Kumparan Logo
Konten Media Partner

Walkot Yogya: Pengamen Malioboro Akan Dikurasi, Kualitas Harus di Atas Rata-Rata

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pengamen di Malioboro. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengamen di Malioboro. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta berencana melakukan asesmen terhadap sekitar 60 pengamen yang rutin tampil di kawasan Malioboro. Langkah ini dilakukan untuk menilai kemampuan mereka sebelum ditempatkan di titik resmi yang sedang dipersiapkan.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan asesmen diperlukan agar penataan tidak hanya membatasi jumlah pengamen, tetapi juga meningkatkan kualitasnya.

“Kita ingin melihat apakah mereka asal ngamen atau memang punya keterampilan, punya skill yang baik,” ujar Hasto saat menghadiri penutupan Lomba Ngamen Musisi Jalanan Piala Panglima TNI 2025 yang digelar di Museum TNI AD Dharma Wiratama, Minggu (28/9).

Menurut Hasto, pengamen Malioboro harus mampu memberikan hiburan yang berbeda dari pengamen di tempat lain.

“Kalau sudah mengamen di Malioboro, kualitasnya harus di atas rata-rata. Pengamen Malioboro harus berbeda dari pengamen di tempat lain, baik dari segi kemampuan musik maupun penampilan. Mereka harus terseleksi dan terkurasi, sehingga bisa memberi hiburan sekaligus kesan positif bagi siapa saja yang berkunjung ke Malioboro,” katanya.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. Foto: Pemkot Yogya

Pemkot menurut dia tengah menyiapkan lima hingga sepuluh titik resmi untuk pengamen, dari kawasan Tugu hingga Titik Nol Kilometer. Selain itu, pengamen juga akan diarahkan tampil di lokasi lain yang ramai, seperti Taman Pintar, restoran, atau hotel.

“Kita ingin kerja sama dengan restoran atau hotel yang ramai, tentu dengan syarat tertentu,” tambah Hasto.

Hasto menyebutkan, Dinas Sosial bersama Dinas Kebudayaan juga akan menyiapkan program pelatihan bagi para pengamen. Materinya meliputi aturan tata tertib, kurasi penampilan, hingga kepatuhan terhadap regulasi royalti lagu.

“Harus ada pelatihan, tapi sebisa mungkin tidak mengurangi pendapatan mereka,” ucapnya.

Pemkot juga mendorong pengamen Malioboro untuk menciptakan karya lagu sendiri sebagai bentuk profesionalisasi.

“Kalau sampai menciptakan lagu sendiri lebih bagus lagi. Nanti orang bisa kangen dengan pengamennya Malioboro,” kata Hasto.