Tabon: 400-an Karya Seni Dipamerkan di JNM Jogja, Satukan Sains & Spiritualitas

Sekitar 400 karya seni rupa dari tiga seniman memenuhi tiga lantai Jogja National Museum (JNM) dalam pameran seni rupa bertajuk ‘Tabon’ yang diselenggarakan Jogja Art Planet (JAP). Pameran ini telah dibuka sejak 22 April 2024 kemarin, dan akan berlangsung hingga 5 Mei 2024 mendatang.
400 karya seni rupa tersebut merupakan karya dari tiga seniman, yakni Faisal Kamandobat, Samuel Indratma, dan Alit Ambara.
Lantai 1 JNM dipenuhi oleh karya-karya kontemporer dari Samuel Indratma, di lantai 2 ada manuskrip milik Faisal Kamandobat, dan di lantai 3 dipenuhi oleh poster-poster karya Alit Ambara.
Faisal Kamandobat menceritakan karya yang ia pajang di pameran ini merupakan sebuah manifestasi kosmologi yang selaras dengan perkembangan pandangan hidup masyarakat. Misalnya, ada karyanya yang mengangkat tema tentang critical thinking terkait situasi mutakhir.
“Judulnya Selametan Supersemar. Jadi Semar itu keseimbangan dalam kosmologi Jawa, tapi situasi sekarang itu masyarakat tidak lagi seimbang,” kata Faisal, Kamis (2/5).
Melalui karya-karya yang dipajang di Pameran Tabon ini, Faisal ingin menyampaikan bagaimana spiritualitas dan sains bisa menyatu menjadi satu pandangan hidup, atau kosmologi dalam satu masyarakat.
“Yang pertama, memaknai kembali ritual atau ibadah yang melebur sebagai adat istiadat. Yang kedua, soal bagaimana agama melakukan proses rasionalisasi lewat sains. Misalnya Isra Miraj yang mendorong bidang ilmu astronomis,” jelasnya.
Seluruh karyanya yang dipajang merupakan himpunan dari perjalanan panjang yang telah ia lalui sebagai masyarakat. Karena itu, dia ingin menyampaikan sesuatu yang selaras dengan pandangan hidup atau kosmologi masyarakat.
Butuh waktu 4 bulan bagi Faisal untuk menyelesaikan pengerjaan karya-karyanya untuk dipamerkan di Tabon. Adapun proses yang paling banyak memakan waktu dalam membubuhkan makna manifestasi kosmologi adalah studi untuk penciptaan karya-karya itu.
Memadukan Pameran Seni Rupa dan Pasar Rakyat
Sementara itu, seniman lain yakni Samuel Indratma, menjelaskan bahwa kata tabon memiliki makna sebagai titik kumpul yang menyatukan pandangan hidup masyarakat. Karena itu, di pameran ini juga dihadirkan Pasar Jembar yang berada di area depan gedung JNM.
“Tabon ini membuat pameran bukan sekadar memasang karya, tapi berdampak kepada masyarakat. Kita bikin pasar untuk pertemuan moderasi lintas agama, kultur, dan ras,” kata Samuel.
Jogja Art Planet bekerja sama dengan komunitas Jaringan Gusdurian dalam membuat konsep Pasar Jembar di pameran ini. Menurutnya, cara pandang Gusdurian sesuai dengan Pasar Jembar yang diharapkannya mampu menjadi titik kumpul masyarakat yang berbeda-beda pandangan hidup.
“Kami bertiga (Samuel, Faisal, Alit) punya gagasan untuk melibatkan ragam disiplin ilmu pengetahuan yang memoderasi pandangan hidup masyarakat. Jadi ini sebuah wahana, di mana kesenian boleh melintasi batas-batas yang tidak dibayangkan,” jelas Samuel.
Nasirun, perupa asal Jogja yang hadir dalam pembukaan pameran ini juga menyampaikan hal yang sama terkait perpaduan pameran seni rupa dengan pasar rakyat. Ia juga memberikan pandangan, bahwa perkembangan seni dan kerakyatan lintas bangsa, ras, dan agama, tidak dapat dipisahkan.
“Maknanya, (pameran seni) ini bisa sampai ke masyarakat. Di mana pameran ini tidak hanya ditonton oleh sesama seniman, tetapi masyarakat terlibat,” ucap Nasirun.
Nasirun juga menjelaskan bahwa pameran seni itu tidak harus eksklusif. Ia menilik lagi masa lampau, di mana kesenian itu menyatu dengan masyarakat, dan juga diperuntukkan untuk kerakyatan.
“Ini memberikan inspirasi bahwa pameran itu tidak harus di gedung, tidak harus eksklusif. Kita harus mengingat pesan Ngarso Dalem ke-IX, soal tahta untuk rakyat. Jogja memasang pintu dari berbagai macam arah untuk kebudayaan manapun,” kata Nasirun.
Pameran ini dibuka secara simbolis oleh putri bungsu Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid. Adapun prosesi pembukaan pameran tersebut dilakukan dengan wudhu.
“Bukan tanpa alasan, selain membuka Pameran Tabon ini, kita juga berusaha meng-NU-kan semuanya,” canda Inayah sambil membuka padasan wudu tanda dimulainya pameran, Senin (22/4) silam.
