Kumparan Logo
Konten Media Partner

Syukuran Eks Wali Kota Jogja Ditangkap KPK, Dodok Putra Bangsa Cukur Gundul

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Di depan Balai Kota Yogya pada Sabtu (4/6), Dodok Putra Bangsa dicukur oleh Elanto Wijoyono, Humas Festival Seni Mencari Haryadi. Foto: Widi Erha Pradana
zoom-in-whitePerbesar
Di depan Balai Kota Yogya pada Sabtu (4/6), Dodok Putra Bangsa dicukur oleh Elanto Wijoyono, Humas Festival Seni Mencari Haryadi. Foto: Widi Erha Pradana

“Kalau sampai KPK berani menangkap Wali Kota Jogja, saya akan potong gundul,” demikian nadzar salah seorang warga Jogja, Dodok Putra Bangsa, ketika melakukan ritual mengencingi kantor Balai Kota Jogja pada Januari 2019 silam.

Saat itu, Dodok sebenarnya sudah pesimis kalau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan berhasil mengungkap kejahatan korupsi yang terjadi di dalam pemerintahan Kota Jogja. Apalagi sisa masa jabatan Haryadi Suyuti sebagai wali kota sudah tak lama. Karena itulah Dodok mengucapkan nazar untuk memotong gundul rambutnya jika KPK sampai berhasil menangkap Haryadi.

Tiga tahun berselang, Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti, yang baru saja purna jabatan 22 Mei 2022 kena operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi karena kasus suap izin pembangunan sebuah apartemen di Jogja. Haryadi ditangkap pada Kamis 2 Juni 2022, hanya beberapa hari setelah masa jabatannya berakhir.

Dodok, yang juga aktif mengawal isu-isu perkotaan sejak belasan tahun terakhir, ingat dengan nazarnya tiga tahun silam. Di depan Balai Kota Jogja, Dodok membayar tuntas nazar itu dengan mencukur gundul rambut gondrongnya dua hari setelah KPK menangkap Haryadi.

“Terakhir potong rambut 2006, pas nikah,” kata Dodok setelah selesai menjalani ritual pemotongan rambut, Sabtu (4/6).

Dodok Putra Bangsa dicukur gundul sambil melayani wawancara wartawan. Foto: Widi Erha Pradana.

Ritual pemotongan rambut itu dihadiri sejumlah warga dan aktivis di Kota Jogja. Satu per satu dari mereka bergantian menggunting rambut Dodok yang gondrong sampai gundul sembari mengucapkan doa yang intinya: Semoga Jogja terbebas dari korupsi, dan kasus-kasus yang belum terungkap akan ikut terungkap.

“Syukuran ini karena KPK akhirnya berhasil menangkap mantan wali kota atas kasus korupsi,” ujarnya.

Diungkapnya kasus korupsi yang menyeret nama mantan Wali Kota Jogja itu menurut Dodok sudah diidam-idamkan warga Jogja sejak hampir 10 tahun silam sampai muncul tagar Jogja Kangen KPK sejak tahun 2012. Ritual pemotongan rambut sendiri dipilih sebagai harapan untuk mengawali pembangunan Jogja dari nol.

“Semoga dengan dibersihkannya rambut saya ini menjadi simbol bahwa mengawali Jogja dari nol lagi, dengan terang, tidak ketutupan rambut, isinya otak, sehingga otaknya berpikir jernih untuk berpikir untuk kesejahteraan rakyat Yogyakarta,” kata Dodok.

Dodok Putra Bangsa dicukur gundul sambil melayani wawancara wartawan. Foto: Widi Erha Pradana.

Dodok juga menyinggung aksinya mengencingi papan nama kantor balai kota yang dia lakukan tiga tahun lalu. Menurut dia, air kencing itu dimaksudkan untuk mengusir aura jahat dan negatif yang selalu melingkupi Kota Yogyakarta.

“Jelas yang paling manjur (untuk mengusir aura jahat) adalah air kencing,” ujarnya.

Sebelum melakukan ritual mengencingi balai kota, pada 2016 Dodok juga pernah melakukan ritual mandi air kembang tujuh rupa dari tujuh sumur di Depan Kompleks Balai Kota Jogja. Tak hanya Dodok, pada 2018, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Pendapa SangArt juga pernah melakukan ritual ruwatan untuk bumi Yogya dengan menarikan Bedhaya Banyu neng Segara. Ritual-ritual itu dilakukan karena upaya-upaya legal formal yang sudah dilakukan tak kunjung membuahkan hasil.

“Karena itu perlu ada dorongan doa dan usaha dalam wujud yang lain,” ujar Dodok Putra Bangsa.