Kumparan Logo
Konten Media Partner

Taigersprung Dimsum: Kisah Mahasiswa Jogja Membangun Resto di 3 Kota

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Taigersprung Dimsum, resto yang menjual berbagai jenis dimsum fresh dengan harga terjangkau. Foto: Doc. Taigersprung
zoom-in-whitePerbesar
Taigersprung Dimsum, resto yang menjual berbagai jenis dimsum fresh dengan harga terjangkau. Foto: Doc. Taigersprung

Selama kuliah di Yogyakarta, Buyung dan teman-temannya punya satu keresahan yang sama: mencari dimsum fresh dan handmade bukan perkara mudah. Pilihan terbaik justru banyak ditemui di hotel-hotel berbintang, tempat yang harganya jelas jauh dari jangkauan mahasiswa.

“Sebagai mahasiswa waktu itu mau makan dimsum sama teman-teman itu susah cari tempat. Karena dimsum enak yang handmade, yang fresh itu hanya ada di hotel-hotel. Hotel-hotel bintang lima yang mahal,” ujarnya kepada Pandangan Jogja beberapa waktu lalu.

Pertanyaan itu menempel kuat: mengapa dimsum fresh harus mahal? Kalau hotel bisa membuatnya setiap hari, bukankah itu juga bisa dilakukan oleh anak muda yang mau mencoba?

Berbagai pilihan menu dimsum di Taigersprung Dimsum. Foto: Doc. Taigersprung

Buyung dan beberapa temannya lalu turun ke lapangan. Mereka mencicipi dimsum dari hotel ke hotel, dari restoran ke kedai kecil, mencatat rasa, membandingkan harga, dan mencari celah yang bisa diperbaiki.

“Dulu ya kita puterin semua hotel di Jogja yang jual dimsum, mulai dari yang bintang lima, bintang empat, terus kedai-kedai, resto-resto yang jual dimsum. Kita catetin, oh ini rasanya gimana. Harganya gimana. Apa yang bisa diperbaiki,” kata Buyung.

Dari riset kecil itu, arah bisnis mereka mengerucut: fresh, handmade setiap hari, dan tetap terjangkau.

Prinsip itu menjadi napas Taigersprung sejak pintu pertama dibuka. Setiap pagi, sebelum pelanggan datang, adonan dibuat ulang, isian diolah kembali, dan seluruh menu disiapkan dari nol. Di ruang dapur yang sibuk itu, mereka memegang keyakinan sederhana: dimsum terbaik adalah yang baru keluar dari kukusan.

Namun Taigersprung tidak berhenti di rasa. Ada misi memperkenalkan ragam dimsum kepada masyarakat Jogja yang selama ini menganggap dimsum identik dengan siomay saja.

Suasana di otlet Taigersprung Dimsum. Foto: Doc. Taigersprung

“Di Jogja ini kan dimsum konotasinya masih hanya siomay aja ya. Cuman kalau di Taigersprung ini kita menyediakan banyak varian menu supaya teman-teman di Jogja juga bisa tahu nih kalau dimsum itu ternyata warnanya banyak,” ujar Tiara, General Manager Taigersprung.

Kini lebih dari lima puluh menu hadir di meja pelanggan, dari mie, nasi hainan, hingga bebek peking, dengan harga mulai dari dua puluh ribuan. Tapi Buyung percaya, rasa saja tidak cukup membuat pelanggan kembali. Yang menentukan adalah pengalaman yang dirancang sejak pintu dibuka.

Pilihan menu seperti bebek paking, nasi hainan, dan olahan mie juga tersedia di Taigersprung Dimsum. Foto: Doc. Taigersprung

“Dari customer datang, kita greeting, kita escort ke meja, di meja kita bantu pilih menu, terus menunya datang, kita pastiin customer happy,” ungkapnya.

Perhatian itu terasa bahkan pada hal yang tidak selalu disadari pelanggan—seperti memilih cabai khusus untuk memastikan tingkat kepedasan konsisten. Setiap detail dianggap bagian dari pengalaman makan yang menyeluruh.

Dari keresahan seorang mahasiswa, Taigersprung tumbuh menjadi empat cabang: dua di Yogyakarta, satu di Semarang, dan satu di Solo. Dengan riset rasa, kualitas yang dijaga ketat, dan pelayanan yang ramah, Taigersprung menunjukkan bahwa dimsum fresh tidak harus mahal—cukup dibuat dengan kesungguhan sejak hari pertama.