Konten dari Pengguna

Konspirasi Karhutla Kalimantan: Antara Keuntungan Ekonomi dan Bencana Lingkungan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pandu Dharma Widjayanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu, Indonesia kembali digemparkan oleh bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hebat yang melanda Kalimantan. Karhutla bukan sekadar musibah tahunan; bencana ini menghanguskan kekayaan flora dan fauna asli Indonesia, menurunkan kualitas udara secara drastis, serta memicu krisis kesehatan pernapasan bagi warga setempat.

"satu titik api mengalahkan kehidupan". nyala kecil mungkin tidak terlihat. namun dalam kecilnya tersimpan potensi jika tak terkendali, hutan bukan hanya sekedar hamparan pepohonan hijau. melainkan rumah bagi jutaan kehidupan di dalamnya. Sumber foto: dokumentasi pribadi dengan tujuan ilustrasi bahaya api.
zoom-in-whitePerbesar
"satu titik api mengalahkan kehidupan". nyala kecil mungkin tidak terlihat. namun dalam kecilnya tersimpan potensi jika tak terkendali, hutan bukan hanya sekedar hamparan pepohonan hijau. melainkan rumah bagi jutaan kehidupan di dalamnya. Sumber foto: dokumentasi pribadi dengan tujuan ilustrasi bahaya api.

Suhu udara yang melonjak saat musim kemarau di iklim tropis memang kerap dituding sebagai pemicu utama. Namun, apakah faktor cuaca adalah satu-satunya penyebab?

3 Pemicu Utama Karhutla Kalimantan

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan tergolong sangat sulit diatasi karena kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia:

1. Pengeringan Lahan Gambut secara Masif

Pembuatan kanal atau parit drainase buatan mengalirkan air keluar dari lahan gambut untuk menurunkan kadar air tanah. Sifat alami gambut yang menyerupai spons pembendung air menjadi hilang. Gambut yang mengering ini berubah menjadi bahan bakar yang sangat rapuh dan mudah terbakar (Alfarisyi et al., 2020).

2. Kemarau Panjang dan Fenomena El Niño

Lonjakan suhu udara ekstrem akibat pergeseran iklim dan fenomena El Niño memperparah kondisi kekeringan. Kadar air tanah yang terus menyusut membuat lapisan gambut dangkal hingga dalam sangat rentan terhadap percikan api sekecil apa pun.

3. Pembukaan Lahan Berbiaya Murah (Land Clearing)

Sebagian oknum sengaja membakar lahan untuk mengganti vegetasi asli dengan tanaman pembawa nilai ekonomi tinggi. Bagi segelintir pelaku nakal, membakar lahan dianggap sebagai cara paling menguntungkan secara finansial karena memangkas biaya operasional, meminimalisasi penggunaan alat berat, serta mempercepat penyiapan lahan luas (Jurnal Hukum Lex Generalis, 2025).

Sawit dan Dilema Ekonomi Makro Indonesia

Di sisi lain, ekspansi lahan pasca-kebakaran kerap mengarah pada budi daya kelapa sawit. Pusat Analisis Kelapa Sawit (PASPI, 2023) dan Ditjen Perkebunan (2022) mencatat beberapa kontribusi industri sawit terhadap perekonomian:

• Penopang PDRB Daerah: Meningkatkan pendapatan daerah dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional setiap tahunnya.

• Penciptaan Lapangan Kerja: Menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar serta membuka peluang ekonomi baru di pedesaan.

• Kesejahteraan Petani Swadaya: Perluasan lahan dan tata kelola yang tepat meningkatkan kuantitas produksi serta taraf hidup petani.

• Pembangunan Infrastruktur Wilayah 3T: Mendorong intervensi pemerintah dan swasta dalam membangun sarana transportasi dan aksesibilitas di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

• Efek Berganda (Multiplier Effect): Menghidupkan UMKM lokal di sektor pangan, sandang, dan jasa di sekitar area perkebunan.

• Peningkatan Kualitas SDM: Menuntut petani dan tenaga kerja untuk berpikir lebih rasional, sistematis, dan inovatif dalam mengelola budi daya hingga rantai pasok sawit.

Sudut Pandang Manajemen: Menimbang Kelebihan dan Risiko

Untuk melihat persoalan ini secara objektif, diperlukan evaluasi dari kacamata manajemen tata kelola lahan:

Keunggulan Geografis dan Industri

• Iklim yang Mendukung: Indonesia berada di wilayah tropis dengan suhu rata-rata 24–30°C, sangat ideal bagi pertumbuhan sawit (yang membutuhkan suhu 24–28°C).

• Tingginya Permintaan Global: Indonesia berpeluang besar menguasai pasar ekspor minyak sawit mentah (CPO) dunia karena kondisi iklim di banyak negara lain tidak memungkinkan untuk budi daya sawit.

• Rantai Nilai Olahan Unggulan: Kelapa sawit dapat diolah menjadi berbagai produk turunan bernilai tinggi, mulai dari minyak goreng, bahan bakar hayati (biodiesel), kosmetik, hingga antiseptik.

Risiko dan Dampak Kerugian

• Ancaman Alih Fungsi Gambut: Secara ekologis, pengeringan lahan gambut demi perkebunan sawit merusak struktur tanah. Jika tata kelola air (water management) gagal, area perkebunan justru rentan mengalami kebusukan akar saat curah hujan tinggi atau kebakaran hebat saat kemarau panjang.

• Kepunahan Flora dan Fauna: Pembakaran lahan secara ilegal merusak habitat asli satwa endemik Kalimantan yang sulit beradaptasi secara instan (Rimbawan & Nur, 2021).

• Krisis Kepercayaan Publik: Lambatnya penanganan Karhutla memicu kritik keras dari masyarakat terhadap ketegasan dan efisiensi pengawasan pemerintah.

• Gangguan Kesehatan Lingkungan: Polusi asap beracun memicu penyakit saluran pernapasan (ISPA) pada balita hingga lansia, yang berujung pada kerugian sosial dan ekonomi yang mahal (Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 2024).

Ekspansi ekonomi melalui industri perkebunan tidak boleh mengorbankan keselamatan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan, restorasi lahan gambut, serta penerapan sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan (ISPO/RSPO) harus menjadi prioritas utama agar bencana Karhutla di Kalimantan tidak terus berulang.