasi DIY–Melbourne Symphony Orchestra

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peserta Melbourne Symphony Orchestra bersama peserta Youth Music Camp mengikuti latihan menjelang konser kolaborasi di Griya Persada Hotel & Convention, Kaliurang, Sleman, Rabu (15/7). Foto Dzaky Fauzi/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Peserta Melbourne Symphony Orchestra bersama peserta Youth Music Camp mengikuti latihan menjelang konser kolaborasi di Griya Persada Hotel & Convention, Kaliurang, Sleman, Rabu (15/7). Foto Dzaky Fauzi/Pandangan Jogja

Kolaborasi antara Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Melbourne Symphony Orchestra (MSO) memasuki usia satu dekade melalui Artistic Collaboration Concert yang digelar di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Kamis (16/7/2026). Mengusung tema "A Decade: A Deeper Understanding", konser ini tidak hanya menjadi penutup rangkaian Youth Music Camp 2026, tetapi juga menegaskan bahwa musik orkestra dapat menjadi ruang perjumpaan budaya yang memperdalam pemahaman antara Indonesia dan Australia.

Konser dibuka oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X setelah laporan Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi dan sambutan Chief Operating Officer Melbourne Symphony Orchestra Suzanne Dembo. Pada kesempatan tersebut, Sri Sultan juga menyerahkan wayang kepada dalang muda Fani Rickyansyah sebagai simbol pembukaan Bulan Warisan Dunia di Yogyakarta.

Selama satu dekade, kerja sama antara Dinas Kebudayaan DIY dan Melbourne Symphony Orchestra tidak hanya menghadirkan konser tahunan, tetapi juga melahirkan berbagai program pengembangan kapasitas, mulai dari Youth Music Camp, Arts Management Workshop, Management Implementation, hingga Music Composition Workshop. Seluruh rangkaian itu dirancang untuk mempertemukan seniman muda dari dua negara melalui proses belajar, berkarya, dan saling mengenal budaya masing-masing.

Pelatih dari Melbourne Symphony Orchestra (MSO), Sarah Curro, memimpin sesi latihan peserta Youth Music Camp menjelang konser kolaborasi di Griya Persada Hotel & Convention, Kaliurang, Sleman, Rabu (15/7). Foto: Dzaky Fauzi/Pandangan Jogja

Puncak konser tahun ini menghadirkan beragam karya komposer dunia seperti Edward Elgar, Pyotr Ilyich Tchaikovsky, Jessamie Kaitler, dan Anton Koch. Salah satu penampilan istimewa dibawakan Trafa String Quartet yang seluruh anggotanya merupakan alumni Youth Music Camp dari berbagai angkatan, menjadi simbol keberlanjutan program yang telah berjalan selama sepuluh tahun.

Sorotan utama konser adalah penampilan perdana karya "Dharma", sebuah komposisi kolaboratif antara komposer Indonesia Vishnu Satyagraha dan komposer Australia Thomas Green. Karya untuk string orchestra, perkusi, dan instrumen tradisional Indonesia tersebut dipimpin konduktor Sarah Curro serta dipadukan dengan pertunjukan wayang oleh dalang muda Fani Rickyansyah.

Komposisi "Dharma" terdiri atas empat bagian yang mengangkat kisah Mahabharata, mulai dari kekalahan Pandawa dalam permainan dadu, masa pengasingan, perang besar Bharatayudha, hingga perenungan Yudistira setelah peperangan usai. Karya tersebut juga menampilkan solois cello muda Raden Dwitama Darmasakti yang sebelumnya menjalani program magang selama satu bulan di Melbourne Symphony Orchestra. Melalui karya ini, hubungan budaya antara Negara Bagian Victoria, Australia, dan Yogyakarta diterjemahkan ke dalam bahasa musik.

Pelatih Melbourne Symphony Orchestra (MSO), Sarah Curro, telah mendampingi peserta Youth Music Camp selama satu dekade dalam program kolaborasi bersama Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Foto: Dzaky Fauzi/Pandangan Jogja

Bagi Sarah Curro, yang telah mendampingi peserta Youth Music Camp sejak program ini dimulai, perubahan paling terasa selama sepuluh tahun terakhir bukan semata peningkatan kemampuan teknis para peserta, melainkan cara mereka memaknai musik. Menurutnya, keterikatan emosional peserta selalu muncul lebih kuat ketika membawakan karya-karya komposer Indonesia dibandingkan saat memainkan repertoar klasik Barat.

"Ketika mereka memainkan musik mereka sendiri, di situlah makna sesungguhnya muncul," ujarnya.

Sarah menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa musik orkestra tidak harus dipandang sebagai tradisi yang jauh dari budaya Indonesia. Sebaliknya, orkestra dapat menjadi medium bagi generasi muda untuk menemukan kembali identitas budaya mereka sendiri. Tahun ini, pengalamannya semakin bertambah karena untuk pertama kalinya ia memimpin karya orkestra yang dipadukan dengan pertunjukan wayang.

"Kolaborasi ini membantu kami, orang-orang Barat, untuk memahami budaya Indonesia lebih dalam. Pada saat yang sama, masyarakat Indonesia juga kembali terhubung dengan warisan budayanya," katanya.

Dalang, Fani Rickyansah mengikuti sesi latihan menjelang konser kolaborasi orkestra dan wayang di Griya Persada Hotel & Convention, Kaliurang, Sleman, Rabu (15/7). Foto: Dzaky Fauzi/Pandangan Jogja.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan seluruh rangkaian program kolaborasi bersama Melbourne Symphony Orchestra dibangun di atas semangat saling memahami budaya. Menurutnya, nilai-nilai budaya Yogyakarta yang berpijak pada konsep Memayu Hayuning Bawana mampu diterjemahkan menjadi nilai-nilai yang juga dapat dipahami dan dikembangkan bersama masyarakat Victoria, Australia.

Selain menjadi penutup rangkaian kerja sama tahun ini, konser tersebut juga menandai dimulainya Bulan Warisan Dunia di Yogyakarta yang akan diisi berbagai kegiatan budaya, antara lain Yogyakarta Festival Dalang Anak dan Remaja DIY, Yogyakarta Gamelan Festival, Street Art Malioboro Festival, rangkaian kegiatan Silat Mendunia, Keris Manjing Pawiyatan, dan Jogja World Heritage Festival. Program kolaborasi ini didukung Dana Keistimewaan DIY, Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia, serta Griffith University.