Di Balik Rica-rica Biawak: Risiko Penyakit, dan Hilangnya Manfaat Ekologis

Mahasiswa S1 Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Pandu Setyo Wicaksono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah dengar istilah outfit COD biawak? Istilah ini cukup populer pada kolom komentar berbagai platform media sosial seperti Instagram dan TikTok. Sering kali, istilah tersebut menjadi bahan candaan yang ditujukan pada gaya berpakaian atau outfit laki-laki yang dinilai kurang proper atau asal-asalan. Namun, dibalik istilah yang sering dijadikan bahan candaan itu, aktivitas Cash on Delivery (COD) biawak dalam konteks dunia satwa ternyata benar adanya, bahkan menyentuh isu krusial dalam konservasi dan kesehatan.
Biawak air atau yang sering disebut "nyambik" dalam bahasa Jawa memiliki nama latin Varanus salvator. Biawak merupakan salah satu satwa dari keluarga reptil yang memiliki kekerabatan dekat dengan komodo (Varanus komodoensis). Biawak umumnya hidup pada habitat basah atau perairan sesuai dengan pola hidupnya yang semi akuatik. Satwa ini akan menetap di sungai, rawa, dan area perairan tawar lainnya.
Dalam habitatnya, biawak berperan penting sebagai predator dalam ekosistem alam. Peran ini menjadikan biawak mampu mengendalikan populasi dari beberapa satwa yang menjadi mangsanya. Mangsa biawak cukup bervariasi, meliputi ikan, tikus, tupai, burung, telur, bahkan anakan ular. Selain itu, biawak juga berfungsi sebagai pembersih alami karena turut memangsa bangkai yang dapat mencemari lingkungan, sehingga menjadikannya sebagai satwa scavenger.
Namun, segala manfaat ekologis tersebut tidak membuat biawak terlepas dari ancaman perburuan manusia. Pada beberapa kasus, terdapat laporan biawak memasuki pemukiman dan memangsa ternak ayam, bebek, atau ikan milik warga, sehingga sering kali dianggap hama dan menjadi objek perburuan. Selain alasan tersebut, biawak juga diburu untuk dijual, baik sebagai hewan peliharaan (terutama anakan biawak), sebagai bahan jamu, maupun untuk konsumsi. Hasil buruan biawak kemudian didistribusikan ke berbagai sektor.
Di Indonesia, terutama di Kota Surabaya, cukup banyak warung maupun rumah makan yang menawarkan produk olahan biawak, seperti rica-rica biawak, sate biawak, maupun kerupuk kulit biawak. Olahan ini umumnya dijual bebas bersama makanan ekstrim lain yang mayoritas berasal dari satwa liar hasil tangkapan alam (wild caught).
Padahal, menurut data Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES, 2025), biawak air (Varanus salvator) telah masuk ke dalam daftar Appendix II, sementara kerabatnya, komodo (Varanus komodoensis), lebih dulu masuk Appendix I karena statusnya yang terancam punah.
Pola konsumsi biawak ini juga dipengaruhi faktor budaya. Penelitian oleh Uyeda et al. (2014) menyebutkan bahwa masyarakat di beberapa daerah mempercayai konsumsi sate biawak air sebagai obat berbagai penyakit kulit, misalnya Pityriasis versicolor (panu), Tinea corporis (kurap), eksim (dermatitis atopik), serta untuk menjaga stamina dan mengobati asma. Bagian tubuh lain biawak juga dipercaya secara tradisional memiliki khasiat, seperti kandung empedu yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit jantung, gagal ginjal, dan hati. Namun, hingga kini belum terdapat studi ilmiah yang valid membuktikan klaim tersebut.
Faktanya, menurut Maya Nurwartanti Yunita, drh., M.Si., dosen Patologi Veteriner Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam Universitas Airlangga, konsumsi daging maupun bagian tubuh biawak air dapat menyebabkan penyakit sparganosis. Hal ini disebabkan adanya endoparasit dalam tubuh biawak, salah satunya Spirometra spp. (FIKKIA Unair, 2025).
Peran biawak air dalam menjaga keseimbangan alam, terutama pada ekosistem perkotaan, semakin krusial. Satwa ini berfungsi sebagai pengendali alami hama masyarakat seperti tikus, serta predator terhadap satwa berbahaya lain, misalnya ular kobra. Lonjakan populasi tikus yang meresahkan dan meningkatnya kasus ular kobra memasuki pemukiman dapat diindikasikan sebagai dampak langsung penurunan populasi biawak air akibat perburuan yang tidak terkendali.
Selain pertimbangan ekologis, pola konsumsi biawak juga harus dievaluasi ulang. Fakta bahwa biawak merupakan satwa scavenger sekaligus inang dari endoparasit seperti Spirometra spp. yang dapat menimbulkan sparganosis, memperlihatkan kontradiksi serius terhadap klaim manfaat kesehatannya. Dengan pola makan yang beragam hingga mencakup bangkai, daging biawak berisiko tinggi menjadi perantara penyakit bagi manusia.
Mengingat statusnya dalam CITES Appendix II serta perannya yang tak tergantikan dalam menjaga ekosistem, penting untuk menyikapi isu perburuan Varanus salvator secara bijak dan bertanggung jawab. Upaya menjaga keberlangsungan populasi biawak air bukan hanya persoalan konservasi satwa liar, melainkan juga terkait dengan kesehatan masyarakat serta stabilitas lingkungan urban yang berkelanjutan.
