Kumparan Logo
Konten Media Partner

Sultan HB X: Yogya Punya Banyak Talenta Musisi Muda, tapi Tak Punya SD-SMP Musik

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Foto: Humas Pemda DIY
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Foto: Humas Pemda DIY

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, ikut menyaksikan konser orkestra kolaborasi antara peserta Youth Music Camp yang digelar Dinas Kebudayaan DIY dengan kelompok orkestra Melbourne Symphony Orchestra (MSO) di Auditorium Driyarkara, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Kamis (11/5) malam.

Dalam kesempatan itu, Sultan mengapresiasi kerja sama antara Yogya dengan MSO dalam berbagai kegiatan pengembangan musik orkestra, seperti program Youth Music Camp maupun konser kolaborasi.

kumparan post embed

Menurutnya, kerja sama seperti itu sangat dibutuhkan oleh Yogyakarta. Pasalnya, Yogya memiliki banyak sekali talenta musisi muda, namun hingga saat ini belum ada pendidikan formal yang bisa mewadahi mereka. Hal itu juga membuat proses belajar musik anak-anak di Yogya menjadi terlambat dan tertinggal dengan negara-negara di luar negeri.

“Di sini tidak ada sekolah dasar maupun sekolah SMP untuk belajar musik. Berarti belajar musik baru SMA, tapi di luar umur 10 tahun 12 tahun sudah bisa membunyikan alat musik, kita belum bisa, baru SMA,” kata Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (11/5).

instagram embed

Sultan berharap kerja sama dengan MSO yang merupakan kelompok orkestra tertua di Australia yang telah mendunia ini, bisa menjadi wadah belajar bagi anak-anak di Yogya yang potensial. Apalagi kerja sama itu juga membuka peluang bagi talenta-talenta muda Yogya mendapatkan beasiswa untuk belajar langsung ke Australia bersama MSO.

“Sehingga dengan demikian kami tidak ketinggalan untuk berkreasi dengan musik, alat-alat musik, di luar musik tradisional yang kita kenal dan kita pelajari selama ini,” ujarnya.

Direktur Manager MSO, Sophie Galaise. Foto: Humas Pemda DIY

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Manager MSO, Sophie Galaise, mengatakan bahwa bekerja sama dengan Yogyakarta dalam pengembangan musik orkestra menjadi pengalaman yang sangat menarik bagi MSO. Meski sudah berkeliling dunia, namun Yogyakarta menurutnya menjadi tempat yang paling istimewa bagi MSO.

“Kami sudah berkeliling dunia, tapi Yogyakarta adalah tempat yang paling kami cintai,” kata Sopie Galaise.

Galaise mengatakan bahwa MSO sudah menjalin kerja sama dengan Yogya selama 8 tahun sejak 2016 silam. Dia merasa bangga bisa menjalin kerja sama tersebut dan bisa bertukar ilmu dengan para musisi dan talenta muda yang ada di Yogyakarta.

“Yogyakarta adalah rumah kedua kami. Sejak 2016, hubungan Melbourne Symphony dan Yogyakarta adalah suatu kebanggaan bagi kami,” ujarnya.

Konser kolaborasi antara Melbourne Symphony Orchestra dengan peserta Youth Music Camp di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Foto: Arif UT

Total, ada enam repertoar yang dibawakan dalam konser kolaborasi berdurasi sekitar 1,5 jam itu. Enam repertoar tersebut di antaranya Selections from the Abdelazer Suite karya Henry Purcell, The Last Leaf aransemen The Danish String Quartet, Andante Cantabile karya Tchaikovsky, The Court of Berevew, Suite for Strings karya Anton Koch, Suita Dewaruci karya Budhi Ngurah dan Yarra Code karya Vishnu Satyagraha. Dua karya terakhir tersebut menyajikan perpaduan string orchestra dan instrumen gamelan.

Suita Dewaruci menceritakan kisah epik tentang Bima yang diberi tugas oleh tuannya, Drona, untuk mencari air kehidupan. Konser ini ditutup dengan repertoar Yarra Code, sebagai representasi dari persahabatan Melbourne dan Yogya, dimana Yarra merupakan sungai di jantung kota Melbourne, sedangkan Code adalah sungai dan landmark Yogyakarta.

Komposisi ini dibawakan dengan menggabungkan string orkestra dengan dua instrumen gamelan tanpa nada berupa Kendang dan Bedug yang dipimpin oleh Budhi Ngurah, musisi sekaligus akademisi dari ISI Yogyakarta.