Kumparan Logo
Konten Media Partner

Unik, Darah Sapi Kurban Sultan HB X Selalu untuk Basuh Muka Deni si Penjagal

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Salah seorang penjagal sapi kurban di Masjid Gedhe Kauman, Muhammad Deni Kristanto, befoto dengan sapi kurban milik Sultan HB X, Suseno. sebelum disembelih, Selasa (27/6). Foto: Arif UT
zoom-in-whitePerbesar
Salah seorang penjagal sapi kurban di Masjid Gedhe Kauman, Muhammad Deni Kristanto, befoto dengan sapi kurban milik Sultan HB X, Suseno. sebelum disembelih, Selasa (27/6). Foto: Arif UT

Sehari sebelum hari raya Idul Adha, sudah ada 11 sapi kurban di halaman Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kraton Yogya atau lebih dikenal dengan nama Masjid Gedhe Kauman.

Jumlah ini belum termasuk sapi-sapi yang akan disembelih di luar kompleks masjid karena luas halaman yang terbatas.

Dari belasan sapi itu, salah satunya adalah sapi kurban milik Raja Yogya, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sapi tersebut adalah sapi jenis peranakan ongole (PO) dengan bobot 1,3 ton yang diberi nama Suseno.

Salah seorang tukang jagal sapi kurban di Masjid Gedhe Kauman, Muhammad Deni Kristanto, mengatakan bahwa proses pemotongan sapi milik Sri Sultan menurut Deni merupakan momen paling istimewa di setiap acara pemotongan hewan kurban di Masjid Gedhe Kauman.

Salah seorang penjagal sapi kurban di Masjid Gedhe Kauman, Muhammad Deni Kristanto. Foto: Arif UT

Bukan hanya memiliki bobot paling berat, tapi karena ada tradisi khusus yang selalu dilakukan oleh para penjagal dan penyembelih sapi milik Sri Sultan. Tradisi itu adalah menjadikan darah sapi Sultan yang disembelih untuk membasuh muka.

“Siap adus getih (siap mandi darah) demi sembelih sapi Pak Sultan. Jadi darahnya itu dipakai buat cuci muka,” kata Deni saat ditemui di kompleks Masjid Gedhe Kauman Yogya, sehari sebelum penyembelihan hewan kurban, Selasa (26/6).

instagram embed

Deni tak tahu persis apa tujuan mencuci muka dengan darah sapi milik Sri Sultan. Yang dia tahu, tradisi itu sudah dilakukan sejak pertama kali dia berkarier sebagai tukang jagal di Masjid Gedhe Kauman.

“Rasanya kalau enggak cuci muka pakai darah sapinya Pak Sultan itu ada yang kurang, setiap tahun pasti gitu,” kata Muhammad Deni Kristanto.