Kumparan Logo
Konten Media Partner

Seniman Asal Kulon Progo Angkat Tradisi Tenun Umapura dalam Film Dokumenter

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seniman asal Kulon Progo, Gabrielle Maria Anna, yang mendokumentasikan tradisi tenun dan pengetahuan pewarna alami masyarakat Umapura melalui film Women of the Floating Island: The Living Colors and Traditions of Umapura. Foto: Instagram @gabriellemarian_
zoom-in-whitePerbesar
Seniman asal Kulon Progo, Gabrielle Maria Anna, yang mendokumentasikan tradisi tenun dan pengetahuan pewarna alami masyarakat Umapura melalui film Women of the Floating Island: The Living Colors and Traditions of Umapura. Foto: Instagram @gabriellemarian_

Pengetahuan meracik hingga seratus variasi warna alami di Desa Umapura, Pulau Ternate, Alor, Nusa Tenggara Timur, selama ini diwariskan melalui praktik dan tutur lisan. Pengetahuan tersebut tidak tersimpan dalam naskah tertulis dan kini masih dipegang enam perempuan penenun dari Komunitas Pante Laut.

Kondisi itu menjadi perhatian seniman kelahiran Kulon Progo, Gabrielle Maria Anna. Melalui film Women of the Floating Island: The Living Colors and Traditions of Umapura, Gabrielle mendokumentasikan pengetahuan tentang warna alami, teknik tenun, motif, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan yang selama ini hidup di antara para penenun Umapura.

Enam perempuan penenun dari Komunitas Pante Laut, Desa Umapura, Alor, Nusa Tenggara Timur. Foto: Instagram @gabriellemarian_

Enam perempuan yang menjadi bagian dari dokumentasi tersebut adalah Sahari Karim, Siti Hasan, Jaenab Liang Hasan, Hatmina Hasan, Sumarni Liang, dan Masnia Hasan. Mereka mempraktikkan pengetahuan pewarnaan dengan memanfaatkan berbagai sumber dari lingkungan darat dan laut untuk menghasilkan warna pada kain.

Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari tradisi tenun ikat Umapura. Desa yang memiliki luas sekitar 0,88 kilometer persegi dengan 321 kepala keluarga itu juga menjadi salah satu sentra tenun ikat di Alor. Kain yang diproduksi masyarakat setempat dipasarkan hingga Pulau Lembata.

instagram embed

Yang direkam seniman blasteran Italia itu bukan hanya proses menghasilkan kain, tetapi pengetahuan yang berada di baliknya. Film tersebut mengikuti bagaimana bahan alami dimanfaatkan, bagaimana proses menenun dilakukan, hingga bagaimana motif berkaitan dengan ingatan dan identitas masyarakat.

Di Pulau Ternate, delapan suku memiliki motif tenun yang berkaitan dengan alam, leluhur, sejarah, dan kehidupan sosial. Salah satunya motif Baololong, yang merujuk pada pohon beringin dan Raja Baololong serta melambangkan keterhubungan, persatuan, dan semangat saling membantu.

Melalui pendekatan tersebut, tenun dalam film diposisikan sebagai “arsip hidup”. Kain tidak hanya menjadi hasil kerajinan, tetapi juga medium yang menyimpan pengetahuan dan ingatan budaya yang terus diteruskan melalui praktik para penenun.

instagram embed

Gabrielle merupakan lulusan Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Seniman kelahiran Kulon Progo pada 1999 itu mengeksplorasi seni grafis, lukisan, instalasi, hingga media baru. Dalam proyek ini, pendekatan artistiknya digunakan untuk merekam praktik dan pengetahuan tenun masyarakat Umapura dalam bentuk film dokumenter.

Proyek Women of the Floating Island: The Living Colors and Traditions of Umapura mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Film tersebut akan diputar untuk publik pada Senin (28/9) pukul 19.00 WIB di Cinema Hub, Jogja Film Academy, Yogyakarta. Kapasitas penonton terbatas dan masyarakat yang ingin menyaksikannya perlu melakukan registrasi terlebih dahulu.