Kumparan Logo
Konten Media Partner

Suara DIY Cuma 1,4 Persen, Kenapa Sultan Jogja Begitu Penting saat Pilpres?

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sri Sultan Hamengku Buwono X. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sri Sultan Hamengku Buwono X. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Setiap pemilu, semua kandidat calon presiden (capres) selalu mendatangi Raja Keraton Yogyakarta yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X. Padahal, Sultan tak pernah mencalonkan diri sebagai capres maupun cawapres.

Sultan juga menjadi satu-satunya gubernur di Indonesia yang selalu didatangi oleh para capres tiap pemilu.

Terhitung sejak Pemilu 2004, dari lima kandidat capres saat itu, tiga di antaranya yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Amien Rais, hingga Wiranto datang menemui Sultan. Hanya dua capres yang tidak mendatangi Sultan yakni Megawati dan Hamzah Haz.

Pertemuan Jokowi dan Sultan HB X di Keraton Yogyakarta. Agus Suparto/ Fotografer Kepresidenan

SBY yang saat itu jadi pemenang Pemilu 2024 bahkan dua kali menemui Sultan pada masa pemilu, yakni sebelum putaran pertama dan sebelum putaran kedua.

Pada Pemilu 2009, ketiga kandidat capres saat itu, yakni SBY, Megawati, dan Jusuf Kalla, juga datang menemui Sultan sebelum pemilu. SBY yang berpasangan dengan Boedino memang tak ada jadwal khusus bertemu dengan Sultan HB X. Namun di akhir 2008 SBY sempat bertemu dengan Sultan HB X di sebuah acara di Candi Prambanan.

Begitu juga pada Pemilu 2014 dan 2019, Jokowi dan Prabowo yang saat itu berebut kursi RI 1 juga tidak pernah absen menemui Sultan.

Apa sebenarnya yang membuat sosok Sultan begitu penting pada setiap pilpres?

Padahal secara elektoral suara yang diperebutkan di DIY sangatlah kecil. Dengan jumlah DPT pada Pemilu 2019 hanya sekitar 2,7 juta, DIY hanya menyumbang sekitar 1,4 persen dari total suara nasional.

Dekan FISIPOL UGM, Wawan Mas'udi. Foto: Dok. FISIPOL UGM

Pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) yang kini menjabat sebagai Dekan FISIPOL UGM, Wawan Mas’udi, mengatakan bahwa para capres yang mendatangi Sultan setiap pemilu bukan sedang menghadap seorang gubernur semata.

Lebih dari seorang gubernur, para kandidat tersebut sedang menemui sosok figur yang menjadi simbol masyarakat Jawa. Pasalnya, Sultan dan Keraton Yogya merupakan simbol dari budaya Jawa yang masih eksis sampai sekarang.

Di sisi lain, masyarakat Jawa merupakan penyumbang suara terbesar dalam setiap pemilu.

“Beliau selalu dipandang sebagai the guardian of the culture, sebagai penjaga kebudayaan dan kebijakan Jawa. Jadi beliau ini bukan hanya sebagai individu semata-mata raja, tetapi simbolisasi beliau sebagai center dari masyarakat Jawa,” kata Wawan Mas’udi saat dihubungi pada Jumat (11/8).

kumparan post embed

Memang jika dihitung secara elektoral, sumbangan suara DIY sangat kecil. Tapi yang perlu diingat, Sultan adalah sosok raja yang sangat dihormati terutama oleh masyarakat Jawa.

Jika yang dihitung hanya masyarakat Jawa yang tinggal di DIY saja jumlahnya memang kecil. Tapi jika digabung dengan jumlah suara di Jawa Tengah dan Jawa Timur, jumlahnya lebih dari 30 persen. Ini belum termasuk suara masyarakat Jawa yang ada di provinsi lain, atau bahkan luar Pulau Jawa.

Pengamat politik UGM, Mada Sukmajati. Foto: UGM

Pengamat politik lain dari FISIPOL UGM, Mada Sukmajati, juga mengatakan bahwa kuatnya simbol Sultan sebagai pemimpin Jawa jadi faktor utama kenapa Sultan selalu dianggap penting pada setiap pemilu.

Para kandidat capres berharap dengan mereka mendatangi Sultan, maka mereka bisa menarik simpati masyarakat Jawa yang jumlahnya sangat besar.

“Jadi untuk menarik simpati masyarakat Jawa paling tidak, syukur-syukur bisa ditransformasi menjadi dukungan suara,” kata Mada Sukmajati.

Kuatnya ketokohan Sultan di tengah masyarakat Jawa menurut Mada membuat para kandidat tidak bisa mengabaikan pengaruh Sultan terhadap masyarakat Jawa. Karena itu, mendatangi Sultan setiap pemilu seperti sudah jadi ritual politik meski sampai sekarang tidak diketahui secara jelas seberapa besar pengaruh Sultan terhadap penambahan suara yang mereka dapatkan.

“Ini menjadi semacam ritual politik yang harus dijalani meskipun dampak elektoralnya sampai sekarang belum jelas berapa persen,” ujar Mada.