Kumparan Logo
Konten Media Partner

Toko Kue Trubus Bercerita: 50 Tahun Berdiri, Masih Jajakan Kue Pakai Tenong

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemilik generasi ketiga Toko Kue Trubus, Jonathan Lukas, ditemui pada Selasa (11/3). Foto: Mulya Irfani/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Pemilik generasi ketiga Toko Kue Trubus, Jonathan Lukas, ditemui pada Selasa (11/3). Foto: Mulya Irfani/Pandangan Jogja

Di Jalan Poncowinatan, Yogyakarta, ada bisnis kue yang telah berdiri selama lebih dari setengah abad. Toko Kue Trubus namanya. Toko ini berawal dari pedagang tenong yang menjajakan kue dari rumah ke rumah menggunakan wadah bundar dari kayu. Hingga kini, meski telah memiliki tiga cabang toko di Yogyakarta, Trubus masih mempertahankan tenong-tenongnya.

“Nenek saya mulai berjualan dari tahun 1958, kalau tokonya sendiri dari tahun 1980-an. Awalnya memang keliling dari rumah ke rumah dulu dengan tenong, kemudian membuka toko di sini,” kata pemilik generasi ketiga Toko Kue Trubus, Jonathan Lukas, ditemui Pandangan Jogja di Toko Kue Trubus pusat pada Selasa (11/3).

Meskipun perkembangan zaman mulai menggusur jumlah pedagang tenong, menurut Jonathan, beberapa pelanggan lama tetap memilih membeli dari penjual tenong. “Mereka datang lagi ke Yogya, tapi tetap membeli dari Mbok Tenong (sebutan para penjual kue Trubus dengan tenong) di luar. Katanya ini cara mereka menikmati Trubus sejak dulu,” jelasnya.

Jonathan bercerita, dahulu jumlah penjual kue Trubus dengan tenong mencapai 50 orang tetapi kini hanya tersisa sekitar 15 orang.

Produk-produk yang dijajakan di dalam Toko Kue Trubus pusat. Foto: Mulya Irfani/Pandangan Jogja

Sumirah adalah salah satu penjual dengan tenong ini. Dia telah berjualan sejak 1970 dan masih bertahan. Sumirah menilai pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah, lebih daripada itu, bagi Sumirah, menjadi penjual kue Trubus dengan tenong adalah caranya untuk tetap dekat dengan para penikmat kue legendaris ini.

“Dulu saya diajak kakak, keliling sampai Malioboro dan Sosrowijayan. Saya gembira daripada di rumah, kami senang jalan-jalan, ketemu pelanggan lama,” ujarnya.

Bagi penjual kue dengan tenong lainnya, Sinem, toko kue Trubus bukan sekadar penjual makanan biasa. Bagi dia, toko kue Trubus adalah sumber harapannya. Sinem mengaku, dulu ia datang ke Kota Yogyakarta dari desa untuk mencari pekerjaan, kini Sinem bahkan mampu membeli rumah dari jerih payahnya sebagai penjual kue Trubus dengan tenong. “Alhamdulillah sekarang sudah bisa punya rumah. Ini jadi hiburan sekaligus mencari rezeki,” katanya.

Salah satu pelanggan Toko Kue Trubus yang ditemui Pandangan Jogja di lokasi. Foto: Mulya Irfani/Pandangan Jogja

Selain kehadirannya yang berdampak bagi para penjual dengan tenong, Trubus juga menjadi tempat nostalgia bagi salah satu konsumennya, Mei-Mei. Ia mengingat bagaimana harus menabung untuk membeli roti Trubus di masa lalu. Kini, ia tetap membeli roti ini untuk mengenang masa lalu.

“Dulu kalau ingin beli, harus menyisihkan uang. Mbok-Mbok yang bawa tenong pakai caping itu selalu lewat depan rumah,” katanya.