Kumparan Logo
Konten Media Partner

Sebelum Memutuskan Program Bayi Tabung, Simak Faktor Penentu Keberhasilannya

Pandangan Jogjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang ibu yang mengikuti program bayi tabung sedang bercakap dengan dokter ahli bayi tabung. Foto: Dokumen Klinik Permata Hati RSUP Dr. Sardjito
zoom-in-whitePerbesar
Seorang ibu yang mengikuti program bayi tabung sedang bercakap dengan dokter ahli bayi tabung. Foto: Dokumen Klinik Permata Hati RSUP Dr. Sardjito

Bagi sebagian besar pasangan, apapun akan dilakukan supaya bisa mendapatkan keturunan, termasuk ikut program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) meski harus mengeluarkan biaya besar. Sebelum memutuskan mengikuti program bayi tabung, sangat penting untuk mengetahui beberapa faktor utama yang sangat menentukan keberhasilan program.

Embriolog Senior di Sub Instalasi Rawat Jalan Kesehatan Reproduksi Klinik Permata Hati RSUP Dr. Sardjito, Ita Fauzia Hanoum, mengatakan bahwa tingkat keberhasilan bayi tabung di dunia saat ini memang baru sekitar 25 sampai 30 persen. Ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan ini, namun yang paling utama adalah usia calon ibu yang telah melampaui usia produktif.

“Untuk mengikuti program bayi tabung, atau ingin anak, usia wanita sangat penting sekali. Nomor satu itu,” kata Ida Fauzia ketika ditemui, Senin (19/4).

Memang faktor kegagalan dalam program bayi tabung bisa berasal dari pihak laki-laki maupun perempuan. Namun menurutnya, faktor utamanya adalah pada usia perempuan, baik sebagai penentu keberhasilan maupun kegagalan.

Batas usia produktif perempuan untuk hamil dalam dunia kedokteran adalah 30 tahun, meski menurut Ida sebenarnya kurang dari itu. Jika nanti usia perempuan sudah 30 tahun ke atas, kualitas maupun kuantitas sel telurnya akan berkurang.

“30 ke atas itu nanti sel telurnya jadi menguning. Kualitas telur sangat terpengaruh oleh usia,” lanjutnya.

Hal itu belum dipengaruhi dengan penyakit penyerta yang dia punya serta gaya hidup sehari-hari. Misalnya jika sang perempuan menderita penyakit endometriosis dan sebagainya, maka faktor kegagalan akan makin besar. Pola hidup tidak sehat dan polusi juga punya kontribusi untuk membuat kualitas sel telur semakin menurun.

Sebenarnya kualitas sperma laki-laki juga terpengaruh oleh usia, namun lebih lambat. Jika pola hidupnya baik, kualitas sperma laki-laki akan terpengaruh ketika usianya sudah 40 tahun ke atas.

Saat ini menurutnya semakin banyak kasus pasangan yang sulit memiliki keturunan karena pilihan menunda pernikahan. Entah itu karena ingin fokus meniti karier, pendidikan, dan lain sebagainya. Karena itu, supaya nantinya tidak mengalami kesulitan memiliki keturunan, Ida menyarankan supaya setiap pasangan menikah di usia yang masih produktif.

“Jadi kalau mau punya keturunan jangan mikir 40 tahun baru mau punya anak,” ujar Ida Fauzia.

Hal serupa juga dikatakan oleh Mochammad Anwar, salah seorang perintis program bayi tabung di Yogyakarta yang kini membuka praktik di Morula IVF Yogyakarta di RS Jogja International Hospital (JIH). Faktor usia menurut dia juga menjadi faktor utama yang paling sering menyebabkan kegagalan dalam program bayi tabung.

“Kalau ingin punya anak lewat bayi tabung tapi usianya sudah 45 tahun, mikir keras saya,” kata Anwar, Rabu (21/4).

Sulit Punya Anak Bukan Hanya Karena Faktor Istri

Foto: dokumen Klinik Permata Hati RSUP Dr. Sardjito

Selama ini, ketika pasangan sulit memiliki keturunan kebanyakan adalah perempuannya yang disalahkan. Padahal menurut Moch Anwar, faktor suami juga besar untuk menyebabkan sulit punya anak. Bahkan hampir 50 persen masalah sulit memiliki keturunan menurut dia berasal dari suami.

Kualitas sperma yang dimiliki oleh suami sangat berpengaruh, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Untuk kondisi normal, tiap 1 cc biasanya mengandung sperma hingga 15 juta.

“Tapi kadang-kadang banyak suami yang spermanya hanya 10 juta, 5 juta, ada 2 juta, ini sering. Karena itu faktor suami itu rata-rata hampir 50 persen,” ujarnya.

Sementara indikasi utama pada istri yang membuat mereka harus melakukan bayi tabung menurutnya karena saluran telur yang tersumbat. Tersumbatnya saluran telur ini menyebabkan sperma dan sel telur menjadi tidak pernah bisa bertemu.

“Bisa karena infeksi, atau hidrosalping yaitu saluran sel telurnya itu bengkak jadi terpaksa dipotong,” lanjutnya.

Kelainan lain yang biasa ditemui adalah indung telur yang tidak bisa menghasilkan sel telur atau ovum. Namun dengan teknologi dan metode yang ada sekarang, hal itu sudah bisa diatasi sehingga indung telur bisa menghasilkan sel telur.

“Jadi masalah sulit memiliki keturunan itu bisa karena faktor istri maupun suami,” ujarnya.

Bahkan, ada masalah sulit memiliki keturunan yang penyebabnya tidak bisa dijelaskan. Baik istri maupun suami sama-sama normal dan sehat, namun keduanya sulit memiliki keturunan.

“Itu bisa terjadi, ada yang bertahun-tahun tidak bisa punya anak ternyata setelah cerai bisa punya anak dengan pasangan masing-masing. Ini unexplain, enggak bisa diterangkan,” kata Anwar.

Proses Implantasi Paling Sering Gagal

Foto: Dokumen Klinik Permata Hati

Dengan teknologi dan metode yang semakin canggih, semua proses bayi tabung menurut Moch Anwar sudah bisa dilakukan dengan baik. Yang masih mengalami kegagalan adalah ketika sudah masuk ke proses implantasi, yakni ketika embrio sudah dimasukkan ke dalam rahim.

“Kalau sudah sampai implantasi, kita hanya bisa berdoa,” ujarnya.

Masalah implantasi dalam dunia kedokteran menurutnya memang masih menjadi diskusi dan penelitian. Sampai sekarang belum ada teknologi maupun metode yang bisa memastikan proses implantasi ini bisa berjalan dengan normal sehingga menghasilkan kehamilan.

“Tapi kita selalu berusaha, kita kasih berbagai jenis obat, Alhamdulillah sekarang makin tinggi keberhasilannya,” lanjutnya.

Sulitnya menjawab pertanyaan besar ini menurut Moch Anwar karena sangat banyak hal yang mempengaruhi proses implantasi. Faktor-faktor tersebut terutama faktor genetik, hormon, pola hidup, dan sebagainya.

Yang bisa dilakukan sekarang adalah pemberian dukungan fase luteal kepada pasien setelah proses embrio transfer atau memasukkan embrio ke dalam rahimnya. Dukungan ini berupa pemberian berbagai jenis obat untuk mendukung proses pertumbuhan embrio.

“Itu kita berikan sampai kira-kira dua bulan, sampai betul-betul janinnya bisa tumbuh,” kata Anwar.